Laman

Minggu, 22 April 2012

PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA


Pemerolehan Bahasa Pertama (First Language Acquisition)

Disusun Oleh: Ajeng Tina Mulyana & Moh. Fauzi Bafadal


Bahasa dan pemerolehan
1.      Bahasa Pertama
Bahasa merupakan alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh para pakar linguistic yang mengartikan bahasa sebagai satu system lambing bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat yang berinteraksi dan mengidentifikasi diri.
Proses bahasa dikendalikan oleh otak yang merupakan alat pengatur dan pengendali gerak semua aktivitas. Pada otak manusia ada bagian – bagian yang sifatnya manusiawi, sedangkan pada otak mahluk lalin (hewan) tidak terdapat bagian bagian  tersebut sehingga hewan – hewan tidak dapat berbicara atau berbahasa. Jadi bahasa hanya dapat diaplikasikan oleh manusia. proses berbahasa pada manusia dimulai sejak masa kanak – kanak. Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannnya secara verbal disebut sebagai pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh bahasa pertama.
Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Jadi, bahasa pertama adalah bahasa yang diperoleh anak pertama kali dari lingkungan yang paling dekat dengannya (dalam hal ini biasanya keluarga). Bahasa pertama sering juga disebut sebagai “bahasa sumber”. Pemerolehan bahasa pada setiap anak menggunakan strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurologi manusia yang sama, tetapi juga oleh pandangan mentalisitik yang menyatakan bahwa anak telah dibekali dengan kodrati saat dilahirkan.
Ada 4 strategi yang digunakan seorang anak dalam pemerolehan bahasa pertamanya. Strategi pertama berpedoman pada meniru pada apa yang dikatakan oleh orang lain. Meniru akan digunakan terus oleh anak merskipun ia sudah dapat dengan sempurna melafalkan bunyinya. Strategi kedua adalah produktivitas.  Produktivitas berari keefektifan dan keefisienan dalam pemerolehan bahasa. Strategi ketiga berkaitan dengan hubungan umpan balik antara produksi ujaran dan respon. Dengan strategi ini anak dihadapkan dengan pedoman menghasilkan ujaran dan bagaimana responnya. Strategi keempat adalah prinsip operasi. Dalam strategi ini anak dikenalkan dengan pedoman: penggunaan “prinsip operasi” umum untuk memikirkan sarta menetapkan bahasa. Disamping itu dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui kodrat – kodrat yang universal ini. Chomsky mengibaratkan anak sebagai entitas yang seluruh tubuhya telah dipasang tombol serta kabel listrik: mana yang dipencet, itulah yang akan menyebabkan bola lampu tertentu menyala. Jadi bahasa mana dan wujudnya seperti apa ditentukan oleh input disekitarnya.

2.      Teori Pemerolehan Bahasa Pertama (First language Acquisition)
Setiap orang pasti pernah menyaksikan kemampuan menonjolkan anak anak dalam berkomunikasi.  Saat bayi mereka berceloteh, mendekut, menangis dan dengan atau tanpa mengirim begitu banyak pesan dan menerima lebih banyak pesan lagi. Ketika berumur satu tahun, mereka berusaha menirukan kata – kata dan mengucapkan kata – kata dan mengucapkan suara – suara yang mereka dengar disekitar mereka, dan kira – kira saat itulah mereka mengucapkan kata –kata pertama mereka.
Ada tiga pandangan utama tentang pemerolehan bahasa pertama. Pandangan pertama yakni pandangan behaviorisme yang menyatakan bahwa anak dilahirkan sebagai tabula rasa, papan bersih yang tidak tahu dunia ataupun bahasa dan anak – anak dibentuk oleh lingkungan. Menurut aliran ini pemerolehan bahasa ialah pemerolehan kebiasaan (habits). Pandangan kedua adalah pandangan nativisme yang berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan ,membawa kemampuan berbahasa yang dimilikinya yaitu alat pemerolehan bahasa (Language acquisition device atau disingkat LAD). Pandangan ketiga adalah pandangan fungsional uang beranggapan bahwa anak dilahirkan dengan kemampuan berfikir dan di dalamnya termasuk kemampuan berbahasa, dan kemampuan ini berkembang karena adanya interaksi dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Berikut adalah penjelasan mengenai teori – teori pemerolehan bahasa pertama:

a.        Pendekatan Behaviorisme
Bahasa adalah bagian fundamental dari keseluruhan prilaku manusia, dan para psikolog behavioristik menelitinya dalam rangka itu dan berusaha merumuskan teori – teori konsisten tentang pemerolehan bahasa pertama. Pendekatan behavioristik berfokus pada aspek – aspek yang bisa diamati secara nyata dan berbagai hubungan atau kaitan antara respon – respon itu dan peristiwa – peristiwa di dunia sekiling mereka. Seorang behavioris mungkin memandang prilaku bahasa yang efektif sebagai wujud tanggapan yang tepat terhadap stimuli. Jika respon – respon tertentu dirangsang berulang – ulang maka akan terjadi kebiasaan.
Anak – anak yang memberikan respon kebahasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan mereka belajar memahami ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikannya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak hadir di dunia disertai dengan tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahanan sebelumnya tentang bahasa, dan bahwa anak – anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan – lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan. (Brown; 2000:22).
Menurut kaum behavioris, bahasa adalah bagian penting dari keseluruhan tingkah laku manusia. Kaum behavioris menamakan bahasa sebagai prilaku verbal (verbal behavior). Untuk membagun teori tentang pemerolehan bahasa, para tokohnya memusatkan perhatian pada aspek bahasa yang kasat mata, sehingga data mereka adalah ujaran – ujaran tersebut. Teori behaviorisme tentang pemerolehan bahasa bersumber pada teori – teori pembelajaran behavioristik.
Prinsip yang menjadi dasar dari pendekatan pembelajaran S-R pada penelaahan prilaku ialah  classic conditioning dan operant Conditioning. Kedua prosedur pengkondisian ini mulai dari penelitian pada bagaimana hewan belajar dan diperluas pada pembelajaran bahasa. Prosedur conditioning ini dijadikan dasar untuk program pengajaran bahasa pada pengajaran bahasa pada tuna rungu dan tuna grahita. Para pakar psikologi juga mengaplikasikan prinsip – prinsip pengkondisian dan pembelajaran bermakna dan bentuk – bentuk gramatika.

Classical Conditioning
Classical conditioning dikembangkan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1894 - 1936). Dalam eksperimennya ia menunjukkan makanan pada anjing kemudian anjing memakan makanan itu. Setiap kali makanan itu ditunjukkan pada anjing kemudian anjing itu memakan makanan itu. Setiap kali ditunjukkan makanan, anjing  itu mengeluarkan air liur. Tampak bahwa makanan itu sebagai Unconditional Stimulus (UCS) menyebabkan responsb (R), keluarnya air liur. Pada percobaan – percobaan berikutnya, bel dibunyikan sebelum makanan ditunjukkan pada anjing. Sesudah beberapa kali percobaan, anjing mengeluarkan air liur sebagai respon terhadap bunyi bel saja. Perhatikan diagram berikut:
Unconditioned stimulus (UCS)
(Makanan)
Conditioned stimulus (CS)
(Bunyi bel)
R
Keluarnya air liur
 










Penemuan Pavlov tentang kaitan antara stimulus dan respon ini berpengaruh besar terhadap pandangan para ahli tentang psikologi belajar. Berdasarkan penemuan Pavlov ini, JB. Watson menciptakan istilah Behaviorisme. Berdasarkan bagan tersebut dapat kita lihat seperti pada lingkungan banyak rangsangan yang dapat menimbulkan emosi positif dan negative. Jika rangsangan – rangsangan berbahasa misalnya: frasa, kata, atau kalimat,sering terjadi bersamaan dengan rangsangan – rangsangan lingkungan, maka pada akhirnya rangsangan tersebut dapat menimbulkan respon emosional walaupun tak ada rangsangan lingkungan. Untuk jelasnya perhatikan contoh berikut:
“Tina seorang anak berumur 17 bulan akan menarik rambut ibunya dengan keras. Ibunya segera mengatakan, “tidak! , tidak!” sambil tangan anaknya dengan menghubungkan sakit ditangannya dengan kata “tidak!” tidak!” akan menimbulkan respon makna yang  tidak menyenangkan bagi Tina. Jika hal ini terjadi berolang – ulang dan respon emosional, sama halnya dengan bunyi  bel menimbulkan respon air liur. Dengan demikian, ibu telah berhasil mengajarkan makna “tidak”. Dengan kata lain; Tina memahami makna tidak yang berarti suatu larangan.

Operant Conditioning.
Teori operant conditioning dikemukakan oleh tokoh psikologi B. F Skinner dengan karyanya yang terkenal berjudul Verbal Behavior (1957). Teori Skinner tentang prilaku verbal adalah perluasan dari teori umumnya tentang pembelajaran dengan operant conditioning. Menurut skinner, prilaku berpengaruh pada lingkungan disebut prilaku operant (to operate:  menghasilkan efek yang dikehendaki, mempengaruhi). Operant conditioning merujuk pada pengkondisian atau pembiasaan dimana manusia memberikan respons atau operant (kalimat ujaran) tanpa stimulus yang tampak; operant ini dipelajari dengan pembiasaan (conditioning).  Maka apa yang dimaksud dengan pengkondisian operan oleh Skinner adalah pengkondisian dimana organism (manusia) menghasilkan suatu respon, atau operan tanpa adanya stimuli yang dapat diamati: operan tersebut dijaga (dipelajari) melalui penguatan (Brown 2000: 22 - 23).
Teori skinner menerangkan bagaimana kecenderungan respon dicapai melalui pembelajaran. Jika respond diikuti oleh konsekuensi yang menguntungkan atau disebut juga penguatan, maka respon tersebut menguat dan jika menghasilkan konsekuaensi negative atau hukuman), maka respon tersebut akan melemah. Melalui eksperimennya tersebut, Skinner menemukan bahwa pemerolehan pengetahuan, ttermasuk pengetahuan bahasa merupakan kebiasaan semata atau hal yang harus dibiasakan terhadap subyek tertentu yang dilakukan secara terus menerus.
Contoh operant conditioning adalah: bila seorang anak mengucapkan sesuatu yang kebetulan sesuai (appropiate) dengan situasi, ibunya atau orang disekitarnya menghadiahinya dengan anggukan, ucapan, senyuman, atau tindakan yang lain yang menunjukkan persetujuan. Hal ini akan mengakibatkan respon yang sama yang akan terjadi lagi dalam situasi yang sama. Namun jika ujarannya tidak benar, si ibu tidak mengatakannya. Maka akan kecil kemungkinannya terjadi respon yang sama dalam situasi yang jelasnya. Dengan cara ini, ujaran – ujaran orang dewasa menjadi rangsangan – rangsangan bagi anak untuk menanggapinya. Anak akan menunjukkan bahwa ia memahami ujaran yang didengarnya, dan ia pun menghasilkan wicara yang sesuai dengan yang didengarnya. Jadi bagi kaum behaviorisme bahwa belajar bahasa dan perkembangannya hanyalah persoalan bagaimana mengkondisikan anak dengan cara “imitation, practice, reinforcement, dan habituation, yang merupakan langkah pemerolehan bahasa.




b.       Pendekatan Nativisme.
Para nativist memiliki pernyataan dasar yaitu bahwa pemerolehan bahasa sudah ditentukan dari bawaan, bahwa kita lahir dengan kapasitas genetic yang mempengaruhi kemampuan kita memahami bahasa disekitar kita yang hasilnya adalah sebuah konstruksi system bahasa yang tertanam dalam diri kita. Secara umum pendekatan nativisme mengacu pada pendekatan yang menekankan kemampuan ilmiah manusia untuk dapat berbicara. Teori ini dipelopori oleh Noam Chomsky pada awal tahun 1960 – an sebagai bantahan terhadap teori Behaviorisme.yang kemudian menulis buku berjudul (Review of B.F. Skinner’s Verbal Behavior 1959) sebagai bantahan terhadap konsep Skinner tentang belajar bahasa yang ada dalam buku verbal behavior (1957).
Menurut Chomsky “bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia. Hal ini berdasarkan asumsi sebagai berikut: pertama prilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan memiliki peran kecil dalam proses pematangan bahasa. Kedua  bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relative singkat, tidak tergantung pada lamanya latihan seperti pendapat kaum behaviorism. Ketiga lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa.
Chomsky juga mengemukakan adanya cirri – cirri bawaan bahasa untuk menjelaskan pemerolehan bahasa asli pada anak – anak dalam tempo begitu singkat sekalipun ada keabstrakan dalam kaidah kaidah bahasa tersebut. Pengetahuan Chomsky diumpamakan sebagai “kotak hitam kecil” di otak, sebuah perangkat pemerolehan bahasa atau Language Acquisition Device (LAD) (Brown, 2000: 31). Nativist percaya bahwa setiap manusia yang lahir tsudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa yaitu Language Acquisition Device (LAD). LAD dianggap sebagai sebagai bagian fisikologis dari otak yang khusus untuk mengolah masukan (input) dan menetukan apa yang dikuasai lebih dahulu seperti bunyi, kata, frasa, kalimat, dan seterusnya. Meskipun kita tahu persis tepatnya dimana LAD itu berada karena sifatnya yang abstrak  (invisible). Mcneil (1966) dalam Brown 2000 (31) memaparkan LAD meliputi empat perlengkapan linguistic bawaan:
1.      Kemampuan membedakan bunyi wicara dan bunyi – bunyi lain dilingkungan sekitar
2.      Kemampuan menata data linguistiki kedalam berbagai kelas yang biasa disempurnakan kemudian
3.      Pengetahuan hanya jenis system linguistic tertentu yang mungkin sedangkan yang lain tidak
4.      Kemampuan untuk terus mengevaluasi system linguistic yang berkembang untuk membangun kemungkinan system paling sederhana berdasarkan masukan linguistic yang tersedia.
Mcneil dan para peneliti lain dalam tradisi Chomskyan secara meyakinkan berpendapat bahwa gagasan LAD yang sangat bertolak belakang dengan stimulus – respon (S-R) aliran behavioristik yang begitu terbatas dalam menjelaskan kreatifitas yang terdapat dalam bahasa anak – anak. Gagasan tentang bakat linguitik sangat cocok dengan teori generative:  anak – anak diyakini memanfaatkan kemampuan bawaan untuk menghasilkan jumlah ujaran yang kemungkinan tidak terhingga. Aspek – aspek makna, keabstrakan kreatifitas dijelaskan secara lebih memadai.
Chomsky menganggap Skinner keliru dalam memahami kodrat bahasa. Bahasa bukan suatu kebiasaan tetapi suatu system yang diatur oleh seperangkat peraturan (Role Governed). Bahasa juga bersifat kreatif dalam memiliki ketergantungan struktur. Jadi pemerolehan bahasa bukan didasarkan pada nurture (pemerolehan itu ditentukan oleh alam lingkungan) tetapi pada nature. Artinya pemerolehan bahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak dilahirkan sebagai tabularasa, tetapi dibekali dengan  bekal kodrati(innate properties) yaitu faculties of mind yang salah satu bagiannya khusus untuk memperoleh bahasa, yaitu “language acquisition device”

c.             Pendekatan Fungsional
Meningkatnya perspektif konstruktivis tentang kajian bahasa, dapat kita lihat melalui adanya pergeseran dalam pola – pola penelitian. Pergeseran ini tidak jauh dari mata rantai generative/ kognitif.=, atau meungkin lebih tepat dilihat sebgai gerakan menuju esensi bahasa. Dua penekanan muncul (1) para peneliti mulai melihat bahwa bahasa hanyalah salah satu manifestasi kemapuan kognitif dan efektif manusia dalam kaitannya dengan dunia, dengan orang lain dan diri sendiri. (2) lebih jauh, kaidah – kaidah generatift yang ditawarkan oleh kaum nativis adalah abstrak, formula, eksplisit dan sangat logis, tetapi mereka ehanya bersentuhan dengan dengan bentuk – bentuk bahasa dan tidak dengan makna, sesuatu yang terletak pada tataran fungsional yang lebih mendalam yang terbangun dari interaksi social. Contoh – contoh bentuk bahasa adalah morfem, kata, kalimat dan kaidah yang mengatur semua itu. Fungsi adalah tujuan interaktif dan bermakna didalam suatu konteks social (pragmatis) yang penuh dengan bentuk – bentuk.

d.       Teori Kognitivisme
Munculnya teori ini dipelopori oleh Jean Piaget (1954) yang mengatakan bahwa bahasa itu salah satu diantara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Piaget mengatakan bahwa struktur yang kompleks itu bukan pemberian alam dan bukan sesuatu yang dipelajari dari lingkungan melainkan struktur itu timbul secara tak terelakkan sebai akibat datri interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognisi anak dengan lingkungan kebahasaannya.  Kaum kognitivisme berpendapat bahwa kemampuan pembelajar sudah terprogram secara biologis untuk memiliki kemampuan kognitif dan proses belajar terjadi dengan cara memetakan kategori linguistic kedalam kategori kognitif, serta apa yang dipelajari adalah tata bahasa  sebuah bahasa.
Menurut teori kognitivisme, tyang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Sejak lahir sam pai usia 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya memahami dunia melalui indranya. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak suda dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan symbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Symbol ini kemudian berkembang menjadi kata – kata awal yang diucapkan anak.







Sebuah teori terpadu, konsisten dan lengkap tentang diungkapannya pemerolehan bahasa memang belum dapat dijumpai, namun penelitian bahasa anak melahirkan langkah – langkah besar. 
Behavioris
Teori mediasi
Nativis
Fungsional
 

·      Tabula rasa
·      Stimulus: respon linguistic
·      Pengkondisian
·      dukungan
Respon
Mediasi
(Rm)
Predisposisi bawaaan LAD / UG
Sistemik pemerolehan diatur kaidah
Konstruksi kreatif
Tata bahasa “poros” Pemrosesan terdistribusi paralell
·      Konstruktivis
·      Interaksi social
·      Kognisi dan bahasa
·      Fungsi wacana
·      Wacana
Gb. Teori Pemerolehan Bahasa Pertama
(Brown, 2000: 38)
 


















3. Proses Pemerolehan Bahasa
Chomsky menyebutkan bahwa ada dua proses yang terjadi ketika kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya. Proses yang dimaksud adalah proses kompetensi dan proses performasi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis dan semantic). Secara tidak disadari kompetensi ini dibawa oleh setiap anak sejak lahir. Meskipun dibawa sejak lahir, kompetensi memerlukan pembinaan sehingga anak-anak memiliki performasi dalam berbahasa. Performasi adalah kemampuan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Performasi terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses proses penerbitan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau mempersepsi kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar, sedangkan proses penerbitan melibatkan kemampuan menghasilkan kalimat-kalimat sendiri (Chaer, 2009).
Bahasa pertama diperoleh dalam beberapa tahap dan setiap tahap berikutnya lebih mendekati tata bahasa dari bahasa orang dewasa. Menurut para ahli, tahap-tahap ini sedikit banyaknya ada ciri kesemestaan dalam berbagai bahasa di dunia.

1.        Tahap-tahap Pemerolehan Bahasa Pertama
Tahap-tahap linguistic pemerolehan bahasa terdiri atas beberapa tahap, yaitu : (1) tahap pengocehan (babbling); (2) tahap satu kata (holofrastis); (3) tahap dua kata; (4) tahap menyerupai telegram (telegraphic speech).

A.Tahap Pengocehan
Pada umur sekitar enam minggu, bayi mulai mengeluarkan bunyi-bunyi dalam bentuk teriakan, rengekan, dengkur. Bunyi yang dikeluarkan oleh bunyi mirif dengan bunyi konsonan atau vocal. Akan tetapi, bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan bentuknya karena belum terdengar  jelas. Sebagaian ahli menyebutkan bahwa bunyi yang dihasilkan oleh bayi ini adalah bunyi-bunyi bahasa/dekur/vokalisasi bahasa/ tahap cooing.
Setelah tahap vokalisasi, bayi mulai mengoceh (babling). Celotehan merupakan ujaran yang memiliki suku kata tunggal seperti mu dan da. Adapun umur bayi mengoceh tidak dapat ditentukan. Beberapa ahli menyatakan bahwa tahap celotehan terjadi pada usia enam sampai sepuluh bulan. Kemampuan anak berceloteh tergantung pada perkembangan neurologi seorang anak.
Celotehan dimulai dengan konsonan dan diikuti dengan vocal ( K-V), contohnya papapapa mamamama babababa…, orang tua mengaitkan kata papa sama dengan ayah dan mama sama dengan ibu meskipun apa yang ada dibenak bayi tidaklah diketahui. Tidak mustahil celotehan itu hanyalah sekedar artikulatori belaka (Djardjowidjojo dalam safriadi, 2009).

B.Tahap Satu-Kata atau Holofrastis
Tahap ini berlangsung ketika anak berusia antara 12 dan 18 bulan. Ujaran-ujaran yang mengandung kata-kata tunggal diucapkan anak untuk mengacu pada benda-benda yang dijumpai sehari-hari. Sang anak sudah mengerti bahawa bunyi ujar berkaitan dengan makna dan mulai mengucapkan kata-kata pertamanya. Itulah sebabnya tahap ini disebut tahap satu kata satu frase atau kalimat, yang berarti bahwa satu kata yang diucapkan anak itu merupakan satu konsep yang lengkap diucapkan anak itu merupakan satu konsep yang lengkap, misalnya “mam” (saya minta makan); “pa” (saya mau papa ada disini), “ma” (saya mau mama ada disini).

C.Tahap Dua-Kata, Satu Frase
Tahap ini berlangsung ketika anakberusia 18-20 bulan. Ujaran-ujaran yang terdiri atas dua kata mulai muncul seperti mama mam dan papa ikut. Pada tahap ini pula anak sudah mulai berfikir secara “subjek + predikat” meskipun kata ganti orang dan jamak belum dapat digunakan. Dalam pikiran anak itu, subjek + predikat dapat terdiri atas kata benda + kata benda, seperti “Desi mainan” yang berarti “desi sedang bermain dengan mainan” atau kata sifat + kata benda, seperti “kotor patu” yang artinya “sepatu ini kotor”

D. Tahap Telegrafis
Pada usia 2 dan 3 tahun, anak mulai menghasilkan ujaran kata-ganda (multiple-word utterances) atau disebut juga ujaran telegrafis. Anak juga sudah mampu membentuk kalimat dan mengurutkan bentuk-bentuk itu dengan benar. Kosakata anak berkembang dengan pesat mencapai berates-ratus kata dan cara pengucapan kata-kata semakin mirip dengan bahasa orang dewasa. Contoh dalam tahap ini diberikan oleh Fromkin dan Rodman.
“cat stand up table” (kucing berdiri di atas meja);
“No sit here” (Jangan duduk disini!).
Fromkin dan Rodman dalam safriadi (2009) menyebutkan hasil peniruan yang dilakukan oleh si anak tidak akan sama seperti yang diinginkan oleh orang dewasa. Jika orang dewasa meminta sang anak untuk menyebutkan “He’s going out”, si anak akan melafalkan dengan “He go out”.


PERMASALAHAN DALAM PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA

Kompetensi dan Perfroma
Kompetensi mengacu pada pengetahuan seseorang tentang sebuah sistem kejadian atau fakta. Kompetensi seseorang untuk melakukan sesuatu tidak dapat diobservasi dan merupakan manifestasi konkret atau realisasi dari kompetensi (brown 2000:30).
Dalam hubungannya dengan bahasa, kompetensi adalah pengetahuan seseorang tentang sistem sebuah bahasa (tata bahasa, kosa kata, bagian-bagian bahasa dan keterkaitannya). Performa adalah produksi aktual (berbicara, menulis) atau pemahaman (menyimak, membaca) dari peristiwa linguistic.
Model kompetensi-performa tidak disepakati secara universal. Mayoritas kritik diberikan pada Chomsky menganggap kompetensi sebagai kondisi ideal pembicara-pendengar tanpa ada tampilan variabel performa seperti batasan memori, selingan, error, pergeseran perhatian dan minat, fenomena keraguan seperti pengulangan, start yang gagal, jeda, penghilangan, dan penambahan. Sehingga teori bahasa sama dengan teori kompetensi. Stubbs menyatakan dualism tersebut tidak perlu, yang penting mempelajari bahasa yang digunakan. Tarone menganggap kekeliruan dan keraguan berbahasa berhubungan dengan apa yang disebut dengan kompetensi heterogeneous –kemampuan sebuah proses yang sedang dibentuk.

Pemahaman dan Produksi
Pemahaman dan produksi dapat menjadi aspek performa dan kompetensi. Dalam mitos pengajaran bahasa asing pemahaman (berbicara, menulis) adalah performa. Penting sekali untuk mengenal bahwa bukan itu masalahnya: produksi memang dapat diobservasi secara langsung, tetapi pemahaman jugga termasuk performa-tindakan yang disengaja-seperti halnya produksi.
Dalam bahasa anak, kebanyakan hasil penelitian dan observasi menunjukan superioritas pemahaman terhadap produksi: anak-anak memahami lebih dari pada yang mereka ungkapkan. Namun kita perlu berhati-hati untuk menyimpulkan hal tersebut karena penelitian oleh Gathercole (1988) menyatakan anak-anak dapat memproduksi beberapa aspek bahasa tanpa mampu memahaminya.

Nature atau Nuture
Nativisme meyakini bahwa anak dilahirkan dengan pengetahuan bawaan atau kecenderungan pada bahasa dan bawaan lahir. Hipotesis ini kontradiktif dengan behavioristik yang menganggap bahasa sebagai satu set kebiasaan dicapai melalui proses pengkondisian.

Sistematika dan Variasi
Satu asumsi yang baik dari penelitian bahasa anak sekarang ini adalah sistematika dari proses pemerolehan, dimulai dari ungkapan yang sederhana sampai ke kompleks. Diantara seluruh sistematika ada sejumlah variasi dalam proses belajar. Permasalahannya, seluruh variasi di masa ini pada suatu waktu dapat dianggap sistematik melalui pencatatan yang teliti.

Bahasa dan Pemikiran
            Hubungan bahasa dan pemikiran masih diperbincangan. Piaget (1972) menganggap perkembangan kognitif merupakan pusat organism manusia. Bahasa sangat bergantung pada perkembangan kognitif seseorang. Vygotsky menyatakan interaksi sosial, melalui bahasa, adalah prasyarat perkembangan kognitif.
            Hipotesis terkenal yang mendukung bahasa mempengaruhi pemikiran adalah hipotesis Whorf-Sapir yang disebut realtivitas lingustik. Hipotesis ini menyatakan bahwa masing-masing bahasa memaksakan pembicaranya pada pandangan dunia tertentu.

Peniruan
Sudah menjadi pengamatan umum bahwa anak adalah peniru yang baik. Peniruan merupakan sebuah strategi penting dalam pembelajaran bahasa pada tahap awal dan aspek penting dalam pemerolehan phonologi tahap awal. Peniruan sesuai dengan prinsif behavioristik pemerolehan bahasa.
Peniruan  yang dilakukan anak yaitu peniruan struktur permukaan, dimana seseorang mengulang dan meniru dipermukaan, pada kode fonologi daripada kode semantic.
Pada tahap awal dari pemerolehan bahasa anak menunjukan peniruan struktur permukaan karena bayi tidak memiliiki kategori semantic yang diperlukan untuk menentukan “makna’ pada ungkapan. Peniruan pada struktur dalam bahasa dapat memblok perhatian mereka pada struktur permukaan dan merka menjadi  peniru yang buruk  karena anak memakai nilai kebenaran dari ungkapan.

Praktek
Pengamatan umum menyimpulkan anak “mempraktekkan” bahasa secara konstan, terutama pada tahap awal ungkapan satu dan dua kata. Model behavioristik pada pemerolehan bahasa pertama menyatakan praktek pengulangan dan asosiasi-adalah kunci pembentukan kebiasaan oleh kondisi.

Input
Peran input dalam pemerolehan bahasa anak sangat penting. Kemampuan bicara anak berasal dari lingkungan rumah yaitu orang tua dan kakak-kakaknya. Dari hasil penelitian Bellugi dan Brown (1964), Landes (1975), Moerk (1985) diketahui bahwa orang tua memberikan input pada anak dengan bahasa yang terseleksi dan tegas.
Selain itu anak bereaksi pada input struktur dalam dan fungsi komunikatif bahasa daripada pengkoreksian tata bahasa. Dalam jangka lama, akhirnya anak akan membetulkan kesalahan tata bahasanya.
Jadi permasalahan yang penting adalah fakta yang jelas. Dari hasil penelitian bahwa input dari orang dewasa dan teman pada anak jauh lebih penting daripada apa yang nativisme percaya.

Discourse
            Input dari orang tua hanyalah salah satu aspek dalam perkembangan bahasa anak. Anak juga berinteraksi dengan teman dan orang dewasa lainnya. Dari interaksi ini anak melakukan percakapan dimana dia akan belajar melakukan inisiatif dan merespon. Dari percakapan itu anak akan belajar bahwa pertanyaan bukanlah hanya sebuah pertanyaan tetapi bisa juga merupakan permintaan informasi, tindakan atau pertolongan. Anak belajar membedakan antara penegasan dan tantangan, antara harfiah dan kiasaan.


Kesimpulan
·         Pemerolehan bahasa pertama adalah proses penguasaan bahasa pertama oleh si anak. Bahasa pertama adalah baahsa yang diperoleh anak pertama kali dari lingkungan yang paling dekat dengannya (dalam hal ini baiasanya keluarga). Bahasa pertama sering juga disebut sebagai “bahasa sumber”
·         Bagaimana sebenarnya proses pemerolehan bahasa pertama ini? Ada beberapa teori pemerolehan bahasa yang menjelaskan hal ini, yaitu teori behaviorisme, nativisme, kognitivisme. Ketoga teori ini memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menjelaskan perihal cara anak memperoleh bahasa pertamanya
·         Pemerolehan bahasa pertama adalah proses penguasaan bahasa pertama oleh si anak. Selama penguasaan bahasa pertama ini, terdapat dua proses yang terlibat, yaitu proses kompetensi dan proses performasi. Kedua proses ini tentu saja diperoleh oleh anak secara tidak sadar
·         Ada beberapa tahap yang dilalui oleh sang anak selama memperoleh bahasa pertama. Tahap yang dimaksud adalah vokalisasi bunyi, tahap satu-kata atau holofrastis, tahap dua-kata, dan ujaran telegrafis.


Daftar Pustaka

Brown, H. Doauglas. 2000. Principles of Language Learning and Teaching. Englewood  Cliffs: Prentice Hall Regents.

Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar: