Laman

Senin, 11 Maret 2013

SUBJEK DAN MUBTADA DALAM KAJIAN SINTAKSIS




I.    PENDAHULUAN
Sering ada anggapan bahwa bahasa arab merupakan bahasa yang sulit dipelajari sehingga menjadi tidak menarik, bahkan ada pihak yang menganggapnya sebagai momok. Banyak factor yang menjadi penyebab terkondisinya hal itu. Ada dua factor yang menjadi penyebabnya yakni factor tenaga pengajar bahasa dan factor pembelajar bahasa, namun penulis memiliki asumsi lain bahwa kendala pembelajaran bahasa arab itu ada kemungkinan disebabkan oleh tidak adanya tali penghubung antara bahan ajar dengan pengetahuan yang telah tertanam pada memori otak pembelajar bahasa. Memperhatikan hal tersebut kini sudah saatnya perlu dicarikan bahan ajar bahasa arab yang sesuai dengan pengetahuan yang telah tertanam pada memori otak pembelajar bahasa arab yang berbahasa Indonesia (ibu). Adapun yang menjadi perhatian penulis adalah bahan ajar sintaksis arab (nahwu). Hal ini dipilih karena penulis sering mendapat pertanyaan dari para pembelajar bahasa arab yang berbahasa ibu bahasa Indonesia yang merasa kesulitan memahami istilah sintaksis dalam bahasa arab. Dengan demikian bagi mereka tentu saja bahasa arab merupakan bahasa asing. Ketika mereka mempelajari bahasa arab baik disadari maupun tidak mereka telah mengetahui system sintaksis bahasa Indonesia.  Diketahui bahwa dalam tataran kalimat ataupun klausa (bahasa Indonesia) satuannya terdiri dari subyek dan predikat, jadi idak mengherankan ketika pembelajar memperoleh istilah fi’il, fa’il, mubtada’ dan khabar dalam bahasa arab, mereka merasakan adanya ketidak jelasan analisis kalimat (subyek) dalam bahasa arab.
Solusi terhadap kesulitan  pembelajar  dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa arab  selalu diupayakan para pengajar bahasa. Cara untuk menyolusikan kesulitan pembelajar itu pun cukup banyak sehingga pengajar bahasa dapat memilih salah satu cara yang dipandang paling tepat. Salah satu solusi untuk mengatasi kesulitannya dengan menggunakan analisis kontrastif yang disini berusaha  membandingkan struktur bahasa indonesia dengan struktur bahasa arab yang dipelajari guna  untuk  mengidentifikasi  persamaan, kemiripan,  dan perbedaan-perbedaan  di  antara  kedua  bahasa dari segi sintaksisnya, kemudian dari situ akan digunakan sebagai landasan dalam memprediksikan kesulitan-kesulitan belajar bahasa arab tersebut, serta nantinya juga akan bertujuan untuk membantu dalam perencanaan pengajaran, penyusunan bahan ajar, serta cara penyampaiannya. Dalam kesempatan kali ini penulis akan menjelaskan ke arah mana tataran sintaksis khususnya perbandingan kategori dan bentuk subjek dalam bahasa kedua (Arab) dan bahasa pertama (Indonesia) dengan mubtada’ dalam bahasa kedua (arab).
II.     PEMBAHASAN
A.    Pengertian Sintaksis
Kata sintaksis berasal dari bahasa yunani  “san” dengan “tattein” yang artinya menempatkan . Jadi kata sintaaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Kata sintaksis dalam bahasa indonesia merupakan kata serapan dari bahasa belanda, syntaxis. Inggris : syntax.
Pada tahun 1981, Ramlan mengatakan sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk frase, wacana, klausa dan kalimat dengan satuan terkecilnya berupa bentuk bebas yaitu kata.  Adapun untuk objek analisisnya itu mengarah pada frasa dan kalimat .
Sintaksis merupakan salah satu unsur kebahasaan yang sangat komplek, setiap bahasa memiliki struktur kebahasaan masing-masing. Dengan demikian, struktur masing-masing bahasa akan berbeda. Perbedaan itu antara lain adalah pola struktur fonologi, morfologi dan sintaksis.
Dalam bahasa arab, pengaturan antar kata dalam kalimat atau antar kaliamat dalam klausa atau wacana merupakan kajian ilmu Nahwu. Bahkan hubungan itu tidak hanya menimbulkan makna gramatikal, tetapi juga mempengaruhi baris akhir masing-masing kata yang kemudian disebut dengan I’rab.
Agar diperoleh gambaran yang jelas mengenai kajian sintaksis, berikut disajikan contoh kalimat: (1) Beberapa mahasiswa sedang berdiskusi di perpustakaan. Kalimat itu terdiri atas satu klausa; beberapa mahasiswa sebagai S (subjek), sedang berdiskusi sebagai P(predikat), dan di perustakaan sebagai K(keterangan). Tiap-tiap fungsi dalam klausa itu terdiri atas satuan yang disebut frase atau kelompok kata, yaitu beberapa mahasiswa, sedang berdiskusi, dan di perpustakaan. Tiap-tiap frase itu terdiri atas dua kata, yaitu beberapa dan mahasiswa membentuk frase beberapa mahasiswa, sedang dan berdiskusi membentuk frase sedang berdiskusi, dan kata depan di dan kata perpustakaan membentuk frase di perpustakaan.   
Dan dalam pembahasan sintaksis yang biasa dibicarakan ialah (1) struktur sintaksis, mencakup fungsi, kategori, dan peran sintaksis, serta alat-alat yang digunakan dalam membangun struktur itu, (2) satuan-satuan sintaksis yang berupa frasa, klausa, kalimat dan wacana, lalu (3) hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis, seperti masalah modus, aspek, dan sebagainya  dan Berbicara tentang tataran sintaksis berarti kita berbicara tentang jabatan-jabatan kata dalam kalimat, Seperti halnya kita sering mendengar istilah-istilah Subyek, Prediket, objek, kata sifat, kata benda, kata keterangan, kalimat aktif, kalimat fasif, dan lain-lain.

B.    Pengertian Subjek dalam bahasa pertama (Indonesia) dan bahasa kedua (arab)
i.    Subyek dalam bahasa pertama (Indonesia)
Dalam pembicaraan struktur sintaksis pertama-tama yang harus dibicarakan masalah fungsi sintaksis, kategori sintaksis dan peran sintaksis, ketiganya tidak dapat dipisahkan. Istilah subyek, predikat, obyek dan keerangan, juga istilah nomina, verba, ajektiv, dan numeralia, begitu juga dengan istilah pelaku, penderita, dan penerima. Kelompok istilah pertama yaitu subyek, predikat, obyek dan keterangan adalah peristilahan yang berkenaan dengan fungsi sintaksis. Kelompok kedua yaitu istilah nomina, verba, ajektiv dan numeralia adalah peristilahan yang berkenaan dengan kategori sintaksis, sedangkan kelompok ketiga yaitu istilah pelaku, penderita dan penerima adalah peristilahan yang berkenaan dengan peran sintaksis. Begitu banyak peristilahan akan tetapi disini penulis hanya membatasi penjelasan pada makalah ini hanya pada fungsi sintaksis yang sebagai subyek dalam bahasa Indonesia.  Pengerian dari subyek yaitu unsur kalimat atau klausa yang dijelaskan oleh unsur lain dalam kalimat yang bersangkutan . Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subyek (S), predikat (P),, obyek (O), dan keterangan (K). masalah kita sekarang apakah fungsi-fungsi sintaksis itu, dan apakah isi serta peranannya dalam linguistic. Fungsi-fungsi sintaksis itu terdiri dari unsur-unsur S, P, O, K itu merupakan kotak-kotak kosong atau tempat-tempat kosong yang tidak memiliki arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat kosong-kosong itu akan diii oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu, penulis mengambil contoh: zaka melirik zaki tadi pagi,
Tempat kosong yang bernama subyek         = zaka         = berkategori nomina
Tempat kosong yang bernama predikat     = melirik     = berkaegori verba
Tempat kosong yang bernama obyek         = zaki         = berkategori nomina
Tempat kosong yang bernama keterangan     = tadi pagi     = nomina (frasa)
Pengisi fungsi-fungsi itu yang berupa kategori sintaksis memiliki peran-peran sintaksis, “zaka” memiliki peran pelaku atau agentif, “melirik” memiliki peran aktif, “zaki” memiliki peran sasaran, dan “tadi pagi” memiliki peran waktu.
Sekarang bagaimana kalau kalimat “zaka melirik zaki tadi pagi” itu dipasifkan dan menjadi “zaki dilirik zaka tadi pagi”, apakah peran-perannya masih tetap sama? Dalam kalimat pasif tersebut kata “zaki ” yang tadinya menjadi fungsi obyek, sekarang mengisi fungsi subyek dan peran tetap sasaran, verba pasif “dilirik” sebagai ubahan dari verba aktif melirik sekarang berperan pasif, “zaka” yang semula mengisi fungsi subyek sekarang mengisi fungsi obyek dengan peran tetap pelaku, dan frase “tadi pagi” tetap mengisi fungsi keterangan dengan peran yang tetap juga yaitu peran waktu.
Masalah kita sekarang sehubungan dengan kategori subyek, apakah struktur sintaksis selalu berurutan S, P, O,K seperti diatas?dan apakah setiap fungsi harus selalu diisi oleh kategori tertentu?
Pada pertanyaan diatas dapat dijawab bahwa susuna fungsi sintaksis tidak harus selalu berurutan S, P, O, K, misalnya: “keluarlah zaka dari kamarnya”, memiliki susunan fungsi P, S, dan K, demikian juga fungsi K dalam kalimat berikut mempunyai posisi yang tidak sama, misalnya:
“tadi pagi zaka melirik zaki”,
“zaka tadi pagi mellirik zaki”,
“zaka melirik zaki tadi pagi”, yang tampaknya urutannya harsu selalu tetap adalah fungsi P dan O sebab kalimat berikut tidak berterima:
“zaka melirik tadi pagi zaki”, kalimat tersebut tidak memiliki fungsi obyek, jadi memang keempat fungsi itu tidak ahrsu selalu ada dalam setiap struktur sintaksis.
ii.    Subyek dalam bahasa kedua (bahasa arab)
Dalam bahasa Arab istilah klausa kurang dikenal oleh para pengkaji sintaksis bahasa Arab. Hal tersebut terjadi karena di dalam buku-buku induk ilmu nahwu sendiri tidak ada istilah khusus mengenai klausa. Di dalam buku-buku nahwu terdapat tiga istilah kunci yaitu: kalimah, jumlah, dan kalam. Jumlah dan kalam adalah istilah dalam bahasa Arab yang lazim disepadankan dengan kalimat dalam bahasa Indonesia, sedangkan kalimah lazim disepadankan dengan kata.
Namun demikian, Al-Ghalayaini  dalam bukunya yang berjudul jami’ ad-durus al-lugah arabiyah membedakan istilah jumlah dengan kalam. Menurutnya jumlah- disebut juga dengan  مركب اسنادىadalah konstuksi yang terdiri dari S مسند اليه)) dan P (مسند). sedangkan kalam adalah konstruksi yang terdiri atas S dan P, mengandung makna yang utuh, dan dapat berdiri sendiri. Dari definisi yang dikemukakan Al-Ghalayani tersebut dapat diartikan bahwa jumlah memang terdiri dari S dan P, tetapi tidak harus mengandung makna yang utuh dan tidak harus dapat berdiri sendiri. Dengan demikian, definisi jumlah yang dikemukakan Al-Ghalayaini dapat disepadankan dengan klausa. Sedangkan, kalam dipadankan dengan kalimat.
Pada pembahasan diatas, Al-Ghalayaini mengindikasikan klausa dengan jumlah atau  مركب اسنادى , dengan demikian jenis klausa dalam bahasa arab ada lima, jika kita melihat dari pembagian مركب اسنادى, yaitu; susunan مبتدأ وخبر, فعل وفاعل , اسم كان وخبرها  ,   ونائبه , اسم ان وخبرها  و فعل مجهول namun demikian, penulis  akan mencoba membandingkan  antara kategori subjek dan mubtada’ dalam kajian sintaksis (Studi analisis kontrastif). Dalam kajian analisis kontrastif ini penulis sengaja membandingkan kategori subjek dalam bahasa Indonesia dengan salah satu cabang dari musnad ilaih yakni mubtada’.
Mubtada’ secara bahasa ialah sesuatu yang diterangkan, sedangkan menurut istilah mubtada’ yaitu isim yang dibaca rofa’ yang tidak didahului ‘amil lafdzi. Biasanya mubtada’ itu identik dengan khobar (yang menerangkan / isim yang menjadi pelangkap mubtada’). Adapun susunan mubtada’ dan khobar ini dalam bahasa Arab disebut dengan susunan Jumlah Ismiyah . Mubtada’ ada dua macam: 1. Mubtada’ yang mempunyai Khobar, contoh: زيد ناصر = Zaid Menolong. 2. Mubtada’ yang hanya mempunyai fa’il yang menduduki tempatnya khobar, contoh:    أسارٍ ذانِ= Apakah kedua orang ini sedang melakukan perjalanan?
Mubtada’ merupakan  pokok kalimat yang umumnya berupa kata benda (isim) dan khabar, bisa berupa isim, fi’il (jumlah fi’liyyah) , jumlah ismiyyah atau syibh al-jumlah, yakni jar majrur atau zarf sebagai penjelas mubtada’. Contoh Jumlah Ismiyyah:
حسان مدرس هو عالم,  حسان يدرس اللغة العربية, حسان في البيت ؛ هو أمام التلفزيون
Struktur Jumlah Ismiyyah tidak selalu diawali oleh mubtada’ , bahkan jika mubtada’ tidak berupa isim ma’rifat maka jumlah tersebut pada umumnya diawali oleh khabar , yaitu jika mubtada’ nya berupa isim nakirah dan khabarnya berupa jar majrur atau zarf. Misalnya: في المسجد مسلمون ؛ على المنبر خطيب
(Di dalam masjid ada orang-orang Islam, di atas mimbar ada seorang khatib)
Jika mubtada ‘ yang nakirah di atas dirubah menjadi ma’rifah maka sttrukturnya bisa dikembalikan ke struktur semula yakni mubtada’ – khabar, tetapi boleh juga masih tetap khabar-mubtada’. Jadi boleh :  المسلمون في المسجد” “atau
 ”في المسجد المسلمون” . Perbedaan kalimat yang terakhir ini adalah perbedaan antara makna isim ma’rifah dan isim nakirah, yakni pengertian yang sudah tertentu dan yang belum tertentu. Adapun perbedaan antara kalimat  المسلمون في المسجد” “dengan kalimat في المسجد المسلمون”  ” adalah pada gagasan yang ingin ditekankan. Yang pertama lebih menekankan sebuah gagasan yang berupa “orang-orang Islam”, yang kedua lebih menekankan gagasan yang berupa “di dalam masjid”.
Sedangkan mubtada’ itu sendiri mempunyai beberapa syarat – syarat, yaitu:
1.    Isim yang menjadi mubtada berupa isim ma’rifat (boleh berupa isim nakirah, akan tetapi disertai dengan syarat dan ketentuan tertentu). Sedangkan yang termasuk dalam isim Ma’rifat itu meliputi:
1.    Isim Dhomir (kata ganti)
2.    Isim ‘Alam (nama)
3.    Isim Isyaroh (kata tunjuk)
4.    Isim Mausul (kata penghubung)
5.    Alif dan Lam (ال )
6.    Susunan Idhofah yang mudhof ilaihnya berupa isim ma’rifat.
2.    Mubtada berupa isim yang beri’robkan rofa’.
3.    Bebas dari ‘amil Lafdzi seperti fa’il atau naibul fa’il.
Adapun syarat dan ketentuan untuk isim nakiroh yang ingin dijadikan mubtada diantaranya:
a. Hendaknya mubtada nakiroh di dahului oleh nafi atau istifham contoh: مارحل قائم
b. Hendaknya mubtada nakiroh di sifati contoh:و لعبد مؤمن خير
c. Hendaknya mubtada nakiroh di mudhofkan contoh:خمس صلوات كتبهن الله
Mubtada’ itu tidak selamanya bertempat di depan. Adakalanya ia berada setelah khobar.  Mubtada’ yang diakhirkan atau terletak di akhir kalimat dinamakan Mubtada’ Muakhor dan Khobar yang di awalkan atau terletak di awal kalimat dinamakan Khobar Muqoddam.
Contoh:جانبَ المعهد بيتٌ جميلٌ  “di samping pesantren terdapat rumah yang bagus”. Kata”جانب المعهد”  berkedudukan sebagai Khobar Muqoddam dan kataبيتٌ جميلٌ  berkedudukan sebagai Mubtada’ Muakhor.
Khobar itu harus didahulukan atas Mubtada’ dengan syarat sebagai berikut:
a.    Mubtada’ berupa Isim Nakiroh (kata benda yang bermakna umum), sedangkan khobarnya berupa Syibhul Jumlah (penyerupaan kalimat). Contoh:فى الجامعةِ فصولٌ  “di dalam kampus terdapat beberapa kelas”. Kata فى المكتبة  berkedudukan sebagai Khobar Muqoddam yang berbentuk Syibhul Jumlah ( penyerupaan kalimat ) dan kataفصولٌ  berkedudukan sebagai Mubtada’ Muakhor yang berbentuk Isim Nakiroh ( kata benda yang bermakna umum ).
b.    Mubtada’ tersebut adalah ism fa’il atau ism maf’ul mufrod/ tunggal dan didahului dengan nafi atau istifham, misalnya
مَا قائِمٌ الرَجُلانِ, مَا مَضْروبٌ الناجِحان,
c.    Fa’il atau na’ib al-fa’il terdiri dari ism dhohir atau dlomir munfasil, misalnya:
مَا حَاضِرٌ التِلْمِيْذُ, , مَا مَحْبُوْبٌ الكَسْلانُ
d.     Khobar berupa kata tanya ( isim istifham . Contoh:  أين الأستاذ؟”di mana ustadz ?” Kata أين berkedudukan sebagai Khobar Muqodam yang berbentuk kata tanya dan kata  الأستاذ berkedudukan sebagai Mubtada’ Muakhor yang berbentuk benda yang ditanyakan .
C.    Klasifikasi Persamaan, Kemiripan, dan Perbedaan Subjek Bahasa Indonesia dengan Mubtada’ yang ada dalam bahasa Arab
Dari paparan yang telah jelaskan di atas, penuis di sini akan mengklasifikasikan tentang persamaan, kemiripan, dan perbedaan dalam perbedaan subjek bahasa indonesia dengan mubtada’ yang ada pada bahasa arab dalam analisis kontrastif, sebagai berikut:
i.    Klasifikasi persamaan  subyek bahasa Indonesia dengan mubtada’ dalam bahasa arab
Jika penulis amati dari pemaparan diatas subyek dari segi sintaksis memiliki beberapa persamaan, diantaranya sama – sama memiliki pola dalam sebuah kalimat dan memiliki aturan – aturan tersendiri dalam penggabungan dan menyusuun sebuah kalimat.
Dalam bahasa arab kesamaan ada pada letak mubtada’ yang berkategori nakiroh (disifati & dimudhofkan) dengan bahasa indonesia yang berbentuk frasa/klausa.
Letak subjek antara bahasa arab dengan bahasa indonesia sama-sama bisa ditaruh di depan dan di belakang. Yang mana, bahasa arab ini masuk dalam kategori susunan mubtada’ dan khobar muqoddam, serta mubtada’ muakhor.
ii.    Klasifikasi kemiripan  subyek bahasa Indonesia dengan mubtada’ dalam bahasa arab
Kemiripan antara bahasa arab dan bahasa Indonesia terletak pada mubtada’ yang berupa isim nakiroh yang didahului nafi dan istifham, sedangkan dalam bahasa Indonesia dengan mempertanyakan apa dan siapa.
iii.    Klasifikasi perbedaan  subyek bahasa Indonesia dengan mubtada’ dalam bahasa arab
Perbedaan struktur kalimat nominal dan verbal, perbedaan aturan itu akan mempengaruhi pula dalam memahami bahasa Arab, misalnya,  ذ هب احمد الى السوق maka arti yang menurut susunan bahasa Indonesia adalah Pergi Ahmad ke pasar. Dan ini janggal menurut bahasa Indonesia.
Perbedaan pola kalimat mulai dari Pola pendahuluan obyek, misalnya السيارة سيركبها احمد ( O-P-S) pola ini asing dalam bahasa Indonesia
Adanya persesuaian antara kata dalam kalimat dari Kesesuaian I’rab/ harokat/ bunyi kahir kata , contoh كتاب جميل, كتابا جميلا dan Kesesuaian jenis kata contoh kata كتاب جميل, مدرسة جميلة sedangakan dalam bahasa Indonesia tidak ada.
Dalam mubtada’ I’rob Rafa’ tidak ada persamaan dengan subyek di bahasa Indonesia  karena dalam bahasa Indonesia tidak ada susunan I’rob.
Mubtada’ dalam bahasa arab dan subyek pada bahasa Indonesia perbedaannya pada salah satunya terdiri bahasa tersebut yakni, dalam bahasa Indonesia memiliki struktur SPOK dan memiliki nama – nama baku dalam pengklasifikasian struktur kalimat seperti frase, klaimat dan klausa, kalau dalam  ilmu nahwu sendiri yang terdapat dalam bahasa arab yang dijadikan panduan yang baku untuk menentukan kaidah – kaidah dalam struktur kalimat bahasa arab.
Struktur kalimat bahasa Arab lebih banyak menggunakan struktur “jumlah fi’liyah”, sedangkan bahasa Indonesia biasa menggunakan struktur “jumlah ismiyah”. Sementara itu, dalam bahasa Indonesia, unsur subjek biasanya selalu berada di awal kalimat, yang kemudian diikuti oleh unsur predikatnya.
Dalam kalimat pasif  (jumlah majhul) bahasa Arab, selalu tidak menyebutkan subjek pelakunya, sedangkan dalam struktur kalimat pasif bahasa Indonesia, sangat sering disebutkan subjek pelakunya.
Selain itu, banyak pula kita jumpai dalam bahasa Arab beberapa ungkapan yang berbentuk pasif (majhul) tetapi bermakna aktif (ma’lum) dalam bahasa Indonesia, seperti ungkapan سُرِرْتُ بِلقائك” “   yang jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Saya senang bertemu anda”  bukan “Saya disenangkan dengan bertemu anda”.
Kalimat bahasa Arab sangat menekankan adanya kesesuaian antar berbagai unsur kalimat, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak mengenal kesesuaian tersebut. Dalam gramatika bahasa Arab, persoalan kesesuain merupakan hal penting yang harus difahami dan diperhatikan. Ada beberapa kesesuaian yang lazim dalam bahasa Arab, yaitu: (1) kesesuaian antara subjek dan predikatnya baik berupa kata kerja (fi’il) maupun khabarul mubtada; (2) kata ganti (dhamir); dan (3) struktur shifat dan maushufnya.
D.    Prediksi Kesulitan atau Kesalahan dalam perbandingan subjek bahasa Indonesia dengan mubtada’ dalam bahasa arab
Kesulitan atau kesalahan dalam mempelajari bandingan subyek bahasa Indonesia dengan mubtada’ pada bahasa arab dari analisis kontrastif dbidang sintaksis dimulai dari:
Dalam tataran praktis para pemula baik orang Arab apalagi non Arab merasa kesulitan dalam pembelajaran ilmu nahwu sharaf  ini khususnya yang berkaitan dengan subyek pada bahasa arab yakni mubtada’, dan khususnya ilmu nahwu yang disebabkan karena begitu kompleknya kaidah-kaidah nahwu. Bagi pelajar Indonesia merasakan kesulitan ini dikarenakan kaidah nahwu sangat jauh berbeda dengan kaidah bahasa Indonesia.
Nahwu disusun disamping untuk memudahkan orang untuk mempelajari bahasa Arab juga dapat sebagai alat bantu agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan dalam penggunaan bahasa Arab sebagai alat komunikasi baik tulisan maupun lisan. Karena terjadinya kesalahan tidak hanya berakses terhadap kesulitan orang kedua dalam memahami pesan, tetapi juga merubah makna pesan dari yang dimaksud oleh penyampai pesan. Sehingga siapapun yang belajar atau mengajar bahasa Arab, mutlak untuk memahami struktur sintaksis (nahwu).
Mayoritas orang yang belajar nahwu merasa kesulitan dalam menguasai materi nahwu, khususnya non Arab, hal tersebut dikarenakan materi nahwu yang cukup banyak dengan aturan -aturan yang sangat rumit.  beberapa kesulitan itu disebabkan karena;  pertama; banyaknya topik-topik pembahasan materi nahwu yang antara satu sama lain memiliki perbedaan yang tipis, kedua contoh-contoh yang dipakai dalam menjelaskan materi adalah contoh-contoh yang tidak situasional dan jauh dari kehidupan sehari-hari peserta didik. Ketiga, adanya teori amil ( perubahan harakat/ sakl di akhir kata, keempat kaidah-kaidah perubahan huruf dalam sebuah kata.
Namun sebaliknya peserta didik akan lebih mudah mempelajari subyek yang tersusun dari mubtada’ khobar atau jumlah ismiyah dikarenakan susunan itu sama dengan susunan yang ada dalam  bahasa pertama( subyek, predikat).
E.    Materi ajar dalam perbandingan  subjek bahasa indonesia dengan mubtada’ pada bahasa arab
Berdasarkan asas-asas  pembelajaran yang mengatakan bahwa  kegiatan belajar mengajar itu dimulai dari hal paling mudah ke ke hal yang paling sulit. Oleh sebab itu dalam penyusuan materi subyek bahasa arab dimulai dari kaidah – kaidah yang sama -sama terdapat dalam kedua bahasa. Dalam permasalahan ini kita fokuskan dahulu pada materi mubatada’ dan khobar ( jumlah ismiyah). Lalu setelah peserta dirasa sudah cukup untuk menguasai materi tersebut, baru diberikan materi pembentukan subyek melalui kaidah – kaidah yang lain  (Fail dan Naibul Fail Beserta I’rob-I’robnya.
H.    Metode dan Langkah-langkah pengajaran perbandingan subyek bahasa indonesia dengan mubtada’ pada bahasa arab
Berdasarkan analisis kontrastif diatas, maka saya mengajukan metode Qowa’id wa tarjamah untuk diterapkan dalam pengajaran sintaksis mengenai Subjek bahasa indonesia dengan mubtada’ dalam bahasa arab.
Metode Qowa’id wa tarjamah merupakan metode yang dalam penerapannya banyak menekankan pada penggunaan nahwu (tata bahasa) dan praktek penerjemahan dari bahasa asing ke dalam bahasa pelajar.  Asumsi yang mendasari metode Qowa’id wa tarjamah menyatakan bahwa semua bahasa di dunia pada dasarnya sama dan tata bahasa adalah cabang dari logika. Maka dalam melihat titik kesamaan itu perlu dilakukan kajian tata bahasa asing yang dipelajari dan untuk melihat pokok pikiran yang terkandung oleh tulisan bahasa asing yang dipelajari, perlu diadakan kegiatan transformasi (penerjemahan) kosa kata maupun kalimat dalam bahasa asing ke dalam bahasa pelajar sehari-hari. Jadi dapat dijelaskan bahwa dasar pokok metode ini adalah hafalan kaidah, analisis gramatika, lalu terjemahannya ke dalam bahasa yang digunakan sebagai pengantar pelajaran. Oleh karenanya fokus metode ini lebih mementingkan ketrampilan membaca dan menulis dibanding dengan kalam dan istima’.
Adapun langkah-langkah penerapan metode Qowa’id wa tarjamah yang dapat dilakukan oleh guru bahasa Arab sebagai berikut :
a.    Pendahuluan, memuat sekilas mengenai materi yang akan disampaikan.
b.    Guru memberikan pengenalan dan definisi kaidah-kaidah tertentu dalam bahasa Arab yang harus dihafalkan dan dicatat oleh siswa berkaitan dengan materi yang akan disajikan, beserta terjemahannya dalam bahasa pelajar.
Contoh: jika materi yang akan disajikan mengandung kaidah mubtada’-khabar maka, dapat menggunakan langkah-langkah :
     Mengenalkan konsep mubtada’-khabar beserta definisi keduanya dan terjemahannya ke dalam bahasa pelajar.
     Memberikan contoh-contoh mengenai mubtada’-khabar seperlunya, dan jika diperlukan mengadakan perbandingan dengan kaidah bahasa pelajar sehari-hari untuk membantu pemahaman para pelajar.
     Setelah para pelajar benar-benar memahami konsep mubtada’-khabar, guru membimbing mereka untuk menerapkan kaidah tersebut dalam teks yang telah disediakan.
c.    Guru memberikan teks bahasa arab mengenai suatu tema (diambil dari buku pegangan), lalu mengajak para siswa untuk menerjemahkan teks bacaan tersebut dan selanjutnya dicocokkan dengan kaidah-kaidah yang telah dihafalkan dan dipelajari sebelumnya.  
Contoh teks bacaan :
(مكتبة المدرسة)
يوسف يدرس فى المدرسة العالية. هو يحب ان يقراء القصص العربية فى وقت الإستراحة. وهو يريد ان يذهب إلي المكتبة. وفى المكتبة كتب كثيرة. ويدعو يوسف سالم ان يرافقه فى المكتبة. سالم يرافقه بكل سرور.
III.    KESIMPULAN
Dari segala bentuk uraian di atas, saya  dapat memberi kesimpulan bahwasannya dalam perbandingan subjek bahasa indonesia dengan mubtada’ pada bahasa arab melalui study analisis kontrastif bidang sintaksis yakni dilihat dari segi makna, istilah subyek dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Arab adalah sama. Walaupun istilah subyek  sendiri tidak di kenal oleh para pengkaji bahasa Arab. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal istilah subjek (S) dan predikat (P), dalam bahsasa arab kedua istilah ini dikenal dengan musnad dan musnad ilaih. Musnad ilaih berpadanan dengan subjek (S) sedangkan, musnad berpadanan dengan predikat (P).
Jadi struktur kalimat akan sangat menentukan bacaan I’rab (perubahan pada akhir kata, baik yang berupa harakat atau huruf) dan makna, sebaliknya makna kalimat juga menentukan ketepatan struktur kalimat, khususnya kalimat yang kata-katanya tidak bersyakal.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, cet: 2, 2003)
Bahauddin Abdulloh Ibnu ‘Aqil, Terjemah Alfiyah Syarah Ibnu ‘aqil, juz 1, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, cet. 8, 2007)
Chaedar Alwasilah, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (bandung: PT , Remaja Rosdakarya, 2011)
Hifni Bek Dayyab dkk. Kaidah Tata Bahasa Arab, Nahwu-Shorof-Balaghoh-Bayan-Ma’ani-Bade’, (Jakarta: Darul Ulum, cet. 3, 1991)
J.D. Parera, Dasar-Dasar Analisis Sintaksis, (Jakarta: Erlangga, 2009)
M. Abdul Hamid, M.A dkk., Pembelajaran Bahasa Arab pendekatan, metode, strategi, dan media, (Malang: UIN-Malang Press, 2008)
Mansoer pateda, Linguiustik ( sebuah pengantar ), (Bandung: Angkasa)
Markhamah, dkk, Sintaksis 2 (Keselarasan fungsi, kategori&peran dalam klausa), (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2010)
Sahkholid, Pengantar Linguistik ( analisis teori-teori  linguistik umum dalam bahasa arab), (Medan: Nara Press, 2006)
Sukini, sintaksis sebuah panduan prkatis, (Surakarta: Yuma pustaka, 2010)
http://cahbuntupiping.blogspot.com/2012/04/mubtada-dan-khobar.html, diakses pada 04-Mei-2012, pukul 10.47 AM. http://riungsastra.wordpress.com/2010/09/23/klausa-dalam-bahasa-indonesia-dan-arab/ (diakses pada  2 mei 2012) http://sulufiyyah.blogspot.com/2009/11/mubtada-dan-khobar.html, diakses pada 04-Mei-2012, Pukul 10.35 AM.

Kamis, 07 Maret 2013

JENIS-JENIS KLAUSA

 I. Pendahuluan

1.1  Latar Belakang
Bahasa  adalah fenomena yang menghubungkan dunia makna dan dunia bunyi. Lalu, sebagai penghubung diantara kedua dunia itu, bahasa dibangun oleh tiga buah komponen, yaitu komponen leksikon, komponen gramatika, dan komponen fonologi (Chaer, 2009:1). Sistem gramatika biasanya dibagi atas subsistem morfologi dan subsistem sintaksis. Subsistem sintaksis membicarakan penataan dan pengaturan kata-kata itu kedalam satuan-satuan yang lebih besar, yang disebut satuan-satuan sintaksis, yakni kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana (Chaer, 2009:3).
 Dilihat dari segi bentuknya, kalimat dapat dirumuskan sebagai salah satu konstruksi sintaksis yang terdiri dari dua kata atau lebih. Hubungan struktural antara kata dan kata, atau kelompok kata dengan kelompok kata yang lain berbeda-beda. Antara “kalimat” dan “kata” terdapat dua satuan sintaksis antara, yaitu “klausa”dan “frase”. Klausa merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata, atau lebih, yang mengandung unsur predikasi. Sedangkan frase merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata, atau lebih, yang tidak mengandung unsur predikasi  (Hasan Alwi, 2003:312). Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dikatakan bahwa klausa berkedudukan sebagai bagian dari suatu kalimat, dan oleh karena itu klausa tidak dapat dipisahkan dari kalimat.
Untuk keperluan  berbahasa sehari-hari yang baik dan benar, baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis, dituntut kemampuan untuk  membuat konstruksi kalimat yang baik dan benar pula.  Maka pengetahuan tentang jenis-jenis klausa dan strukturnya  menjadi sangat penting, karena sebuah kalimat merupakan satuan sintaksis yang terdiri dari satu atau lebih klausa.
1.2    Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah:
         1.      Apakah yang dimaksud dengan klausa?
         2.      Apa sajakah jenis-jenis klausa berdasarkan  distribusinya?
         3.      Apa sajakah jenis-jenis klausa berdasarkan  ada tidaknya unsur negasi pada predikat?
         4.      Apa sajakah jenis-jenis klausa berdasarkan  kategori pengisi fungsi predikat?
1.3 Tujuan
Bertolak dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan :
1.  pengertian klausa,
2.  jenis-jenis klausa berdasarkan  distribusinya,
3.  jenis-jenis klausa berdasarkan  ada tidaknya unsur negasi pada predikat,
4.  jenis-jenis klausa berdasarkan  kategori pengisi fungsi predikat.
        
II. Pembahasan
2.1  Pengertian klausa
            Klausa adalah satuan sintaksis yang bersifat predikatif. Artinya, didalam satuan atau konstruksi itu terdapat sebuah predikat, bila dalam satuan itu tidak terdapat predikat, maka satuan itu bukan sebuah klausa (Chaer,2009:150).
            Klausa merupakan  satuan gramatik yang terdiri atas subjek dan predikat, baik disertai objek, pelengkap, dan keterangan maupun tidak (Ramlan melalui Sukini, 2010:41). Sedangkan Cook melalui Tarigan (2009:76) memberikan batasan bahwa klausa adalah kelompok kata yang hanya mengandung satu predikat. Dengan ringkas, klausa ialah S P (O) (PEL) (KET). Tanda kurung menandakan bahwa yang terletak dalam kurung itu bersifat manasuka, artinya boleh ada, boleh juga tidak ada (Sukini, 2010:41-42).
            Ramlan melalui Tarigan (2009: 43) menjelaskan bahwa klausa ialah bentuk linguistik yang terdiri dari subjek dan predikat.
            Menurut pendapat Arifin (2008:34) klausa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa atau gabungan kata itu berpotensi menjadi kalimat.
            Istilah klausa dipakai untuk merujuk pada deretan kata yang paling tidak memiliki subjek dan predikat, tetapi belum memiliki intonasi atau tanda baca tertentu. Istilah kalimat juga mengandung unsur paling tidak memiliki subjek dan predikat, tetapi sudah dibubuhi  intonasi atau tanda baca tertentu.  (Alwi, 2003:39).
            Dari batasan-batasan tersebut dapat diketahui bahwa klausa :
a.       merupakan deretan kata yang merupakan satuan gramatik, satuan sintaksis atau bentuk linguistik,
b.      meliliki hanya satu predikat,
c.       mengandung unsur S P (O) (PEL) (KET),
d.      belum memiliki intonasi akhir atau tanda baca tertentu.
Jadi tidak semua kelompok kata dapat dikatakan sebagai klausa, karena kata yang membentuk konstruksi klausa harus mengandung  ciri-ciri tersebut.
2.2 Pengklasifikasian  Klausa
            Dalam bahasa Indonesia terdapat bermacam-macam klausa. Berikut dipaparkan jenis-jenis klausa berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.
2.2.1 Bagan klasifikasi klausa (Sukini, 2010:47).
 

Flowchart: Alternate Process: Berdasarkan Kelengkapanun Unsur IntinyaFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan  Kategori Pengisi Fungsi PredikatFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan  Ada Tidaknya Unsur Negasi pada PredikatFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan  DistribusinyaFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan Struktur Internalnya                                                           
                                                                                                                            

















Flowchart: Alternate Process: 1. Klausa positif
2. Klausa negatifFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa bebas
2. KlausaterikatFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa runtut
2. Klausa inversiFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa lengkap
2. Klausa tak lengkapFlowchart: Alternate Process: Klausa nonverbalFlowchart: Alternate Process: Klausa verbal                                                                                                                                         
                                                                                                                 








Flowchart: Alternate Process: 1. Klausa transitif
2. Klausa intransitifFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa nominal
2. Klausaadjektival
3. Klausa numeral
4. Klausapreposisional                                                                                                                                         
2.2.2 Jenis-jenis klausa dipandang dari berbagai segi(Tarigan, 2009:94).
klausa dipandang dari segi
distribusi unit
jenis kata predikat
struktur internal
hubungan aktor aksi
fungsi
bebas
verbal
transitif
aktif

pasif
media
resiprokal
intransitif

non-verbal
statif

ekuasional
terikat




nominal
adjektival
adverbial
            Klasifikasi klausa (Arifin, 2008: 34)




Flowchart: Alternate Process: Berdasarkan  FungsiFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan Distribusi SatuanFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan  Struktur                                                           
                                                                                                                            











Flowchart: Alternate Process: Menduduki fungsi:
1. Subjek
2. Objek
3. Keterangan
4. BerpelengkapFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa bebas
2. KlausaterikatFlowchart: Alternate Process: Klausa nonverbalFlowchart: Alternate Process: Klausa verbal                                                                                                                                         
                                                                                                                 








Flowchart: Alternate Process: 1. Klausa aktif transitif
2. Klausa aktif tak transitif
2. Klausa PasifFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa nominal
2. Klausaadjektival
3. Klausa numeral
4. Klausapreposisional                                                                                                                                         
2.3  Klasifikasi Klausa Berdasarkan  Distribusinya
Berdasarkan  distribusi unitnya, klausa diklasifikasikan atas klausa bebas, dan klausa terikat (Cook melalui Tarigan ,2009: 76).
Sedangkan menurut Arifin (2008: 34), berdasarkan distribusi satuannya, klausa dapat dibagi menjadi klausa bebas dan klausa terikat.
 2.3.1 Klausa Bebas
Klausa bebas dalam kalimat majemuk subordinatif disebut klausa atasan, dan klausa terikat disebut klausa bawahan (Chaer,2009:161). Disebut klausa bebas jika unsur-unsur fungsinya lengkap dan jika diberi intonasi final dapat menjadi kalimat. Sedangkan  klausa terikat unsur-unsur fungsinya tidak lengkap.
            Klausa Bebas adalah klausa yang mampu berdiri sendiri sebagai kalimat sempurna, tidak menjadi bagian yang terikat pada klausa yang lain (Sukini, 2010:44).
            Arifin (2008: 34) mengatakan bahwa klausa bebas adalah klausa yang berpotensi menjadi kalimat lengkap.
Contoh :
a.       mari bernyanyi
b.      Universitas PGRI memperhatikan minat mahasiswa
c.       jangan bersuara
d.      ayah membuat layang-layang
e.       saya akan datang
2.3.2  Klausa Terikat
Klausa terikat adalah klausa yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kalimat sempurna, dan  menjadi bagian yang terikat dari konstruksi yang lain (Sukini, 2010:44).
Cook melalui Tarigan (2009: 52) menjelaskan bahwa Klausa terikat adalah klausa yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat sempurna; hanya mempunyai potensi sebagai kalimat tak sempurna.
Arifin (2008: 34) mengatakan bahwa klausa terikat adalah klausa yang tidak berpotensi menjadi kalimat lengkap, tetapi hanya berpotensi menjadi kalimat minor.
Dari ketiga pendapat tersebut yang menjadi kesepakatan dalam batasan klausa terikat adalah potensinya tidak akan menjadi kalimat sempurna dan tidak dapat berdiri sendiri.
Contoh :
a.       meskipun telah mengumpulkan makalah...
b.      jika hanya menyalin...
c.       biarpun kecil...
d.      karena hari sudah malam...
e.       ...kalau diundang
2.4  Klasifikasi Klausa Berdasarkan  Ada Tidaknya Unsur Negasi pada Predikat
Berdasarkan  ada tidaknya unsur negasi pada predikat, klausa diklasifikasikan atas klausa positif, dan klausa negatif (Ramlan melalui Sukini, 2010:45).
2.4.1 Klausa Positif
Klausa positif  ialah klausa yang tidak memiliki kata negasi/pengingkaran pada fungsi Predikat.
Contoh:
a.       mereka diliputi oleh perasaan senang
b.      mertua itu sudah dianggap sebagai ibunya
c.       pak ketua hadir hari ini
d.      Lili seorang penari
e.       orang tuanya masih ada
f.       yang dicari hanya dia
2.4.2  Klausa Negatif
Klausa negatif ialah klausa yang predikatnya memiliki unsur negasi. Unsur negasi adalah unsur yang mengandung pengingkaran, seperti kata tidak, tak, bukan, tiada, belum, dan jangan.
Contoh:
a.    orang tuanya sudah tiada
b.   yang dicari bukan dia
c.    pak ketua tidak hadir hari ini
d.   tak seorangpun  yang mau
e.    mertua itu masih belum dianggap sebagai ibunya
f.    mereka bertanding tanpa pelatih
2.5  Klasifikasi Klausa Berdasarkan  Kategori Pengisi Fungsi Predikat
Berdasarkan  kategori pengisi fungsi predikat, klausa diklasifikasikan atas klausa verbal, dan klausa nonverbal (Cook melalui Tarigan, 2009:76).
Sedangkan menurut Arifin (2008: 38), berdasarkan strukturnya, klausa dapat dibedakan menjadi klausa verbal dan klausa nonverbal.
Menurut Chaer (2009: 151), berdasarkan  kategori pengisi fungsi P dapat dibedakan adaanya: klausa verbal, klausa nominal, klausa ajektifal, klausa preposisional, klausa numeral.
Dalam pembahasan ini klasifikasi klausa berdasarkan  kategori pengisi fungsi predikat terdiri dari klausa verbal dan klausa nonverbal. Klausa verbal terbagi menjadi klausa transitif  dan klausa intransitif. Klausa transitif berdasarkan hubungan aktor aksi,diklasifikasikan menjadi klausa aktif, klausa pasif, klausa medial dan klausa resiprokal. Klausa nonverbal terdiri atas klausa nominal, adjektival, numeral, dan preposisional.
2.5.1 Klausa Verbal
Klausa Verbal adalah klausa yang predikatnya berkategori kata kerja (Sukini, 2010:46). Klausa Verbal adalah klausa yang berpredikat verbal (Tarigan, 2009:77).
Arifin (2008: 38) mengatakan bahwa klausa verbal adalah klausa yang predikatnya verba.
Jadi klausa verbal memiliki predikat yang berupa kata kerja.
Contoh:
a. petani mengerjakan sawahnya dengan tekun
b. dengan rajin, bapak guru memeriksa karangan murid
c. mereka memancing di sungai
d. kita  menyanyi  bersama
e. adik menangis
f. kami bermain bola
Berdasarkan struktur internalnya, klausa verbal dapat dibedakan menjadi dua, yaitu klausa transitif  dan  klausa intransitif (Tarigan, 2009:77).
Menurut Arifin (2008: 38), klausa verbal terdiri atas klausa verbal aktif transitif dan klausa verbal aktif tak transitif.
2.5.1.1 Klausa Transitif 
Klausa transitif  adalah klausa yang mengandung kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang menghendaki hadirnya objek(Sukini, 2010:46).
Menurut (Tarigan, 2009:44), Klausa transitif  adalah klausa yang mengandung kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang mempunyai kapasitas memiliki satu atau lebih obyek.
Contoh:
a. Rudi mengagumi Yuli
b. ayah membelikan adik sepatu roda
      
Klausa transitif  jika dilihat dari hubungan aktor aksi, dapat pula diklasifikasikan menjadi klausa aktif, klausa pasif, klausa medial dan klausa resiprokal (Tarigan, 2009:77).
Selanjutnya (Tarigan, 2009:77) menjelaskan dan memberi contoh:
1)            Klausa Aktif
Klausa aktif  adalah klausa yang subyeknya berperan sebagai pelaku atau aktor.
Arifin (2008:38) menjelaskan bahwa klausa aktif transitif adalah klausa yang predikat verbalnya mempunyai sasaran dan/ atau mempunyai objek. Verba yang menjadi predikatnya berimbuhan meng-, meng-/-I, atau meng-/-kan.
Contoh:
a.       Ayah melihat saya menulis surat
b.      saya melarang kamu mencangkul kebun itu
c.       ibu menyuruh dia memanggil nenek
d.      siapa menyaksikan ibu makan nasi itu
e.       dokter menganjurkan ayah minum kopi
f.       bibi menjual makanan
g.      aku mengirimkan surat
h.      anak-anak memetiki mangga
2)            Klausa Pasif
Klausa pasif adalah klausa yang subyeknya berperan sebagai penderita.
Arifin (2008:39) menjelaskan bahwa klausa verbal pasif adalah klausa yang menunjukkan bahwa subjek dikenai pekerjaan atau sasaran perbuatan seperti yang disebutkan dalam predikat verbalnya. Verba yang menjadi predikatnya berimbuhan di-,ter-, atau ber-/-an, atau diawali kata kena.
Contoh:
a.       ayah tahu benar  surat itu kutulis
b.      saya tidak mau tahu kebun itu kau cangkul
c.       kenapa kamu melarang  nenek dipanggil oleh adik
d.      semua tahu  nasi itu di makan ibu
e.       saya melihat sendiri  kopi itu diminum oleh ayah 
f.       kurban ditembak kami kehujanan
g.      kakak bercukur kurban tertembak
h.      melarikan diri
i.        menghindarkan diri
j.        melepaskan diri
k.      memperkaya diri
3)            Klausa Medial
Klausa medial adalah klausa yang subyeknya berperan baik sebagai pelaku maupun penderita.
Contoh:
a.         dia menghibur hatinya
b.      dia menyiksa dirinya
c.         kamu menyusahkan dirimu melulu
d.      aku menusuk jariku
e.         aku merenungi nasibku
f.         aku menenangkan pikiranku
g.      si Ani mengamati wajahnya sendiri
4)            Klausa Resiprokal
Klausa Resiprokal atau klausa refleksif adalah klausa yang subyek dan obyeknya melakukan perbuatan yang berbalas-balasan (Tarigan,2009: 49).
Contoh:
a.       saya tidak suka kalau kalian baku hantam dengan mereka
b.      ayah menganjurkan agar kami saling mengasihi dengan saudara
c.       paman menyuruh saya bersalam-salaman dengan tamu
d.      tetangga, sering mendengar Mak Ali saling caci dengan Mak Ina
e.       tahukah kamu bahwa keluarga saya sering berkunjung-kunjungan dengan keluarga mereka
f.       dalam Koran dapat dibaca bahwa baku serang antara Palestina dengan Israel sudah mereda
2.5.1.2  Klausa Intransitif 
Klausa Intransitif  adalah klausa yang predikat verbalnya  tidak  memerlukan kehadiran objek (Sukini, 2010:47).
Cook melalui Tarigan (2009: 49) menjelaskan bahwa klausa intransitif  adalah klausa yang mengandung kata kerja intransitif, yaitu kata kerja yang tidak memerlukan obyek.
Contoh:
a. para siswa berbaris di lapangan
b. matahari terbit di timur
c. ayah pergi ke sawah
d. ibu tinggal di rumah
e. adik bermain-main di pekarangan
f. nenek tidur di kamar
g. kakek duduk di kursi
2.5.2  Klausa Nonverbal    
           Klausa nonverbal adalah klausa yang predikatnya berkategori selain kata kerja. Unsur pengisi fungsi P yang tidak berkategori verbal, antara lain nominal, adjektival, numeral, dan preposisional (Sukini, 2010:46).
           Sementara itu Tarigan (2009:50) memberikan batasan bahwa klausa nonverbal adalah klausa  yang  berpredikat nomina, ajektif, atau adverbia. Klausa nonverbal ini dapat pula dibagi atas: klausa statif dan klausa ekuasional.
2.5.2.1 Klausa nominal
Klausa nominal adalah klausa yang predikatnya berkategori kata benda.
Elson dan Pickett melalui Tarigan (2009: 51) mengatakan bahwa klausa ekuasional adalah klausa yang berpredikat nomina.
Contoh:
a. saudaranya guru
b. yang dibeli orang itu sepeda
c. nenekku dukun
d. pamannya pedagang
e. adiknya dokter
f. atap rumah itu daun rumbia
g. isteriku guru
2.5.2.2 Klausa Adjektival
Klausa adjektival adalah klausa yang predikatnya berkategori kata keadaan.
Elson dan Pickett melalui Tarigan (2009: 51) mengatakan bahwa klausa statif adalah klausa yang berpredikat ajektif atau yang dapat disamakan dengan ajektif.
Chaer (2009: 158) mengatakan bahwa klausa ajektifal memiliki fungsi wajib S dan P. Klausa ajektifal dapat disusun dari fungsi S yang berkategori N dan fungsi P yang berkategori A.
Contoh:
a. harga buku sangat mahal
b. udaranya panas sekali
c. anak itu pintar
d. neneknya kaya
e. mereka capek
2.5.2.3 Klausa Numeral
Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berkategori kata bilangan.
Chaer (2009: 160) mengatakan bahwa klausa numeral adalah klausa yang fungsi P nya diisi oleh frase numeral.
Contoh:
a. roda truk itu  enam
b. kerbau petani itu dua ekor
c. gajinya dua juta sebulan
d. uangnya seratus ribu rupiah
e. anak pak Amat lima orang
f. mobil pejabat itu empat buah
g. luas kebunnya seribu meter
            Klausa numeral lazim digunakan bahasa ragam lisan dan ragam bahasa nonformal. Dalam ragam formal fungsi P akan diisi oleh sebuah verba; dan frase numeral berubah fungsi menjadi keterangan.
Contoh:
a. roda truk itu ada  enam
b. kerbau petani itu hanya dua ekor
c. gajinya ada dua juta sebulan
d. uangnya sebesar seratus ribu rupiah
e. anak pak Amat berjumlah lima orang
f. mobil pejabat itu ada empat buah
g. luas kebunnya mencapai seribu meter
2.5.2.4 Klausa Preposisional
Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berkategori kata depan.
Chaer (2009: 159) mengatakan bahwa klausa preposisional adalah klausa yang fungsi P nya diisi oleh frase preposisional.
Contoh:
a. pegawai itu ke kantor setiap hari
b. kakak di kampus
c. ibu dan ayah ke pasar
d. mereka dari Medan
e. ayah dan kakek di kampung
f. uangnya di bank
g. berangkatnya dari rumah
           Klausa preposisional ini lazim digunakan dalam bahasa ragam lesan dan ragam bahasa nonformal. Dalam ragam formal fungsi P akan diisi oleh sebuah verba; dan frase preposisinya  berubah fungsi menjadi keterangan.
Contoh:
a. pegawai itu pergi ke kantor setiap hari
b. kakak ada di kampus
c. ibu dan ayah berangkat  ke pasar
d. mereka ampon dari Medan
e. ayah dan kakek berada  di ampong
f. uangnya disimpan  di bank
g. berangkatnya berawal dari rumah
           
2.6  Klasifikasi Klausa Berdasarkan  Fungsi
Berdasarkan fungsinya, klausa ternyata dapat menduduki fungsi subjek, objek, keterangan, dan pelengkap (Arifin, 2008: 34).
2.6.1 Subjek
Arifin (2008: 35) menjelaskan dan memberi contoh bahwasanya subjek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frase nominal yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara (penulis). Di dalam bahasa Indonesia, subjek biasanya mendahului predikat.
contoh:
a. berlibur kami sekeluarga
b. berenang itu menyehatkan
            Kedua klausa itu disebut klausa inti karena terdiri atas subjek (kami sekeluarga, berenang itu)serta predikat (berlibur, menyehatkan). Kedua klausa itu dapat menjadi inti kalimat, yang bagian-bagiannya juga tetap menduduki fungsi subjek dan predikat, seperti:
a. Kami sekeluarga bulan yang lalu berlibur di Bali.
b. Berenang itu ternyata dapat turut menyehatkan fisik dan mental.
2.6.2 Objek
Objek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frase nominal yang melengkapi verba transitif. Objek dikenai perbuatan yang disebutkan dalam predikat verbal. Objek dapat dibagi menjadi objek langsung dan objek tak langsung.
            Objek langsung adalah objek yang langsung dikenai perbuatan yang disebutkan dalam predikat verbal; objek tak langsung adalah objek yang menjadi penerima atau diuntungkan oleh perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal.
Contoh:
a. bibi sedang menanak nasi
b. ibu membawa minuman
Nasi pada contoh diatas merupakan objek bagi verba menanak dan minuman menjadi objek bagi verba membawa.
Contoh objek taklangsung:
a. bibi sedang menanakkan nasi untuk kita semua
b. ibu membawakan minuman untuk Ayah
            Kita semua objek taklangsung bagi verba menanakkan, sedangkan untuk Ayah objek taklangsung bagi verba membawakan.
2.6.3 Klausa Keterangan
            Arifin (2008: 36-37) menjelaskan dan memberi contoh bahwasanya klausa keterangan adalah klausa yang menjadi bagian luar inti, yang berfungsi meluaskan atau membatasi makna subjek atau makna predikat.
Contoh:
a. keterangan akibat: penjahat itu dihukum mati
b. keterangan sebab: karena sakit, ia tidak jadi ikut
c. keterangan jumlah: bagai pinang dibelah dua
d. keterangan alat: dinaikkan dengan mesin pengangkat
e. keterangan cara: diterima dengan baik, disetujui dengan musyawarah
f. keterangan kualitas: berlari bagai kilat, menggelegar seperti guntur
g. keterangan modalitas: tidak mungkin itu terjadi, mustahil ia berbohong
h. keterangan pewatas: keterangan lebih lanjut, diceritakan lebih detail
i. keterangan subjek: guru yang baik, rumah yang bersih, anak yang rajin
j. keterangan syarat: tolonglah kalau kau bisa, angkatlah jika kuat
k. keterangan objek: mencari pengusaha yang jujur, menjadi isteri yang baik
l. keterangan tujuan: bekerja untuk hidup, makan demi kesehatan
m. keterangan tempat: datang dari Barat, pergi ke Lampung
n. keterangan waktu: ditunggu sampai besok pagi, berangkat masih subuh
o. keterangan perlawanan: meskipun lambat, selesai juga dikerjakannya
catatan: kata-kata yang dicetak miring berfungsi sebagai keterangan.
2.6.4 Klausa Pelengkap
            Klausa pelengkap adalah klausa yang terdiri atas nomina, frasa nominal, adjektiva, atau frase adjektival yang merupakan bagian dari predikat verbal.
Contoh:
a. abangku menjadi pilot
b. kami bermain bola
c. aku dianggap patung
d. persoalan itu dianggap sepi
e. adik menari Bali
f. Paman berdagang kain
g. negara kita berdasarkan Pancasila
Kata-kata yang dicetak miring berfungsi sebagai pelengkap.
III. Simpulan
            Klausa merupakan satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa atau gabungan kata itu berpotensi menjadi kalimat.     Klausa memiliki ciri-ciri:
a.       merupakan deretan kata yang merupakan satuan gramatik,
b.      meliliki hanya satu predikat,
c.       mengandung unsur S P (O) (PEL) (KET),
d.      belum memiliki intonasi atau tanda baca tertentu.
            Dalam bahasa Indonesia terdapat bermacam-macam klausa. Masing-masing ahli bahasa memiliki perbedaan dalam membuat klasifikasi tentang klausa, tergantung pada sudut pandangnya.
            Berdasarkan  kelengkapan  unsur intinya, klausa diklasifikasikan atas klausa lengkap, dan klausa tak lengkap , berdasarkan  struktur internalnya klausa dibedakan atas  klausa berstruktur runtut dan klausa berstruktur inversi, berdasarkan  distribusinya, klausa diklasifikasikan atas klausa bebas, dan klausa terikat, berdasarkan  ada tidaknya unsur negasi pada predikat, klausa diklasifikasikan atas klausa positif, dan klausa negatif, berdasarkan  kategori pengisi fungsi predikat, klausa diklasifikasikan atas klausa verbal, dan klausa nonverbal.
            Pengklasifikasian klausa dari berbagai segi, dapat menghasilkan berbagai macam klausa.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono.    
          2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, (Edisi III,cet. ke-6). Jakarta: Balai
          Pustaka.
Arifin,Zaenal, Juniah H.M.2008. Sintaksis Bahasa Indonesia.Jakarta: Grasindo.
Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.
Sukini. 2010. Sintaksis Sebuah Panduan Praktis. Surakarta: Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Sintaksis. Bandung:Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 2009.Prinsip-prinsip Dasar Sintaksis. Bandung:Angkasa.