Halaman

Sabtu, 16 Juni 2012

MANUSIA MAKHLUK HOLISTIK

Manusia sebagai makhluk holistik memiliki makna bahwa manusia adalah makhluk yang utuh atau menyeluruh yang terdiri atas unsur biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Teori holistik menjelaskan bahwa semua organisme hidup saling berinteraksi. Adanya gangguan pada salah satu bagian akan mempengaruhi bagian yang lain.
Saat mempelajari salah satu bagian manusia, perawat harus mempertimbangkan keterkaitan bagian tersebut dengan bagian yang lain. Selain itu, perawat juga harus mempertimbangkan interaksi individu dengan lingkungan eksternalnya.
manusia terdiri atas:
1. Unsur biologis
  • Manusia merupakan suatu susunan sistem organ tubuh
  • Manusia mempunyai kebutuhan untuk dapat mempertahankan hidupnya
  • Manusia tidak terlepas dari hukum alam, yaitu: lahir, berkembang dan meninggal
2. Unsur psikologis
  • Manusia mempunyai struktur kepribadian
  • Tingkah laku manusia merupakan manifestasi kejiwaan
  • Manusia mempunyai daya pikir dan kecerdasan
  • Manusia mempunyai kebutuhan psikologis agar pribadinya dapat berkembang
3. Unsur sosial
  • Manusia perlu hidup bersama orang lain dan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidupnya
  • Dalam sistem sosial, pandangn individu, kelompok dan masyarakat dipengaruhi oleh kebudayaan
  • Manusia dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan beradaptasi dengan lingkungan tersebut
  • Dalam sistem sosial, manusia dituntut untuk bertingka laku sesuai dengan harapan dan norma yang berlaku di masyarakat
4. Unsur spiritual
  • Manusia mempunyai keyakinan atau mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa
  • Manusia memiliki pandangan hidup
  • Manusia mempunyai semangat hidup yang sejalan dengan keyakinan yang dianutnya (sumber: buku ajar kebutuhan dasar manusia,teori & Aplikasi praktik)

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM KONSELING

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM KONSELING

 PENDEKATAN HOLISTIK DALAM KONSELING

A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan yang dinamis dan sarat  perkembangan, perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan budaya kehidupan.
Di dalam pendidikan untuk mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri maka adanya bimbingan dan konseling, secara umum tujuan penyelenggaraan bantuan layanan bimbingan konseling adalah berupaya membantu peserta didik menemukan pribadinya dalam hal mengenai kekuatan dan kelemahan eirinya serta menerima dirinya secara dinamis sebagai modal perkembangan diri lebih lanjut.
Secara khusus konseling bertujuan membantu klien membuat pilihan yang tepat untuk memperbaiki pergaulan atau  hubungan di dunia sekitar dan teman-temannya. Banyak secara konseling seperti humanistic, pendekatan gestalt dan salah satunya konseling holistic yang mendekati 4 aspek, aspek fisik, mental, dan spiritual oleh sebab itu penulis akan menjelaskan makalah tentang pendekatan holistic konseling.

B.     Holistic Terapy dan Konseling
Holistic terapy adalah (current Trend of Person Centered). Menunjukkan kepada kecendrungan mutakhir konseling atau psikoterapy berpusat pada pribadi untuk berpandangan lebih bebas mengenai manusia, upaya pemahaman dimensi sosial dan komunikasi pemikiran, tingkah laku.
Person-centered therapy dikembangkan terutama oleh Carl Rogers, terapi yang bepusat pada orang atau klien ini di dasari pada kepercayaan bahwa klien memiliki kemampuan untuk maju dan membatasi permasalahan-permasalahannya. Secara konstruktif, jika terdapat kondisi-kondisi yang mendorong terjadinya pertumbuhan.[1]
Kepercayaan terhadap kapasitas klien untuk mengembangkan dirinya sendiri bertolak belakang dengan banyak teori yang memandang bahwa tehnik terapy merupakan faktor yang menentukan dalam proses perkembangan klien.
Menurut rogers, terdapat 3 atribut terapis yang diperlukan agar tercipta iklim yang mendorong pertumbuhan individual:
1.      Kongruensi atau kesejatian diri terapis
2.      Penerimaan positif yang tidak bersyarat
3.      Empati yang akurat
Menurut Rogers apabila terapis mengkomunikasikan atribut-atribut tersebut. Maka klien akan menurunkan tingkat pertahanan dirinya lebih terbuka terhadap diri dan dunia di sekelilingnya dan akan menunjukkan perilaku yang konstruktif dan pro sosial. Tujuan konseling adalah untuk membebaskan klien dari pandangan dirinya yang mengekang dan menciptakan kondisi sehingga klien mampu untuk terlibat dalam pencaharian diri yang lebih bermakna.
Kecendrungan yang merealisasikan diri (Actualiting Tendency) merupakan proses kearah tertentu sehingga terciptanya pemenuhan diri, antonomi, self determination dan kesempurnaan.
Dorongan untuk tumbuh yang berasal dari dalam diri merupakan kekuatan internal untuk penyembuhan diri bersama-sama dengan faktor-faktor lingkungan interdependensi dan sosialisasi. Karena adanya kapasitas inheren untuk mengatasi maladjustment.

C.  Tujuan dari Terapy
Yang berpusat pada orang adalah mempertinggi pusat independensi dan integrasi dari individu. Focus terapy adalah pada orang bukan pada  masalah yang sedang dihadapi orang tersebut.
Rogers percaya bahwa tujuan terapy bukanlah untuk memecahkan masalah tertentu, namun untuk membantu klien dalam menjalani proses pertumbuhan sehingga klien dapat menghadapi masalah yang sedang dihadapi maupun permasalahan dimasa depan. Dengan demikian, terapy bertujuan untuk memberikan lingkungan yang kondusif untuk membantu seseorang berfungsi secara penuh.
Sebelum seorang klien mampu untuk mengejar tujuan tertentu, kien harus melepaskan topeng yang mereka pakai yang tercipta dan berkembang melalui proses sosialisasi. Klien kemudian akan mengenali bahwa ia telah kehilangan kontak dengan dirinya sendiri. Rogers menggambarkan bahwa seseorang yang aktualisasi dirinya meningkat akan menunjukkan sikap :
a.       Terbuka terhadap pengalaman
b.      Percaya terhadap diri mereka sendiri
c.       Mampu untuk melakukan evalusi internal
d.      Memiliki keinginan untuk terus menerus tumbuh

D.    HOLISTIK KONSELING
Holistik adalah saduran kata dari bahasa inggris yaitu “Holistik” yang menkankan pentingnya keseluruhan dan saling keterkaitan. Jika kata holistik ini dipakai dalam rangka pelayanan kepada orang lain yang membutuhkan mak mempunyai arti layanan yang diberikan kepada sesama atau manusia secara utuh baik secara fisik, mental, sosial dan spiritual mendapat perhatian yang seimbang[2].
Kembali pada hakikat penciptaan, tuhan menciptakan manusia itu tidak hanya memperhatikan fisiknya saja, mentalnya saja, sosialnya saja atau bahkan hanya memperhatikan spiritualnya saja tetapi utuh, keutuhan ciptaan Allah kepada manusia. Demikian pula jika kita ingin memberikan layanan kepada orang lain yang membutuhkan, kita perlu mendasarkan pelayanan kita kepada keutuhan tersebut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual.
Secara sosial holistik perkembangan sebagai proses holistik yaitu perkembangan terjadi tidak hanya dalam aspek tertentu melainakn keseluruhan aspek yang saling terjalin satu sama lain. 3 Proses perkembangan individu:
1.      Proses biologi
2.      Proses kognitif
3.      Proses psikososial
1.      Definisi pelayanan holistic
Pelayanan holistik merupakan pelayanan yang mencerminkan komitmen terhadap pelayanan kepada seluruh manusia, yaitu secara jasmani, sosio-ekonomis, sosio-hubungan, mental dan spiritual. Berarti pelayanan itu luas. Kalau semua tipe pelayanan iotu dilaksanakan secara lengkap belum tentu pelayanan itu dianggap “holistik” kalau tidak di integrasikan secara kreatif dan sistematis.
2.      Definisi kebudayaan
Kebudayaan pada umumnya dipelajari oleh ahli antropologi yang boleh disebut”Cultual atau Sosial antropologi”. Beberapa macam kebudayaan :
a.      Kebudayaan suku
Indonesia sangat kaya dari segi budaya dan adat namun dalam pengertian holistik an konseling, perbedaan kebudayaan tidak begitu penting yang bermakna adalah keadaran bahwa Indonesia adalah pluralistic.
b.      Kebudayaan agama
Clifford Geertz menjelaskan bahwa agama merupakan sebagian dari kebudayaan.

c.       Kebudayaan antar agama
Ketika dari wakil-wakil agama berkumpul, bisa saja muncuk gejala-gejala budaya yang lain antara islam dan Kristen. Ada perbedaan tafsiran dari kelompok masing-masing.

E.     KONSELING “TRAIT DAN FACTOR”
Beberapa tokoh utama teori sifat dan faktor adalah Walter bingham, Jhon Darley, G. Paterson, dan E. G. Williamson, karena pandangan dan konsepnya telah banyak dipublikasikan dalam berbagai artikel dalam jurnal, dab buku-buku.
1.    Konsep  Utama
Menurut teori ini, keperibadian merupakan suatu system sifat atau faktor yang saling berkaitan satu dengan lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dan temperamen. Perkembangan kemajuan individu muali dari masa bayi hingga dewasa diperkuat oleh interaksi sifat dan faktor. Telah banyak diusahakan untuk membuat kategori orang-orang atas dasar dimensi macam-macam sifat.
Maksud konseling menurut Williamson adalah untuk membantu perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia. Membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujaun-tujuan hidup dan  karir (shertzer & Stone, 1980, 171).
Asumsi pokok yang mendasari teori konseling sifat dan faktor adalah :
1)              Karena setiap individu sebagai suatu pola kecakapan dan kemampuan yang terorganisasikan secara unik, dank arena kemampuan kualitasnya relatif stabil setelah remaja, maka tes objektif dapat dugunakan untuk mengidentifikasi karakteristik-karakteristik tersebut.
2)              Pola-pola kepribadian dan  minat berkorelasi dengan perilaku kerja tertentu. Oleh karena itu, maka identifikasi karakteristik para pekerja yang berhasil merupakan suatu informasi yang berguna dalam membantu individu memilih karir.


2.      Proses konseling
Menurut Williamson, hubungan konseling merupakan hubungan yang sangat akrab, sangat bersifat pribadi dalam hubungan tatap muka, kemudian konselor bukan hanya membantu individu atas apa saja yang sesuai dengan potensinya, tetapi konselor harus mempengaruhi klien berkembang ke satu arah yang terbaik baginya. Konselor memang tidak menetapkan, tetapi memberikan pengaruh untuk mendapatkan cara yang baik dalam ,membuat keputusan. Karena itu pula aliran ini disebut konseling yang direktif.
3.      Tehnik konseling
Tehnik-tehnik yang digunakan dalam proses konseling ialah :
a)      Penggunaan hubungan intim (rapport). Konselor harus menerima konseli dalam hubungan yang hangat, intim, bersifat pribadi, penuh pemahaman dan terhindar dari hal-hal yang mengancam konseli.
b)      Memperbaiki pemahaman diri. Konseli harus memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, dan dibantu untuk menggunakan kekuatannya dalam upaay mengatasi kelemahannya.
c)      Pemberian nasihat dan perencanaan program kegiatan.
d)      Menunjukkan kepada petugas lain atau referral.
4.       Kritik dan kontribusi
Beberapa kritik yang pada umumnya disampaikan kepada teori sifat dan faktor adalah antara lain :
a)    Pandangannya dikembangkan dalam situasi pendidikan dan kliennya dibatasi terutama kepada siswa-siswa yang memiliki keragaman derajat kemantapan dan tanggung jawab sendiri.
b)   Pendangannya terlalu menekankan kepada pengendalian konselor dan hasil dicapai pada diri klien lebih banyak tergantung kepada keunggulan konselor dalam mengarahkan dan membatasi konseli.
c)    Banyak meminimalkan atau mengabaikan aspek afektif koseli yang justru seharusnya menjadi kepedulian utama konselor.
F.      KONSELING “RATIONAL EMOTIVE”
Tokoh teori ini adalah Albert Ellis.
1.    Konsep pokok
Ellis memandang bahwa manusia itu bersifat rasional dan juga irasional. Orang berprilaku dalam cara-cara tertentu karena ia percaya bahwa ia harus bertindak dalam cara itu. Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berfikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah.
Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep bahwa banyak perilaku emosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri” atau internalisasi kalimat-kalimat, yaitu orang yang bersifat negatif. Adanya orang-orang yang seperti itu, menurut Ellis adalah karena: a). terlalu bodoh untuk berfikir secara jelas, b). orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berfikir secara cerdas,  dan tidak tahu berfikir secara dalam hubungannya dengan keadaan emosi, c). orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan secara memadai.
2.       Proses konseling
Tugas konselor menurut Ellis ialah membantu individu yang tidak bahagia dan menghadapi hambatan, untuk menunjukkan bahwa: a). kesulitannya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak logis, b). usaha memperbaikinya adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan.
3.      Tujuan konseling Rasional-Emotif
a)      Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self actualizationnya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan efektif yang positif.
b)      Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri.
Sebagai suatu bentuk hubungan yang bersifat membantu (helping relationship), terapi rasional-emotif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a)      Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling atau terapeutik, terapi atau konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
b)     Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
c)      Emotif- eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk juga harus melihat aspek emotif klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
d)     Behavioristik, artinya bahwa hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan perilaku dalam diri klien.
e)      Kondisional, artinya bahwa hubungan dalam terapi rasional-emotif dilakukan dengan membuat kondisi-kondisi tertentu terhadap klien melalui berbagai tehnik kondisioning untuk mencapai tujuan terapi konseling.
4.      Tehnik-tehnik terapi
Tehnik-tehnik Emotif (efetif):
a)      Tehnik Assertive Training, yaitu tehnik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginka.
b)     Tehnik Sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang didramatisasikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secar bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
c)      Tehnik ‘self modeling’ atau “diri sebagai model”, yakni tehnik yang digunakan untuk meminta klien agar “berjanji” atau mengadakan “komitment” dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
d)     Tehnik imitasi, yakni tehnik yang digunakan diman klien diminta untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
Tehnik-tehnik Behavioristik
            Beberapa tehnik yang tergolong behavioristik adalah:
1)      Tehnik Reinforcement (Penguatan), yakni tehnik yang digunakan untuk mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun punishment (hukuman).
2)      Tehnik Social Modeling (pemodelan social), yakni tehnik yang digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku baru pada klien.
3)      Tehnik Live Models (model dari kehidupan nyata), yang digunakan untuk menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.
Tehnik-tehnik Kognitif
Beberapa tehnik yang tergolong Kognitif:
1)      Home work Assigments (pemberian tugas rumah). Dalam tehnik ini, klien diberikan tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta mengintegrasikan system nilai tertentu yang menurut pola perilaku yang diharapkan.
2)      Tehnik Assertive. Tehnik ini digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekpresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui: role playing atau bermain peran, rehearsal atau latihan, dan social modeling atau meniru model-model sosial.

G.    KONSELING BEHAVIORAL
Yang dapat digolongkan sebagai tokoh-tokoh dan banyak memberikan informasi mengenai konseling behavioral antara lain John D. Krumboltz, Carl E. Thoresen, Ray E. Hosford, Bandura, wolpe dan sebagainya.
     I.            Konsep pokok
Konselor behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu kepedulian dari para konselor sebagai criteria pengukuran keberhasilan konseling. Menurut pendangan ini manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar seperti yang dikemukakan oleh Freud.
Thoresen (shertzer dan stone, 1980, 188) member ciri konseling behavioral sebagai berikut:
a)      Kebanyakan perilaku manusia dipelajari dan karena itu dapat diubah.
b)      Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat membantu dalam mengubah perilaku-perilaku yang relevan prosedur-perosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan.
c)      Prinsip-prinsip belajar special seperti :reinforcement” dan “social modeling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-perosedur konseling.
d)     Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan dalam perilaku-perilaku khusus diluar wawancara prosedur-prosedur konseling.
e)      Prosedur-prosedur konseling tidak statis, tetap atau ditentukan sebelumya, tetapi dapat secara khusus didesain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah khusus.

  II.            Prosedur konseling
Koseling behavioral merupakan suatu proses membatu orang utnuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu.
Tujuan konseling menurut Krumboltz harus memperhatkan criteria berikut: (1) tujuan harus diinginkan oleh klien, (2) konselor harus berkeinginan untuk membantu klien mencapai tujuan, (3) tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dinilai pencapaiannya oleh klien.
Mengenai Metode Konseling, Krumboltz. Mengategorikan men jadi empat pendekatan yaitu pendekatan: (1) operant learning, (2) unitative learning atau sosial modeling. (3) cognitive learning dan (4) emotional learning.
Metode Unitative Learning atau sosial modeling diterapkan oleh konselor dengan merancang auatu perilkau adaptasi yang dapat dijadikan model oleh klien.
Metode Cognitive Learning atau pembelajaran kognitif merupakan metode yang berupa pengajaran secara verbal, kontrak antara konseling dengan klien dan bermain peranan.

Selanjutkan metode “ Emotional Learning” atau pembelajaran emosional diterapkan pada individu yang mengalami suatu keemasan.

III.            Kritik dan Kontribusi
Beberapa kritik terhadap konseling behavioral adalah antara lain: konseling behavioral bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi, bersifat manipulative, dan mengabaikan hubungan antara pribadi.
Konseling behavioral lebih terkonsentrasi kepada tehnik. Meskipun konselor behavioral sering menyatakan persetujuan kepada tujuan klien, akan tetapi pemilihan tujuan lebih sering ditentukan oleh konselor.
Perubahan klien hanya berupa gejala yang dapat berpindah kepada bentuk perilaku yang lain. Sedangkan konseling behavioral adalah antar lain :
1)      Telah mengembangkan konseling sebagai ilmu karena mengundang penelitian dan menerapkan ilmu pengetahuan kepada proses konselor.
2)      Mengembangkan perilaku  yang spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur.
3)      Memberikan ilutrasi bagaimana mengatasi keterbatasan lingkungan.
4)      Penekanan bahwa konseling hedaknya memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan kepada perilaku yang terjadi dimasa lalu.

H.    KONSELING PSIKOANALISA
1)      Konsep Pokok
Pada mulanya Freud mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa.
Teori kepribadian menurut Freud, menyangkut tiga hal yaitu: struktur, dinamika dan perkembangan kepribadian.
a)      Struktur kepribadian
Menurut Freud, kepribadian terdiri atas tiga system, yaitu : id, ego, dan super geo. Ketiga system ini mempunyai fungsi,sifat, prinsip kerja dan dinamika sendiri-sendiri.
Id adalah aspek biologis yang merupakan system kepribadian yang asli.
Ego adalah aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organism untuk berhubungan dengan dunai kenyataan.
Super ego merupakan aspek sosiologis yang mencerminkan nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat yang ada didalam keperibadian individu.
b)      Dinamika keperibadian
Freud menganggap organism manusia sebagai suatu sistem energy yang kompelks. Energy diperoleh dari makanan (energy fisik). Berdasarkan hukum penyimpanan (conservation of energy) energi tidak dapat menghilang energi fisik dapat berbah menjadi psikis. Jembatan antara energi tubuh dengan kleperibadian ialah id beserta insting-instingnya.
Insting menurut Freud sebagai sumber perangsang somatic yang dibawa sejak lahir. Suatu insting adalah sejulah energi psikis, kumpulan dari semua insting-insting merupakan keselruhan energi psikis yang dipergunakan oleh keperibadian . insting mempunyai empat sifat utama yaitu : Sumber , tujuan objek dan mendorong, insting bersumber dari kebutuhan dan bertujuan menghilangkan sumber ketegangan yang diakibatkan Karena adanya kebutuhan.
Sedangkan objek insting adalah segala aktivitas atau benda yang menyebabkan tercapainya kebutuhan.
                       
                       
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, 2005, Rencana Strategi Departemen Nasional Tahun 2005-2009, Jakarta; Departemen Pendidikan Nasional.
Istifah, M, 2008 Pendidikan Holistik, Departemen ilmu keluarga dan konsumen, institute pertanian bogor.
Mewangi IR, Melly I, Wahyu F.D, 2005, Pendidikan Holistik, Cimanggis, Indonesia.
Prof. DR, H. Mohamad Surya, Teori-teori Konseling, Bandung; Pustaka bani Quraisy.

KONSEP BERPIKIR HOLISTIK

Sebenarnya, topik ini merupakan isu lama. Tetapi ia sangat relevan untuk dibahas. Apalagi kalau disadari bahwa tema-tema yang dibahas dalam blog LANGIT BIRU ini sangat luas, menjangkau berbagai masalah.
Bertahun-tahun silam, Dr. Hidayat Nur Wahid (HNW) pernah melontarkan kritik terhadap corak pemikiran ensiklopedik. Maksudnya, seorang pemikir, cendekiawan, atau ilmuwan mengkaji berbagai tema-tema berbeda. Ia tidak fokus atau spesialis di bidang tertentu, tetapi membahas banyak masalah. Pemikiran seperti itu beliau sebut sebagai “ilmu wartawan”, lawan dari ilmu spesialis. Mungkin, Ustadz Hidayat sudah melupakan hal ini, tetapi alhamdulillah ia masih teringat.
Sebenarnya, HNW mengarahkan kritiknya kepada Nurcholis Madjid yang menulis banyak essay dengan topik-topik berbeda, mulai dari masalah pemikiran, teologis, spiritual, sejarah, politik, sosial, teknologi, sampai pernah dia membahas materi genetika. Waktu itu HNW masih satu pemikiran dengan Dr. Daud Rasyid dalam mengkritisi pemikiran-pemikiran Nurcholis. Tapi seiring perkembangan, HNW cenderung lunak dengan ide-ide Nurcholis Madjid.
Soal sikap anti terhadap pemikiran Nurcholis Madjid, ya kita sepakat. Alhamdulillah, bi ni’matillah. Tetapi menyebut corak pemikiran ensiklopedik (jika boleh disebut demikian) sebagai “ilmu wartawan” adalah suatu kesalahan serius. Meskipun seseorang pro dengan pengembangan ilmu secara spesialisasi, tidak berarti berpikir holistik (meliputi berbagai bidang kajian) itu keliru.
Dari sisi keragaman tema-tema yang dipilih Nurcholish Madjid, hal itu sudah tepat. Hanya substansi pemikirannya yang sekuler, pluralis, dan liberalis (SEPILIS), itulah yang keliru. Bahkan saya mendapati sebuah kesimpulan, bahwa untuk membangun kebangkitan peradaban Islam kembali, kita membutuhkan lebih banyak lagi para pemikir, cendekiawan, atau ilmuwan yang bersifat holistik, bukan melulu terkurung dalam batas-batas kesempitan spesialisasi ilmu.
Disini ada sekian banyak alasan yang bisa dijadikan hujjah untuk mendukung pentingnya corak pemikiran holistik, yaitu sebagai berikut:
PERTAMA: Kalau Anda pelajari Al Qur’an, maka Anda akan mendapati bahwa Kitab Allah ini membahas berbagai macam bidang kehidupan manusia. Disana ada masalah: ibadah, tauhid, sejarah, hukum, muamalah, bahasa, seni sastra, matematika, sains, sosiologi, komunikasi, pendidikan, dan sebagainya. Sangat banyak bidang-bidang kajian itu. Justru aneh, kalau seseorang membaca Al Qur’an tetapi tidak menangkap pelajaran seperti itu.
KEDUA: Kalau Anda membaca dua kitab hadits yang paling utama, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, maka Anda akan mendapati disana sangat banyak bab-bab pembahasan ilmiah. Mulai dari topik ilmu, thaharah, iman, shalat, zakat, shaum, haji, kisah, akhlak, biografi Nabi dan Shahabat, fadhilah amal, sifat syurga, neraka, Hari Kiamat, muamalah, jual-beli, peperangan, dan sebagainya. Sangat banyak dan menjangkau topik-topik yang luas. Pertanyaannya, apakah keluasan jangkauan itu terjadi secara kebetulan, atau karena memang fithrah manusia mendukung ke arah itu? Tidak mungkin, semua itu terjadi secara kebetulan.
KETIGA: Menurut penelitian para neurologis (ahli syarat), otak manusia sejak lahir telah disiapkan untuk memahami berbagai macam bidang ilmu. Secara potensial hal itu sudah disediakan, tetapi secara realitas kerap kali yang berkembang hanya bagian-bagian tertentu saja dari otak manusia. Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli syaraf itu! Bahkan sampai ada penelitian tentang otak kanan dan otak kiri yang masing-masing bagian mewakili kecenderungan emosional dan kemampuan intelektual tertentu.
KEEMPAT: Kalau Anda mencermati kehidupan manusia secara individu, kehidupan manusia secara sosial (komunitas), kehidupan hewan dan tumbuhan di alam, serta sistem mikroskopis dan makrokosmos yang ada di alam ini, Anda akan mendapati bahwa tidak ada satu pun makhluk yang independen secara mutlak. Semua makhluk itu terikat dalam sistem inter koneksi (saling terhubung). Artinya, hakikat kehidupan kita ini bersifat komplek, tidak tunggal, tidak mandiri secara mutlak. Dengan demikian, memahami kehidupan ini juga membutuhkan perangkat-perangkat ilmu pengetahuan yang komplek pula. Kalau seseorang hanya berkutat secara fanatik dengan spesialisasinya, dia akan kehilangan banyak kesempatan.
KELIMA: Dalam manajemen modern, banyak pihak telah lama menerapkan sistem pendekatan integral. Misalnya dalam industri perangkat keras komputer. Disana sebuah pabrik komputer tidak hanya merekrut ahli-ahli teknik komputer saja, tetapi mereka juga membutuhkan ahli desain, ahli bahasa, ahli marketing, peneliti sosial, sampai ahli psikologi. Dengan pendekatan yang bersifat menyeluruh (integral), diharapkan keputusan-keputusan manajemen yang diambil lebih dekat kepada realitas konsumen yang dihadapi.
KEENAM: Sejak lama Islam telah melahirkan ahli-ahli agama multi disipliner. Dalam bidang ini ada Ibnu Jarir At Thabari, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Adz Dzahabi, Ibnu Katsir, As Suyuthi, Ibnu Hajar Al Asqalani, Ibnu Khaldun, Al Ghazali, dan sebagainya rahimahumullah jami’an. Kemampuan ilmiah mereka tidak melulu satu bidang saja, tetapi menjangkau banyak bidang, seperti Tafsir, Hadits, Fiqih, Shirah, Tarikh, Sastra Arab, adat-istiadat Arab, dll. Ibnu Jarir misalnya, beliau pernah ingin mendiktekan kisah manusia sejak jaman Nabi Adam As sampai jamannya. Ketika ditanya, “Berapa halaman yang dibutuhkan?” Kata beliau, “50 ribu halaman.” Maka murid-murid beliau mengeluh, “Kalau begitu, habis umur kami hanya untuk mencatat kisah itu.” Akhirnya Ibnu Jarir meringkas “hanya” 5000 halaman saja. Padahal Ibnu Jarir lebih dikenal sebagai seorang ahli Tafsir.
KETUJUH: Islam juga telah melahirkan banyak ilmuwan-ilmuwan multi disilpiner yang menguasai ilmu agama, filsafat, matematika, sains, seni, sejarah, geografi, dan lain-lain. Ilmuwan seperti Ibnu Rusyd, Al Khawarizmi, Al Kindi, Al Jabar, dll. mereka memahami berbagai cabang ilmu sekaligus. Di antara mereka ada yang menguasai bidang optik, navigasi, astronomi, kedokteran, biologi, arsitektur, dan seterusnya. Luar biasa kenyataan itu!
KEDELAPAN: Pemahaman bidang-bidang ilmiah secara holistik akan membawa kepada kebijaksanaan (al hikmah) dan keputusan yang matang. Justru sikap fanatik kepada spesialisasi dan menolak keragaman perspektif, hal itu akan membawa kepada kesempitan pandangan dan kesimpulan yang mentah. Hal itulah yang menyebabkan Ummat Islam dalam masa berabad-abad terjerumus dalam pertikaian karena egoisme pemikiran yang bersifat sektoral. Fanatisme madzhab berawal dari pemikiran sempit yang tidak mau menengok perspektif lain.
KESEMBILAN: Pada hakikatnya, tidak ada satu pun bidang ilmu yang bersifat spesialis murni. Misalnya, ada seorang doktor yang melakukan penelitian serius tentang akidah Syi’ah. Dia tidak akan sampai kepada suatu hasil karya yang matang jika tidak didukung oleh perangkat-perangkat ilmu lain. Misalnya, dia membutuhkan ilmu bahasa, informasi pustaka, rujukan kamus, ilmu sejarah, ilmu terminologi, perdebatan fiqih, perdebatan akidah, dan sebagainya.
KESEPULUH: Dakwah Islam akan lebih berhasil kalau para dai memiliki wawasan multi disipliner. Dengan wawasan itu dia lebih mampu beradaptasi dengan berbagai macam manusia, lingkungan, dan kasus. Menghadapi orang gunung berbeda dengan menghadapi orang pesisir; menghadapi para eksekutif berbeda dengan kaum manula; bahkan orang gunung di Bromo berbeda dengan di Merapi, Dieng, Tangkuban Perahu, dan lainnya. Seseorang yang fanatik spesialisasi, kemungkinan besar dakwahnya akan gagal. Dia tidak siap menghadapi keragaman.
Demikianlah alasan-alasan yang bisa dikemukakan. Singkat kata, sebutan “ilmu wartawan” bagi pengembangan pemikiran yang bersifat holistik adalah suatu kesalahan besar. Jika sebutan “ilmu wartawan” itu diterima, maka kita akan menuduh Al Qur’an, As Sunnah, para ulama, para pakar Islam, dan lain-lain sebagai “ilmu wartawan”. Dan ini adalah kesalahan besar!
Kondisi Riil di Masyarakat
Kalau mau jujur, banyak tokoh-tokoh Muslim di Indonesia yang tidak bekerja sesuai spesialisasinya. Bidang yang dipelajari A, tetapi mereka bergelut di dunia B, C, atau D. Dalam dunia profesi juga demikian. Misalnya sarjana Pertanian, tetapi bekerja sebagai marketing bank; sarjana lulusan ekonomi menjadi ustadz; sarjana lulusan Syariah menjadi birokrat. Nah, hal-hal seperti itu banyak terjadi, karena memang pemberdayaan SDM di kalangan kita kurang. Saya masih ingat, dulu seorang AS. Hikam, dia sarjana sastra dan doktor di bidang politik, menjadi peneliti LIPI, sekaligus politisi PKB. Di jaman Mbah Dur, AS. Hikam pernah menjadi Menteri Riset dan Teknologi, sekaligus Ketua BPPT. Jelas itu sebuah lompatan yang sangat dramatis. “Tak sedap di mato,” kata orang Padang.
Seorang ikhwan di Depok, pernah mendengar ucapan Walitota Depok, Nurmahmudi Ismail. Katanya, Pak Nur pernah mengakui bahwa menjadi Walikota itu jauh lebih sulit daripada menjadi seorang Menteri (Kehutanan). Nah, ini salah satu ilustrasi bagus. Seorang Menteri Kehutanan hanya membidangi satu masalah saja, sedangkan seorang Walikota menghadapi segala macam masalah rakyatnya. Sejak dari masalah anak diare sampai tender proyek, dari soal pembangunan masjid sampai pembuangan sampah, dari masalah gelandangan sampai kunjungan pejabat dari Pusat. Komplek sekali coverage area-nya. Untuk menjadi seorang kepala daerah, sangat dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan multi disipliner.
Saya pernah mendengar sebuah pandangan. Sebagian orang tidak setuju dengan corak studi spesialis. Lho, kok begitu? Katanya, kalau spesialis cara berpikirnya menjadi sempit. Seorang sarjana agama akan keberatan kalau disuruh membuat proposal bisnis; seperti sarjana teknik mesin akan stress kalau disuruh mengajar anak-anak TK. Masalah-masalah di masyarakat seringkali membutuhkan kemampuan multi disipliner, tidak melulu spesialisasi.
Saya sendiri mendapati banyak contoh di sekitar. Seorang teman sarjana IAIN, tetapi mahir ngoprek motor. Teman yang lain pegawai administrasi, tetapi pintar memasak, sampai membuat cake yang rumit-rumit. Seorang sahabat, kuliah di Hama Penyakit Tanaman (HPT), tetapi sehari-hari bekerja di proyek penelitian sipil dan konstruksi. Saudara sendiri lulusan SMA jurusan Biologi, tetapi bekerja di bidang pengelasan mesin-mesin pembangkit listrik. Dia biasa berurusan dengan tower-tower, pipa besar, baja tebal, tabung-tabung, dsb. Bahkan ada saudara yang semula bekerja di Petrokimia, kemudian menjadi asisten pelatih sepak bola. Ada juga seorang kenalan dulu, dia sarjana Teknik Industri, tetapi terjun berbisnis jualan kerupuk. Sebenarnya, kalau mau disisir lebih teliti, sangat banyak contoh para “pelompat pagar” itu. Sekat-sekat spesialisasi tidak menjadi halangan untuk berkiprah di bidang yang diminatinya. Saya sendiri, sejak kecil tidak pernah sekolah agama, ketika kuliah juga mengambil studi umum, tetapi kemudian menjadi penulis.
Sekedar tambahan, lihatlah kerja besar Dr. Harun Yahya. Dalam usahanya melawan dominasi filsafat materialisme di bidang sains, khususnya berkaitan dengan teori Evolusi Darwin, beliau mengerahkan sekian banyak disiplin ilmu. Kalau melihat studi kesarjanaannya, beliau adalah lulusan Jurusan Seni di Universitas Mimar Sinan Turki. Tetapi dalam menghadapi teori Darwin, beliau mengkaji sains Biologi, Paleontologi, Genetika, Geografi, Sejarah, filsafat, bahasa, dan tentu saja Al Qur’an dan Tafsir. Menurut ibu beliau, Harun Yahya di waktu mudanya sangat gigih. Dia bisa sangat lama membaca berbagai referensi sains, termasuk yang berbahasa Inggris. Dulu Imam Al Ghazali rahimahullah menggunakan pemikiran berbagai macam sekte-sekte akidah untuk membantah filsafat Yunani. Salah satu karya monumental beliau adalah Tahafutul Falasifah (kerancuan ilmu filsafat). Keahlian dan wawasan multi disipliner kerap kali dibutuhkan untuk melahirkan karya besar.
Apakah Spesialisasi Ilmu Tidak Perlu?
Tentu saja, spesialisasi sangat dibutuhkan. Ia adalah bagian dari upaya tadabbur (pendalaman) terhadap materi ilmu sedalam-dalamnya. Hanya saja, kebutuhan terhadap spesialisasi itu jangan didasari oleh sikap arogansi, misalnya karena merasa lebih spesialis dari lainnya. Selain itu, kebutuhan kepada spesialisasi juga jangan mematikan konsep berpikir holistik yang diajarkan oleh Al Qur’an, As Sunnah, dan sesuai bakat sistem syaraf manusia itu sendiri.
Kalau mau jujur, spesialisasi adalah kebutuhan wajar manusia. Setiap kita menghadapi masalah-masalah yang bersifat praktis, pasti membutuhkan spesialisasi. Misalnya seorang profesor yang ahli di bidang pemikiran, filsafat, sejarah, dan Sosiologi. Saat dia menghadapi masalah komputer rusak, mesin mobil macet, talang bocor, pompa air ngadat, listrik konslet, pakaian robek, dan sebagainya. Saat itu dia pasti butuh spesialis yang bisa membantunya bekerja secara teknis. Tidak mungkin rasanya, untuk menghadapi semua itu kita hanya bermodal teori-teori yang bersifat global. Jadi, spesialisasi itu kebutuhan riil manusia, khususnya ketika berhadapan dengan masalah-masalah praktis.
Sebuah qudwah mulia dari Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam. Beliau ini Nabinya orang-orang beriman yang dikarunia kemampuan multi disipliner. Beliau adalah seorang Nabi, Rasul, imam Shalat, Mufti, rujukan konseling, pelayan Ummat, pemimpin negara, diplomat, ahli strategi, panglima perang, seorang suami, ayah, mertua, sahabat, tetangga, dan sebagainya. Tetapi saat beliau mendapati masalah-masalah praktis, seperti memasak roti, menjahit baju, memperbaiki sandal, dan sebagainya, beliau bertindak sebagai seorang spesialis.
Bagaimana Posisi “Ilmu Wartawan”?
Sebagian wartawan ada yang sekedar menyampaikan apapun informasi menarik yang mereka temukan. Tetapi wartawan-wartawan senior tertentu memiliki wawasan pengetahuan yang tinggi. Mereka selain berwawasan luas, juga mampu mengaitkan satu persoalan dengan persoalan lain. Selain itu, mereka memiliki kepedulian terhadap catatan sejarah dari waktu ke waktu. Itu kalau benar-benar wartawan yang mumpuni, jurnalis sejati yang mengabdi di lapangan pendidikan publik melalui informasi-informasi dan opini sosial. Wartawan seperti ini di Indonesia tergolong langka, misalnya Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis.
Secara Syar’i, posisi ilmu jurnalistik untuk membangun opini positif tentang Islam dan kaum Muslimin sangatlah tinggi. Ia tidak sesederhana yang dibayangkan. Posisi ilmu seperti itu setara dengan posisi Asbabun Nuzul dalam ilmu-ilmu Al Qur’an. Hal ini membutuhkan kajian yang mendalam yang terlalu panjang jika disatukan disini. Mudah-mudahan suatu nanti ia bisa dibahas. Amin.
Ilmu jurnalistik jika hanya digunakan untuk tujuan komersial, bisnis, atau industri, nilainya tidak seberapa. Tetapi jika ia tulus digunakan untuk membangun masyarakat yang beriman dan bertakwa, maka ia merupakan Jihad agung yang dibutuhkan setiap peradaban Islam. Hal itulah yang selama ini diemban oleh jurnalis-jurnalis Islam yang mukhlis. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.
Upaya Membangun Pemikiran Holistik
Mungkin tema ini terlalu panjang kalau dibahas disini, ia bisa menjadi sebuah buku tersendiri. Soekarno dulu pernah bertutur tentang kisah romantisnya dengan Ibu Hartini. Kata Soekarno, kalau kisah romantis itu diceritakan, mungkin bisa menjadi sebuah buku tersendiri. Tentu, saya tidak bermaksud menduplikasi cara berkelit ala Soekarno. Kalau ada, ya sedikit. (He he he…bisa aja membela diri).
Berikut ini saran-saran untuk membangun metode berpikir holistik:
(1) Dalam upaya ini sebenarnya tidak ada teori khusus, sebab berpikir holistik itu sudah sesuai fithrah manusia. Al Qur’an dan As Sunnah telah di-setting sesuai fithrah manusia. Hal ini merupakan salah satu potensi yang memudahkan setiap Muslim untuk berpikir terbuka dan luas. Alhamdulillah.
(2) Anda harus memahami bahwa kehidupan ini sangat komplek, tidak satu warna, tidak satu bentuk, tidak satu corak. Seperti Anda lihat lingkungan di sekitar Anda, disana ada meja, kursi, lemari, piring, gelas, buku, kertas, pensil, boneka, mainan anak, lampu, tikar, pakaian, sepatu, radio, TV, komputer, kucing, semut, cicak, tanaman, rumput, dan sebagainya. Situasinya komplek! Nah, begitu pula dengan dunia ilmu. Khazanah ilmu sangat luas. Hingga Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, “Setiap bertambah ilmuku, semakin tahu aku akan kejahilanku.” Dalam Surat Al Kahfi ayat 109 disebutkan, ilmu Allah itu sangat luas. Andai lautan menjadi tinta dan pohon-pohon menjadi pena, lalu ditambahkan sejumlah itu lagi, ia tidak akan bisa menuliskan semua kalimat-kalimat Allah. Konsekuensinya, kalau Anda hanya berpikir dari satu arah saja, enggan melihat arah-arah yang lain, maka sangat banyak kenyataan hidup yang terlewat dari hadapan Anda.
(3) Ketika berhadapan dengan keragaman ilmu-ilmu, Anda jangan merasa minder atau merasa cepat letih untuk memahami semua itu. Kalau Allah hadapkan Anda pada suatu persoalan, berarti Anda telah dipercaya untuk memahami persoalan itu. Bukan hanya ilmu yang terhampar dalam buku-buku, atau di majlis-majlis ilmu, bahkan setiap retakan dinding, gerakan kaki semut, garis-garis kayu, semilir angin, sampai butiran-butiran kerikil yang terinjak kaki, semua itu bisa menjadi sumber pengetahuan. Andai Anda memiliki kesempatan untuk merenungi, lakukanlah. Nikmati, nikmati, dengan niatan menyelami ayat-ayat Allah Ta’ala (ayat kauniyyah). Mungkin waktu itu informasi tersebut belum terlihat manfaatnya, tetapi suatu saat nanti Anda akan mensyukurinya. Bukalah pintu-pintu pikiran Anda untuk merekam ilmu-ilmu kauniyyah seluas-luasnya. Hal ini sungguh sangat bermanfaat, bila telah tiba momentumnya. Alhamdulillah.
(4) Cobalah lebih menghargai ilmu pengetahuan, baik berupa tulisan, perkataan, atau gambar. Seperti disebutkan dalam Al Qur’an, kalau kita bersyukur, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya. (Surat Ibrahim, 7). Kalau ada orang berbicara, seandainya isinya penting, jangan segan untuk mendengar, meskipun dari orang yang diremehkan sekalipun. Kalau ada tulisan yang bermanfaat, jangan segan untuk membaca, hingga dari kertas-kertas pengumuman yang ditempel. Kadang kita mendapatkan informasi-informasi berharga dari potongan-potongan kertas yang terabaikan.
(5) Alangkah baik kalau setiap kita memiliki buku catatan kecil (semacam agenda) untuk mencatat informasi-informasi penting yang diperoleh, baik yang dicari secara sengaja atau tidak. Ali bin Abi Thalib Ra. mengatakan, “Ikatlah ilmu itu dengan mencatatnya!” Nasehat beliau ini sangat penting sekali. Para ilmuwan rata-rata memiliki catatan pribadi untuk mencatat apapun yang menurut mereka penting. Meskipun saat ini era digital, tidak berarti tulisan manual (manuskrip) itu menjadi tidak berguna. Tidak, ia tetap sangat berguna. Apalagi dalam Surat Al Alaq disebutkan, “‘Allamal insana bil qalam” [(Allah) mengajarkan ilmu kepada manusia dengan pena].” Sampai Hari Kiamat, pena ini tetap dibutuhkan.
(6) Ketika berhadapan dengan lautan ilmu pengetahuan, ada dua pendekatan yang bisa Anda tempuh: Pertama, mengumpulkan manfaat; Kedua, menjadi seorang ilmuwan Muslim. Kalau Anda hanya ingin mengumpulkan manfaat informasi, maka kumpulkan saja informasi yang baik-baik dan bermanfaat, lalu abaikan segala macam informasi yang buruk, tercela, atau tidak penting. Kalau Anda merasa suatu sumber ilmu tidak berguna atau merugikan, segeralah berpaling sejauh-jauhnya. Baik juga kalau Anda berdoa, “Rabbi zidni ilman nafi’an” (wahai Rabb-ku tambahkan kepadaku ilmu yang bermanfaat). Tetapi kalau Anda mau jadi seorang ilmuwan Muslim, harus berani berhadapan dengan konflik pemikiran, konfrontasi ideologi, sampai ikhtilaf yang rumit-rumit. Pilihan kedua itu lebih berat, tetapi derajatnya di sisi Allah tentu lebih mulia. Dalam hadits Tirmidzi disebutkan, “Inna ‘izhamil jaza’i ma’a ‘izhamil bala’” (sesungguhnya besarnya balasan itu setara dengan besarnya ujian). Syaikh Al Albani rahimahullah pernah mengatakan, bahwa di masa mudanya beliau rajin membaca, baik bacaan yang halal maupun haram. (Tentu maksudnya, bukan menyuruh Anda membaca bacaan-bacaan haram, tetapi dalam proses kehidupan seorang ‘alim, konflik pemikiran itu sering terjadi).
(7) Hindari sikap fanatik kepada siapapun, selain kepada Allah dan Rasul-Nya. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan, “Setiap perkataan bisa diambil atau ditolak, selain perkataan penghuni pusara ini.” Kata beliau sambil menunjuk ke makam Nabi Saw di dekat Masjid Nabawi. Ukuran kebenaran ialah timbangan Kitabullah dan Sunnah, bukan fanatisme. Kalau ada orang yang bermaksud mendoktrin agar Anda menjadi manusia fanatik, katakan kepadanya, “Saya tidak mengibadahi Fulan atau Fulan, tetapi mengibadahi Allah Al Wahid.” Fanatik kepada madrasah, kitab, tokoh, atau apapun tidak dibernarkan. Kita boleh memilih salah satu ijtihad ulama’, dengan pertimbangan hal itu yang paling mampu kita lakukan. Meskipun begitu, kita tidak boleh meyakini ijtihad itu sebagai satu-satunya kebenaran, lalu menutup pintu bagi datangnya kebenaran dari arah lain. Bukankah sudah masyhur perkataan Imam Syafi’i, “Jika suatu hadits telah dinyatakan shahih, maka dialah madzhabku.”
(8) Dalam membangun pemikiran ini, kita harus bertumpu kepada keimanan kepada Al Qur’an dan hadits-hadits shahih. Kitabullah dan Sunnah inilah yang akan memberikan kerangka kepada kita untuk menyelami lautan ilmu-ilmu Allah Ta’ala. Tanpa keimanan kepada Kitabullah dan As Sunnah, biarpun Anda hafal isi Encyclopedia Britannica yang puluhan jilid itu, sampai titik-komanya, hal itu tidak ada artinya. Untuk apa Anda mengumpulkan informasi sedemikian banyak, jika ia tidak berguna untuk menuntun hati Anda bersyukur kepada Allah? Kitabullah dan Sunnah akan menjadi kerangka, agar ujung dari semua kiprah ilmiah ini menjadi: Tasyakur billah! Dalam Al Qur’an, “Dan Dialah (Allah) yang telah menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati. Amat sedikit dari kalian yang bersyukur.” (Al Mu’minuun: 78).
(9) Untuk mendalami sesuatu, kita harus memiliki fondasi jiwa yang kokoh. Jika jiwa kita kokoh, mau menggeluti bidang apapun, insya Allah akan paripurna (dalam ukuran manusia). Untuk itu kita butuh tarbiyah ruhiyah. Seperti saran para Wali Songo: membaca Al Qur’an dengan memahami maknanya, shalat malam dijalankan, berkumpul dengan orang Shalih, puasa Sunnah di siang hari, serta tekun berdzikir di malam hari. Saya tambahkan lagi: Berdoa kepada Allah, bertaubat kepada-Nya, senang membantu sesama Muslim, dan sebagainya. Dengan cara demikian, Anda akan dianugerahi kekuatan jiwa. Insya Allah.
(10) Selanjutnya, kita perlu mengamalkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh. Mungkin sulit mengamalkan seluruh ilmu itu, tetapi semoga Allah memberi kita taufik untuk mengamalkan sebagiannya dan Dia memaafkan kita atas ilmu-ilmu yang belum diamalkan dengan baik. Allahumma amin. Dan tentu saja, ilmu-ilmu itu juga perlu dibagi kepada Ummat Islam, dengan tanpa pamrih, dengan komitmen menyampaikan kebenaran, dan tidak takut selain hanya kepada-Nya. Jangan pelit untuk berbagi kebaikan. Contohlah Dr. Harun Yahya, semoga Allah selalu menjaganya, dia tidak segan membagikan ilmunya secara free charge ke seluruh dunia (tidak memungut royalti). Begitu pula situs Al Meshkat, mereka berletih-letih membangun Al Maktabah As Syamilah yang luar biasa itu, lalu membagikannya gratis ke seluruh dunia. Banyak para ulama di Timur Tengah yang membiarkan buku-bukunya tersebar meluas, tanpa pelit mempertanyakan hak royaltinya. Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, “Aku berharap seandainya ilmuku tersebar seperti angin, dan orang tidak perlu tahu dari mana ia berasal.” Contohlah manusia-manusia budiman ini, jangan menjadi manusia koret dalam ilmu, sehingga Allah pun enggan membukakan keluasan khazanah ilmu-Nya. Jadilah hamba yang mulia dengan melayani ilmu dan kebenaran di jalan Allah Ta’ala.
(11) Bagaimanapun tubuh kita membutuhkan istirahat dan syaraf-syaraf kita membutuhkan pereda ketegangan (refreshing). Ibarat mesin yang terus dipacu, tanpa kenal henti, ia akan cepat rusak. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan-keterbatasan fisik, sehingga butuh istirahat di sela-sela kepenatan dan segala keletihan. Hiburan yang cerdas dan sehat sangat membantu melemaskan ketegangan. Sebuah nasehat berharga yang pernah disampaikan seseorang, “Tubuhmu ini satu-satunya yang kau miliki, maka jagalah ia sebaik-baiknya.” Boleh kita beristirahat, berhibur, atau menikmati jamuan rizki Allah. Semua itu halal, selama tidak berlebih-lebihan. Dalam Al Qur’an, “Dan makanlah kalian dan minumlah, namun janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al A’raaf: 31). Kalau mau jujur, sumber-sumber hiburan itu sangat banyak. Hingga senyuman anak kita, tawa lepas mereka, atau kepolosan kata-katanya, ia bisa menjadi hiburan yang menggembirakan hati. Alhamdulillah. Bahkan obrolan ringan di jalan, di atas kendaraan, di depan warung, di tempat wudhu, dan sebagainya, hal itu juga bisa menjadi sumber hiburan. Tidak berlebihan jika Nabi mengajarkan agar kita murah senyum kepada sesama Muslim, menebar salam, berkata-kata yang baik, menyambung shilaturahim, dan sebagainya. Semua itu tanpa disadari adalah pereda berbagai ketegangan yang menyelimuti diri.
Selanjutnya, saat kita berbicara tentang pendidikan generasi, ajarkanlah konsep berpikir holistik kepada anak-anak. Jangan membatasi kebebasan mereka untuk merambah pengetahuan seluas mungkin, selama ia baik, terpuji, dan bermanfaat. Yakinlah, fithrah mereka telah disiapkan untuk itu. Bahkan berpikir holistik akan memudahkan mereka memahami Kitabullah dan Sunnah. Adapun spesialisasi tetap diperlukan, sebab bagaimanapun kita akan menghadapi masalah-masalah teknis yang dicapai dengan spesialisasi. Konsep berpikirnya holistik, tetapi masing-masing tetap memiliki spesialisasi di bidang-bidang tertentu. Seperti yang saya alami, ketika berbicara soal media, penerbitan, atau bisnis tetap berpikir spesialis.
Demikian yang bisa disampaikan. Semoga hal ini bermanfaat bagi Anda, saya, keluarga kami, kita semua, dan kaum Muslimin. Allahumma amin. Saran, kritik, masukan, insya Allah akan diterima dengan lapang hati. Boleh melalui e-mail, boleh juga lewat komentar di blog ini. Bila Allah ijinkan, mungkin kita bisa bertemu muka suatu saat nanti. Mohon doanya selalu, agar Allah memudahkan upaya ini. Tidak ada yang bisa diandalkan pertolongan dan perlindungannya, selain Allah Ta’ala. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.
Wallahu a’lam bisshawab.
Ardhillah, 5 November 2008.
AM. Waskito.