Laman

Minggu, 22 April 2012

MAKNA & DEFINISI

PENDAHULUAN
Bahasa merupakan sistem komunikasi yang sangat penting bagi manusia. Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa sentiasa dianalisis dan dikaji dengan menggunakan berbagai pendekatan. Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji bahasa ialah pendekatan makna. Semantik adalah ilmu yang mempelajari tentang makna bahasa, perkembangan dan perubahannya. Makna adalah pertautan yang ada diantara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). [1]Dalam kajian semantik, terdapat berbagai aspek makna yang dapat dianalisis, seperti permasalahan tentang makna, ragam makna, relasi makna, perubahan makna dan penamaan. Permasalahan tersebut akan muncul ketika seseorang mulai untuk mempelajarinya lebih dalam, hal objek yang dibahas adalah tentang ragam makna yang jenis-jenisnya begitu banyak.  Pada makalah kali ini akan dibahas tentang makna dan definisi.
A.   MAKNA DAN KAMUS
Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja  yang kita tuturkan. Menurut Aristoteles  terdapat kedekatan yang sangat erat antara makna dan definisi, karena definisi sangat berperan dalam memberikan konsep teori pembentukan makna. Makna merupakan sarana penghubung antara bahasa dengan dunia diluar bahasa yang telah disepakati para pemakainya sehingga mereka bisa berkomunikasi. [2]
Contoh : Ketika kita mendengar konsep kata ”Kuda” maka akan muncul beberapa preposisi
a. Jika X adalah kuda, maka X adalah binatang
b. Jika X adalah kuda, maka ia akan punya rambut
c. X adalah ayam jago, sehingga X bukanlah kuda
d. Jika X adalah kuda, maka ia adalah mamalia berkaki empat besar dan punya kuku serta rambut.
Dari contoh di atas, pemahaman tentang definisi sangat diperlukan untuk mengembangkan konsep teori makna. Selama ini ketika orang berpikir tentang makna, maka akan cenderung menghubungkan dengan definisi yang terdapat pada kamus.
Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie, signified) sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual). Bloomfied mengemukakan bahwa makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya. [3]
 Contoh : Ayah saya pemandu.
Ayah                                    saya                                                     pemandu

manusia                                 ganti nama                                          manusia
lelaki                                    manusia                                              membawa kendaraan
dewasa                                  orang yang berkata                            Pintar berkomunikasi
bapa kepada anak

a.    Semantik dan Lexicography
Semantik merupakan bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda atau dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik. Menurut Saussure, bahasa itu terdiri dari kumpulan kesan/makna seperti yang terdapat pada kamus, tersimpan di dalam otak dan dimiliki oleh setiap orang sehingga bisa digunakan kapan saja sesuai dengan keinginan masing-masing. Otak kita seperti gudang kata yang bisa menyimpan ingatan dalam jangka waktu yang lama akan bentuk-bentuk pola kalimat, frase dan kalimat.[4] Leksikon mental diibaratkan sebagai gudang dimana kita menyimpan barang. Akan tetapi gudang ini bukan sembarang gudang karena tidak hanya barangnya yang disimpan itu unik, yakni kata tetapi cara pengaturannya juga sangat rumit. Kita bisa cari untuk permintaan barang yang masuk, permintaan itu bisa berupa bunyi, wujud fisik, wujud grafik atau hubungan antara satu ”barang” dengan barang yang lainnya. Leksikon mental sering juga dinamakan kamus mental, mempunyai sistem yang memungkinkan kita untuk meretrif kembali kata-kata secara cepat meskipun kata tersebut disimpan secara acak dengan ribuan kata yang lain. Berbeda dengan kamus biasa yang hanya menyimpan kata, leksikon mental menyimpan kata sekaligus menyediakan informasi berkaitan dengan kata yang akan diucapkan yaitu berupa informasi tentang fonologi, sintaksis, semantik, dan pengejaan kata. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa tugas utama linguistik semantik yaitu memberikan dan mengumpulkan penjelasan dari arti masing-masing kata yang terdapat dalam leksikon mental. Garman berpendapat bahwa bagi pembicara/penulis pencarian kata-kata merupakan bagaimana pemetaan ide atau arti kata dalam leksikon mental yang dituangkan dalam bentuk kata- kata yang sesuai untuk diimplementasikan dalam bahasa lisan/tulisan. Sedangkan bagi pendengar/pembaca proses tersebut lebih menekankan kepada pemetaan porsi sinyal yang akan diteruskan ke saraf sensorik untuk memberikan arti/makna kata.[5]
Adapun leksikografi merupakan ilmu tentang cara penyusunan kamus. Dalam menyusun kamus diperlukan ilmu-ilmu lainnya yang berhubungan seperti: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik. Pembentukan kamus yang melibatkan leksikon mental lebih memberikan informasi secara rinci terhadap suatu kata baik secara gramatikal maupun phonologinya. Contohnya adalah kata ”Pour” yang terdapat pada Concise Oxford Dictionary. Kamus merupakan alat yang sangat popular, jika kita melihat sejarah munculnya kamus maka kamus bilingual lebih dahulu diciptakan dibandingkan dengan kamus monolingual. Kamus bilingual bahasa Latin-Vernacular sangat terkenal di Eropa ketika pertengahan dan akhir dari abad 14 dan akhir abad 15  (Auroux 1994-119). Setelah itu baru muncullah kamus monolingual yang bertujuan untuk jadi petunjuk bagi orang yang ingin mengkaji lebih dalam tentang kegunaan bahasa lisan.
Salah satu ilmu yang diperlukan dalam penyusunan kamus yaitu semantik. Makna yang terdapat dalam semantik yaitu leksikal, gramatikal, kontekstual, idiomatikal, dan sebagainya. Makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Makna leksikal ini  merupakan kata yang masih berdiri sendiri baik berupa leksem . Contoh : kuda, meja, buku, dan lain-lain. Menurut John I Saeed tujuan dari makna leksikal ini adalah : untuk memberikan arti dari masing-masing kata dalam bahasa serta untuk menunjukkan bagaimana hubungan atau keterkaitan dari makna atau arti kata tersebut.[6] Makna lain dari semantik yaitu makna gramatikal, yaitu makna yang timbul dalam suatu proses gramatika baik proses afiksasi, reduplikasi maupun komposisi. Berbicara makna maka ada beberapa aspek yang terlibat, seperti pengertian (sense), perasaan (feeling), nada (tone) serta maksud (intention).[7] Sejauh ini kata yang tertulis dalam kamus jarang disertai dengan pengertian (sense) yang jelas, misalnya dijelaskan dengan frase kata yang mengikutinya sehingga sering terjadi kesalahan penggunaan kata. Contohnya utuk kata ”Pour” yang memiliki banyak arti bila kata tersebut diikuti dengan frase kata lainnya:
1.        I was pouring the rainwater when the phone rang.
2.        I was pouring the mud when the phone rang.
3.        I was pouring the rainwater over the ground when the phone rang.
4.        I was pouring the mud down the hole when the phone rang.
Kalimat 1 dan 2 masih dipertanyakan kejelasannya karena tidak adanya frase yang mengikuti kata tersebut unuk lebih memperjelas makna kalimat, sedangkan kalimat 3 dan 4 lebih jelas dan maknanya pun dapat diterima secara jelas juga.
Perlu kita ketahui bahwa definisi yang terdapat dalam kamus merupakan definisi yang berdasarkan kata atau semasiological yang mengarah pada makna. Pendekatan ini biasanya dimulai dengan menentukan leksemnya terlebih dahulu, setelah itu baru mengartikan maknanya masing-masing. Berbeda dengan pendekatan onomasiological yang memulai dari makna tertentu kemudian mengurutkan beberapa bentuk variasi yang memungkinkan mempunyai kesamaan dari makna kata tersebut.  Semasiological menyebutkan beberapa kata : scare, terrify, frighten, startle, spook, panic. Onomasiological menyebutkan kata : Frighten

B.   SATUAN MAKNA
a.    Kata dan Morfem
Kata Merupakan satuan terbesar dalam morfologi dan satuan terkecil dalam sintaksis. Menurut Bloomfield  ”Word is a minimum free form, i.e the minimal unit which may appear on its own without any additional grammatical material, is clearly insufficient : many canonical words like the, of, or my do not usually appear alone, but must presumably considered as fully fledged words.”  Kata merupakan satuan terkecil yang belum mendapatkan proses gramatikal, beberapa kata resmi seperti like, the, of tidak muncul sendiri biasanya diikuti dengan kata dasar/baku.[8]
Istilah kata didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri yang dapat terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem. Sebagai contohnya; Satuan tanda merupakan sebuah bentuk bebas karena tidak dapat dibagi menjadi satuan-satuan bebas lainnya. Satuan menandai bukan bentuk bebas. Tetapi perhatikan bentuk atau satuan tanda tangan dapat dibagi menjadi dua satuan yakni tanda dan tangan. Namun kalau diteliti lebih jauh, sebenarnya satuan tanda tangan memiliki satu kesatuan yang utuh atau padu.
Dengan perkataan lain, tanda tangan memiliki sifat sebuah kata yang membedakan dirinya dari frase. Bentuk-bentuk atau satuan-satuan yang setipe itu tidak mungkin dipisahkan atau dibalikkan menjadi tangan tanda  atau dipisahkan satuan lain tanda itu tangan. Satuan itu bukan merupakan bentuk bebas seperti contoh lainnya di, ke, daripada- tetapi secara gramatis memiliki sifat bebas. Satuan-satuan seperti contoh di atas di sebut kata. Berdasarkan penjelasan di atas, nyatalah bahwa kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Kata-kata seperti: duduk, makan, tidur, meja masing-masing terdiri atas sebuah morfem, sedangkan penduduk, makanan, meja makan, kaki tangan masing-masing terdiri atas dua buah morfem. Kata-kata yang terdiri atas satu morfem disebut kata bermorfem tunggal atau kata monomorfemis (monomorphemic word) dan kata-kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih disebut kata bermorfem jamak atau kata polimorfemis .[9]
 Bloomfield (1933 : 161) mendefinisikan morfem sebagai “ a linguistic from wich bears no partial phonetic-semantic resemblance to any other form, is a simple form or morpheme. (Maksud pernyataan itu, “satu bentuk lingual yang sebagiannya tidak mirip dengan bentuk lain mana pun secara bunyi maupun arti adalah bentuk tunggal atau morfem).
Morphemes are the smallest individually meaningfull element is the utterances of a language (Hockett, 1958 : 123). Maksudnya, morfem adalah unsur-unsur yang masing-masing mempunyai makna dalam tutur sebuah bahasa.
Pada dasarnya, morfem merupakan satuan gramatik terkecil baik bebas maupun ikat yang memiliki arti, baik secara leksikal maupun gramatikal. Sebagai contoh bentuk sakit adalah sebuah morfem karena tidak dapat dibagi menjadi bentuk-bentuk terkecil lainnya serta mengandung makna atau arti leksis. Bentuk meN- juga merupakan sebuah morfem, karena merupakan bentuk terkecil bahasa Indonesia, walau tidak mempunyai makna leksikal, tetapi mempunyai makna gramatikal. Jadi jelas, bahwa morfem itu bisa berbentuk bebas (seperti: ke-, ter-, peN-, di-, per-an, peN-an). Oleh karena itu, morfem dapat diklasifikasikan menjadi morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas mempunyai potensi untuk berdiri sendiri (jadi secara sintaksis bisa langsung menjadi kata), sedangkan morfem terikat tidak dapat. Dalam kata terangkat terdapat morfem bebas angkat dan morfem terikat ter.
Di dalam buku Introduction Semantics dijelaskan selain kata tunggal ada juga frase kata kerja yang biasa diikuti oleh partikel atau kata majemuk yang terdiri dari beberapa kata yang membentuk arti/makna baru. Contohnya : Phrasal Verb : dispose of (membuang), touch down (mendarat), play around (bermain-main), call off (membatalkan), set up (mempersiapkan), break down (merobohkan), put up with (menahan), get on with (meneruskan),look down on (merendahkan), …
Noun Compound : tree house (tipe rumah yang terdiri dari 3 rumah) ,zebra crossing (penyebrangan jalan yang bergaris putih seperti Zebra), junk food (makanan siap saji), instruction book (buku panduan).

b.   Simbol Suara (Onomatopoeia)
Onomatopoeia adalah kata-kata yang diambil dengan cara menirukan bunyi sumbernya. Onomatopoeia merupakan kosakata yang dibentuk berdasarkan ‘bunyi’ atau ‘suara’ yang dikeluarkan oleh kata yang bersangkutan. Kosakata ini bisa berbentuk kata benda, kata kerja, kata sifat dan sebagainya. Contoh sederhananya adalah "mengeong" yang diambil dari bunyi kucing. Contoh lainnya dalam bahasa Inggris, berikut ini suara yang sering ditemukan yang ada hubungannya dengan suara air : Karasakas (suara daun), karasikis (suara bambu), saraisi (suara air), barasabas (suara hujan lebat), dissuor (suara ombak)

c.    Idiom
Idiom merupakan satuan-satuan bahasa bisa berupa kata, frase, maupun kalimat yang maknanya tidak sama dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Contohnya ; membanting tulang, jantung hati dan lain sebagainya. Makna idiomatikal adalah makna sebuah satuan bahasa (kata, frase atau kalimat) yang “menyimpang” dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Dalam buku Introduction Semantics contoh idiom seperti “ To scoop the pool” yang berarti “untuk meraih atau memenangkan sesuatu”. Bila diartikan secara terpisah masing-masing kata tersebut maka, “scoop adalah memindahkan sesuatu dalam jumlah besar dengan cepat dalam sekali gerakan”. Sedangkan ”pool adalah pusat berkumpulnya barang”. Jelas sekali berbeda antara makna secara terpisah dari masing-masing kata tersebut dengan makna idiom setelah dua kata tersebut bergabung. Dimana ketika dua kata tersebut bergabung maka akan menimbulkan arti baru.

d.   Makna Kontekstual
Makna kontekstual adalah makna sebuah kata atau gabungan kata atau suatu ujaran di dalam konteks pemakaiannya.Makna ini muncul sebagai akibat antara ujaran dan konteks. Banyak faktor yang mempengaruhi konteks ini, yaitu : konteks pembicara, kebahasaan, waktu, tujuan, situasi atau suasana hati si pembicara/pendengar, objek pembicaraan, dan lain-lain. Makna kontekstual ini berkaitan erat dengan kolokasi. Definisi kolokasi dijelaskan oleh Baker sebagai kecenderungan sejumlah kata untuk bergabung secara teratur dalam suatu bahasa, tetapi kata yang mana dapat berkolokasi dengan kata apa tidak ada hubungannya secara logis.[10] Shei dan Pain menegaskan bahwa kolokasi ialah sekelompok kata yang sering muncul bersama.[11] Sejalan dengan itu, dalam Oxford Collocations Dictionary dijelaskan bahwa kolokasi adalah ”the way words combine in a language to produce a natural-sounding speech and writing”. Kolokasi berbeda dengan idiom. Idiom adalah ungkapan yang kalau diterjemahkan secara harfiah tidak masuk akal atau ungkapan yang maknanya tidak dapat ditelusuri melalui kata per kata dan membentuk kata baru.[12] Misalnya, idiom ‘cuci tangan’ dalam kalimat ‘Mereka cuci tangan atas masalah itu’. Idiom ‘cuci tangan’ tidak bisa dipahami melalui kata ‘cuci’ dan kata ‘tangan’, tetapi harus dipahami sebagai satu kesatuan. Sebaliknya, kolokasi adalah gabungan kata yang maknanya dapat ditelusuri melalui kata per kata, tetapi tidak membentuk kata baru. Misalnya, gabungan kata ‘memanjat pohon’ dapat dipahami maknanya melalui kata ‘memanjat’ dan kata ‘pohon’. Dengan demikian, kolokasi adalah kecenderungan sejumlah kata atau sekelompok kata untuk bergabung secara teratur guna menghasilkan bicara dan atau tulisan yang terdengar lazim dan berterima dalam suatu bahasa.
Contohnya adalah kata ”cut” yang memiliki banyak padanan kata yang mengikutinya, seperti :
cut a cake
cut someones’s hair
cut a wood
cut a diamond
cut  a deck of cards
cut a disc
cut a notch                                                  

compositional meaning                                       (arti kata= kata majemuk)
           
non compositional meaning
 (arti bukan kata majemuk)
Cut has same vague /general meaning in every collocation
(arti tidak jelas/umum)

Cut has different meaning in every collocation
(artinya berbeda-beda)

Untuk contoh kata “cut” ini, secara umum mempunyai arti (general meaning) memotong dengan menggunakan benda tajam. Dalam kata majemuk kata ”cut” diikuti dengan kata benda lainnya. Namun pada kenyataannya tidak semua arti ”cut” memotong ini dilakukan dengan benda tajam, misalkan cut a deck of cards (membagikan kartu), cut in (menerobos antrian) atau cut butter (memotong mentega) karena bisa juga memotong mentega ini tidak menggunakan benda tajam. Dengan demikian maka arti ”cut” secara umum menjadi tidak sesuai dengan konteksnya, karena tidak jelas atau ambigu. Inilah yang menjadi masalah dalam Hipotesis arti kata ”cut” secara umum. Menyikapi hal tersebut, maka timbullah arti kata ”cut” dalam arti yang berbeda-beda sesuai dengan konteks kalimatnya, namun masalahnya arti kata ”cut” ini menjadi banyak sehingga tidak efisien dan membingungkan makna leksikalnya.
Bila kita lihat arti ”cut” ini secara bukan kata majemuk maka artinya menjadi satu kesatuan, tanpa harus per kata dan memiliki arti yang jelas. Contohnya: Cutting the grass (memotong rumput), cutting a disc (mendengarkan musik).


                      
C.     BERBAGAI CARA MENDEFINISIKAN MAKNA
Definisi adalah keterangan yang merupakan penjelasan atau uraian tentang arti suatu kata atau uangkapan yang membatasi makna kata ataupun ungkapan tersebut. Kata atau ungkapan yang hendak dijelaskan disebut definiendum sedangkan bagian yang dijelaskan definiendum itu disebut definiens.

a.    Definisi Real dan Nominal
Definisi Real yaitu mendefinisikan kata yang sudah umum digunakan. Definisi ini biasanya mengacu pada kata referennya. Contohnya menggunakan kata garam dibanding dengan NacL.
Definisi Nominal merupakan suatu jenis definisi yang baru sama sekali atau memberikan suatu arti baru pada kata yang sudah lama ada. Dan definisi ini merupakan suatu cara untuk menjelaskan sesuatu dengan menguraikan arti katanya. Dalam Definisi Nominal dapat dinyatakan dalam 3 cara, yaitu :
1)   Definisi dapat diuraikan dari asal-usulnya (etimologi), contoh : Filsafat, yaitu dari Philos yang berarti pencinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan jadi arti Filsafat adalah Pencinta Kebijaksanaan
2)   Namun tidak semua bisa dilakukan dengan cara etimologi, maka supaya jelas definisi nominal ini harus dilengkapi keterangan tentang bagaimana definisi ini telah digunakan dalam masyarakat.
3)   Dapat dinyatakan dengan menggunakan sinonim

b.        Definisi dengan menyebutkan salah satu katanya (Ostension)
Definisi dengan menyebutkan salah satu katanya atau definisi dengan Ostension merupakan cara mendefinisikan makna kata dengan lebih jelas dan sederhana, dengan menunjuk langsung benda yang mewakili makna kata yang dimaksud.
Adapun kesulitan mendefinisikan makna dengan ostention adalah kata kerja “verb”, kata sifat adjectives” dan kata sambung”prepositions”tidak bisa di definisikan dengan cara ini, hanya kata yang termasuk ke dalam kategori leksikal dapat di definisikan dengan cara ini.
contoh: seorang wanita berada di toko kacamata di Prancis dan hanya berbicara sedikit bahasa Perancis, wanita tersebut ingin membeli kacamata, tetapi pelayan toko tidak mengerti yang wanita maksud, apakah hanya ingin membeli lensa kacamata atau membeli kacamata secara utuh.
Mendefinisikan makna dengan ostension memang terlihat mudah, hanya dengan menunjuk bendanya secara langsung, tetapi pada kenyataan cara ini juga menimbulkan makna ambigu. Cara untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi ketika mendefinisikan makna dengan ostension adalah menggunakan bahasa itu sendiri sebagai media untuk mendefinisikan makna sesuai dengan yang diharapkan.

c.         Definisi dengan Sinonim
Mendefinisikan makna dengan cara memberikan sinonim dari kata yang dimaksud baik itu dengan bahasa yang sama atau dengan bahasa yang berbeda.
Contoh :  Bahasa Indonesia laki-laki < Pria
                Bahasa Inggris mad and furious < angry
 Definisi dengan sinonim memiliki kekurangan yaitu adanya kemungkinan menantang identitas antara definiens ( hal/kata/ungkapan yang menjelaskan sesuatu) dan definiendum (hal/kata/ungkpan yang didefinisikan)

d.        Definisi dengan konteks atau contoh khas
Mendefinisikan makna kata dengan cara menghubungkan kata dengan peristiwa yang sesuai dengan konteks yang dimaksud.
Dalam buku Riemer dicontohkan  : scratch dan Itchy
Scratch diartikan dalam bahasa Indonesia menggaruk.
Itchy diartikan dalam bahasa Indonesia gatal
Kata scratch dihubungkan dengan suatu peristiwa yang sesuai konteks yaitu kapan kita akan melakukan kegiatan ini “scrachmenggaruk, yaitu dalam keadaan kita “itchy gatal.

e.         Definisi oleh Genus (Jenis) dan Differentia (Pembeda)
Definisi yang memperhatikan genus atau jenis dan differentia atau pembeda. Aristotle dalam Riemer menjelaskan tentang definisi oleh jenis (genus) dan pembeda (differentia).
 “ definition involves specifying the broader class to which the definiendum belongs (often called the definiendum’s genus), and then showing the distinguishing feature of the definiendum (the differentia) which distinguishes it from the other members of this broder class.
Definisi termasuk menentukan kelas yang lebih luas lagi yang dimiliki oleh suatu kata atau ungkapan yang akan didefinisikan (definiendum) (disebut jenis definiendum) serta menunjukan ciri-ciri, perbedaan dari definiendum (pembeda) yang membedakan dari kelas yang luas.  Contoh :  a man as rational animal
                                 Man adalah manusia/mahluk hidup
                                Man termasuk ke dalam animal
                                Yang membedakan man dengan animal adalah rationality
Ada banyak permasalahan apabila mendefinisikan melalui jenis dan pembeda, bisa jadi menggunakan cara ini pemaknaan menjadi tidak efektif atau tidak mungkin. Apalagi definisi melalui jenis (genus) dan  pembeda (differentia) diharapkan sebagai definisi kognitif. Hal ini dikarenakan definisi melalui jenis dan sifat pembeda mensyaratkan dengan sistem kategori (genera) dari hal yang akan di definisikan (definienda). Sebagai contoh yang telah disebutkan sebelumnya yaitu mendefinisikan “man as rational animal” , makna dari keduanya harus sudah di ketahui sebelumnya. Tetapi tidak banyak jenis (genus) dan pembeda (differentia) yang dapat digunakan, untuk beberapa kata banyak jenis yang kurang relevan serta menghasilkan makna yang tidak dapat dimengerti. Oleh sebab itu definisi melalui jenis dan pembeda bukan strategi efektif untuk menghasilkan definisi kognitif.

C.      Definisi dan Subtitusionalitas
Subtitusi definiens bagi definiendum harus tepat dan sesuai dalam segala konteks.  Sebagai contoh dalam bahasa Inggris “keep in equilibrum” dapat diterima sebagai definisi dari kata “balance“ , apabila hal ini memungkinkan untuk mensubtitusi kata “ balance” dalam berbagai macam konteks dan tidak ada kesalahan ketika menterjemahkannya. Contoh :
I balanced the plank on my head.
She balanced the ball on the end of the bat
Now, children, you have to balance the egg on the spoon.
I’ve never managed to balance the demands of work and play.

Kebenaran dari definisi bukan satu-satunya kriteria dalam mendefinisikan, makna juga mempunyai peran dalam mendefinisikan suatu kata atau ungkapan. Suatu definisi dapat diterima apabila dapat di subtitusi untuk hal yang akan dijelaskan. Selama tidak menjadi makna baru atau menghilangkan makna yang sebenarnya dari hal yang akan di jelaskan.

D.      Primitif Semantik
Sangat memungkinkan memberi definisi untuk setiap kata dalam setiap bahasa dengan menggunakan kata yang lain dari bahasa yang sama, seperti halnya sebuah rangkaian definisi dari awal hingga akhir. Dikarenakan kosakata dari bahasa sangat terbatas, maka dengan metalanguage dapat digunakan untuk menjelaskan objek yang akan dijelaskan, dengan cara ini sehingga tidak akan meninggalkan definisi yang sebenarnya.
Kata yang tidak bisa di definisikan atau dipecah-pecah menjadi sesuatu yang lebih sederhana, ini dinamakan primitif semantik. Fodor dalam Riemer berpendapat bahwa setiap leksikon mempunyai butir leksikal, ini di sebut primitif semantik atau bagian kecil yang tidak dapat di definisikan.
 I take semantic facts with full ontological seriousness, and i can’t think of a better way to say what ‘keep’ means than to say that it means keep.
If, i suppose, the concept KEEP is an atom, it’s hardly surprising that there’s no better way to say what ‘keep’ means than to say it means keep.
 I know of no reason, empirical or a priori, tu suppose that the expressive power English can be captured in a language whose stock of morphologically primitive expressions is interestingly smaller than the lexicon of english. (Fodor 1998: 55)
Konsep teori makna dalam bidang linguistik didukung oleh kepercayaan bahwa makna setiap kata tidak selalu tidak dapat di jelaskan atau primitif, tetapi merupakan gabungan dari konsep primitif semantik. Primitif semantik merupakan landasan dasar dalam pembentukan makna. Teori linguistik modern yang sedang berkembang saat ini adalah Natural Semantik Metalanguage (NSM) yang diungkapkan oleh Wierzbicka dan Goddard. Berikut adalah daftar primitif semantik yang digunakan dalam pendekatan NSM untuk mendefinisikan makna :
I, you, someone, people, something/thing, body; this, the same, other, one, two, some, all, much/many; good, bad, big, small, think, know, want, feel, see, hear, say, words, true, do happen, move, there is, have, live, die, when/time, now, before, after a long time, a short time, for some time, where/place, here, above, below, far, near, side, inside, not, maybe, can, because, if, very, more, kind of, part of, like. (Goddard 2002;14).
Lima puluh delapan contoh tersebut mewakili atom makna yang telah dipastikan tidak bisa didefinisikan dan dapat digunakan untuk mendefinisikan makna kata yang lebih luas.
Definisi dalam NSM adalah parafrase reduktif (reductive paraphrase) dari makna hal/kata atau ungkapan yang akan dijelaskan(definiendum). Reduktif maksudnya memasukan makna komponen primitif sedangkan parafrase berisi tentang penjelasan tekstual makna yang tidak semudah hanya dengan mendefinisikan melalui sinonim atau mendefinisikan melalui jenis dan pembeda, meskipun di dalamnya nanti terdapat dua struktur ini tetapi berisi kalimat yang akan menjelaskan makna. Contoh :
Sun
Something
People can often see this something in the sky
When this something is in the sky
People can see other things because of this
When this something is in the sky
People often feel something because of this (Wierzbicka 1996: 220)

X was watching Y =
For some time X was doing something
Because X thought:
When something happens in this place
I want to see it
Because X was doing this, X could see Y during this time. (Goddard 2002: 7; cf Wierzbicka 1996: 251)
Walaupun primitif semantik dapat digunakan untuk mendefinisikan kosakata dalam bahasa tetapi dia sendiri tidak mungkin didefinisikan menjadi lebih sederhana lagi.
Dalam analisis semantik menurut NSM yang berisi penjelasan hal/kata atau ungkapan yang akan dijelaskan supaya lebih sederhana serta dapat dipahami dari hal yang akan didefinisikan. Lima puluh delapan primitif semantik yang telah disebutkan seharusnya bisa menjadi perwakilan untuk mendefinisikan hal yang akan didefinisikan, sementara primitif semantik sudah tidak bisa didefinisikan lagi. Berbeda dengan NSM yang masih memberikan kemungkinan semantik primitif untuk didefinisikan melalui metalinguistik menjadi lebih sederhana. Teori NSM mengklaim sesuatu yang tidak bisa didefinisikan karena status mereka sebagai primitif konseptual, dimana primitif sebagai sebuah hipotesis untuk mengekspresikan hal-hal yang lebih mendasar yang bersifat umum. Setiap natural language mempunyai konsep primitif semantik yang identik dengan konsep leksikal bahasa itu tumbuh dan berkembang.
Natural Semantic Matalanguage sangat universal dan bisa diterapkan dalam bahasa apapun, teori ini mencoba mencari tahu apakah setiap bahasa memiliki unsur primitif.
Sifat universal dari teori NSM, sehingga teori ini dapat dipakai dalam penelitian lintas linguistik, ketelitian merupakan keuntungan teori ini sebagai teori yang digunakan dalam mendefinisikan makna. Teori NSM memiliki seperangkat alat untuk menjelaskan makna baik itu makna kata sulit, lintas linguistik ataupun kata yang berisi informasi budaya.
Pada kenyataannya beberapa ahli linguistik menemukan teori NSM sangat bermanfaat sebagai alat untuk menganalisis serta menginterpretasikan aspek makna, metode ini pun sangat tepat guna atau praktis. (Riemer: 2006)

E.       Masalah Definisi
Sejauh ini kita semua dapat mengasumsikan bahawa sangat memungkinkan memberi definisi pada kata dalam segala kasus. Tetapi pemberian definisi bukan berarti tidak menemui kendala ataupun pertentangan di kalangan masyarakat linguistik.
Kritik yang sering muncul terhadap teori definisi dalam semantik yaitu kurang memuaskan definisi kata yang dihasilkan atau di formulasikan. Sikap skeptis tentang eksistensi definisi yang muncul sangat luas, pada kenyataan para peneliti dari berbagai disiplin yang masih ada hubungannya dengan bidang linguistik mengabaikan teori definisi. Sikap skeptis ini muncul, karena mereka beranggapan teori definisi yang dikembangkan dalam bidang linguistik lalu diterapkan dalam bidang lain akan memunculkan makna yang menyesatkan. Penolakan terhadap teori definisi yang dilakukan oleh ahli dari bidang non linguistik ini dilatarbelakangi oleh berbagai motivasi, ini adalah sikap pertahanan untuk menolak teori definisi. Permasalahan yang muncul karena mereka menganggap definisi juga harus memperhatikan dari segi psikologistik yang mencerminkan  struktur dari konsep definisi.
Sebagai contoh kata Bachelor  dalam bahasa Inggris merupakan gabungan dari konsep tidak menikah”unmarried” dan laki-laki “man”, secara bersamaan kata “Bachelor” dapat di definisikan laki-laki yang tidak menikah “unmarried man”  
Kasus klasik dalam memberikan definisi seperti yang telah dicontohkan dengan kata “bachelor yang di definisikan sebagai laki-laki yang tidak menikah, ini merupakan definisi yang terdapat di dalam kamus. Permasalahannya adalah banyak tipe laki-laki yang tidak menikah. Alhasil kata”unmarried man” tidak bisa disubtitusi dengan kata “bachelor”, dalam hal ini pemberian definisi pun telah gagal. Wierzbicka dalam Riemer manyebutkan bahwa definisi yang tepat adalah dengan menggunakan kata-kata yang biasa dan umum dipakai tidak seperti sebuah pernyataan yang kita baca di kamus. Salah satu respon terhadap kritik konsep definisi adalah definisi hanya menangkap bagian dari inti “core”, pusat “central”, dan bentuk asli “prototypical” dari makna hal yang akan dijelaskan dan apabila pemberian definisi mengalami kegagalan, maka akan melibatkan semua aspek yang terkait dengan definisi.

F.       Definisi, Pemahaman, dan Penggunaan
Dalam kehidupan dan aktifitas manusia, fungsi definisi adalah sebagai penjamin bahwa bahasa itu digunakan secara konsisten. Di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum definisi merupakan hal yang sangat penting dan utama ini adalah suatu hal yang khusus. Contoh kasus yang sering ditemui ketika menggunakan bahasa bisa mirip ataupun berbeda. Biasanya beberapa contoh percakapan dalam bahasa memerlukan definisi eksplisit, ini diperlukan ketika menemui kebingungan. Ketika kita bertanya untuk mengklarifikasi bagaimana penggunaan kata yang tepat, dan definisi nominal makna kata tidak selalu tersedia. Definisi menempati posisi utama dalam berbahasa, apabila kita menganggap bahwa konsep sangat penting dalam memberi definisi dan mengasumsikan bahwa konsep ada di dalam makna kata. Jika konsep berhubungan dengan makna kata dan makna kata dapat di tangkap oleh definisi, lalu definisi inilah yang akan mengaktifkan sense selama bahasa dipakai. Untuk menanyakan apakah definisi selalu terlibat dalam penggunaan bahasa maka jawabannya adalah sangat terlibat. Mungkin banyak dari kita yang sering menggunakan kata kurang tepat, serta tidak bisa mendefinisikan dengan tepat, secara tidak sadar pengetahuan membuat kita menggunakan kata dengan benar tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mendefinisikan secara eksplisit. Maka dapat dikatakan konsep atau fungsi definisi sangat berbeda dengan definisi yang ada di dalam kamus.



[1] Fatimah Djajasudarma. Semantik 1 Pengantar Ke Arah Ilmu Makna. Bandung: Eresco.1993
[2] Nick Riemer. Introducing Semantics. Cambridge Universty Press. 2010
[3]  Abdul Wahab. Teori Semantik. Surabaya: Airlangga University Press. 1995
[4] Ibid. 2
[5] Ibid.2. h. 47
[6] John I Saeed. Semantics (Second Editions). Blackwell Publishing. 2003. h.54
[7] John Lyons. Semantics I. Cambridge University Press. 1977.
[8] Ibid. 2
[9] Alan Cruse. Meaning in Language (An introduction to Semantics and Pragmatics). Oxford University Press
[10] Baker, M. In Other Words: a CourseBook on Translation. London:Routledge. 1992
[11] Shei, C. C. & Pain, H. 2000. “An ELS Writer’s Collocational Aid”. ComputerAssisted Language Learning,
   13(2), 167-182.
[12] Oxford Collocation Dictionary for Students of English. 2002. New York: Oxford University Press.

Tidak ada komentar: