Halaman

Tampilkan postingan dengan label EVALUASI PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EVALUASI PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

PENGERTIAN TEST

Secara harfiah kata “test” berasal dari kata bahasa prancis kuno: testum yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan tes yang berarti ujian atau percobaan.
Dari segi istilah, menurut Anne Anastasi, test adalah alat pengukur yang mempunyai standar obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu. Sedangkan menurut F.L. Geodenough, test adalah suatu rangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu dengan maksud untuk membandingkan kecapan antara satu dengan yang lain.

Dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa test adalah cara yang dapat digunakan atau prosedur yang dapat ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian yang dapat berbetuk pemberian tugas, atau serangkaian tugas sehingga dapat dihasilkan nilai yang dapat melambangkan prestasi.
1. Menurut Hetzel 1973: proses pemantapan kepercayaan akan kinerja program atau sistem sebagaimana yang diharapkan.
2. Menurut Myers 1979: proses eksekusi program atau sistem secara intens untuk menemukan error.
3. Menurut Hetzel 1983 (Revisi): tiap aktivitas yang digunakan untuk dapat melakukan evaluasi suatu atribut atau kemampuan dari program atau sistem dan menentukan apakah telah memenuhi kebutuhan atau hasil yang diharapkan.
4. Menurut Standar ANSI/IEEE 1059: proses menganalisa suatu entitas software untuk mendeteksi perbedaan antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diinginkan ( defects / errors / bugs ) dan mengevaluasi fitur- fitur dari entitas software.
5. menurut Linn & Gronlund (1990: 5) tes adalah “Instrumen atau suatu prosedur sistematis untuk mengukur perilaku sampel”.
6. Disatu sisi Djemari Mardapi (2004: 71) menambahkan bahwa tes merupakan sejumlah pertanyaan yang memiliki jawaban benar atau salah.
7. Secara lebih lengkap, Lee J. Cronbach (1970) menambahkan bahwa tes adalah “prosedur sistematis untuk mengamati perilaku seseorang dan menggambarkan dengan bantuan sebuah skala numerik atau sistem kategori”.
Advertisement

PANDUAN MENYUSUN (BAHASA) SOAL BAGI GURU

Banyak sebagian guru-guru di negara ini  yang masih saja kesulitan membuat soal, Kadang saya menyaksikan sendiri bagaimana guru-guru tersebut melakukan teknik copy-paste soal-soal terdahulu, bahkan yang secara “sadis” mereka langsung mengcopy soal yang sama dan pernah diujikan pada siswa tahun lalu. Sialnya keadaan ini sepertinya diamini oleh  kepala sekolah ataupun wakil kepsek bidang kurikulum yang ternyata setali tiga uang dengan fakta guru-guru dibawahannya. pada artikel ini saya akan mengambil beberapa sumber yang memudahkan guru-guru untuk membuat soal sesuai dengan kisi-kisinya. selamat menyimak
Rekan-rekan semua seperti diketahui bahwa membuat soal haruslah sesuai dengan apa yang akan diukur jangan sampai soal-soal yang dibuat justru lari atau menyimpang dari koridor siswa, dalam teorinya juga dijelaskan bahwa soal juga harus menyesuaikan dengan jenis perilaku yang diukur. Para  ahli pendidikan,  seperti Benjamin S. Bloom, Quellmalz, R.J. Mazano dkk, Robert M. Gagne, David Krathwohl, Norman E. Gronlund dan R.W. de Maclay, Linn dan Gronlund  juga sangat mendukung dengan pembuatan soal yang mengedepankan aspek perilaku siswa sehingga muculah beberapa ranah dalam pendidikan yang akhirnya membentuk bahasa-bahasa pengantar dalam pembuatan soal, seperti yang ada dibawah ini:
1.   Ranah kognitif yang dikembangkan Benjamin S. Bloom adalah: (1) Ingatan di antaranya seperti: menyebutkan, menentukan, menunjukkan, mengingat kembali, mendefinisikan; (2) Pemahaman di antaranya seperti:      membedakan, mengubah, memberi contoh, memperkirakan, mengambil kesimpulan; (3) Penerapan di antaranya seperti: menggunakan, menerapkan; (4) Analisis di antaranya seperti: membandingkan, mengklasifikasikan, mengkategorikan, menganalisis; (5) Sintesis antaranya seperti: menghubungkan, mengembangkan, mengorganisasikan, menyusun; (6) Evaluasi di antaranya seperti: menafsirkan, menilai, memutuskan.
2.   Jenis perilaku yang dikembangkan Quellmalz adalah: (1) ingatan, (2) analisis, (3) perbandingan, (4) penyimpulan, (5) evaluasi.
3.   Jenis perilaku yang dikembangkan R. J. Mazano dkk. adalah: (1) keterampilan memusat (focusing skills), seperti: mendefinisikan, merumuskan tujuan, (2) keterampilan mengumpulkan informasi, seperti: mengamati, merumuskan pertanyaan, (3) keterampilan mengingat, seperti: merekam, mengingat, (4) keterampilan mengorganisasi, seperti: membandingkan, mengelompokkan, menata/mengurutkan, menyajikan; (5) keterampilan menganalisis, seperti mengenali: sifat dari komponen, hubungan dan pola, ide pokok, kesalahan; (6) keterampilan menghasilkan keterampilan baru, seperti: menyimpulkan, memprediksi, mengupas atau mengurai; (7) keterampilan memadu (integreting skills), seperti: meringkas, menyusun kembali; (8) keterampilan menilai, seperti: menetapkan kriteria, membenarkan pembuktian.
4.   Jenis perilaku yang dikembangkan Robert M. Gagne adalah: (1) kemampuan intelektual: diskriminasi, identifikasi/konsep yang nyata, klasifikasi, demonstrasi, generalisasi/menghasilkan sesuatu; (2) strategi kognitif: menghasilkan suatu pemecahan; (3) informasi verbal: menyatakan sesuatu secara oral; (4) keterampilan motorist melaksanakan/menjalankan sesuatu; (5) sikap: kemampuan untuk memilih sesuatu. Domain afektif yang dikembangkan David Krathwohl adalah: (1) menerima, (2) menjawab, (3) menilai.
6.   Domain psikomotor yang dikembangkan Norman E. Gronlund dan R.W. de Maclay adalah: (1) persepsi, (2) kesiapan, (3) respon terpimpin, (4) mekanisme; (5) respon yang kompleks, (6) organisasi, (7) karakterisasi dari nilai.
7.   Keterampilan berpikir yang dikembangkan Linn dan Gronlund adalah seperti berikut.
a.  Membandingkan
-    Apa persamaan dan perbedaan antara … dan…
-    Bandingkan dua cara berikut tentang ….
b.  Hubungan sebab-akibat
-    Apa penyebab utama …
-    Apa akibat …
c.  Memberi alasan (justifying)
-    Manakah pilihan berikut yang kamu pilih, mengapa?
-    Jelaskan mengapa kamu setuju/tidak setuju dengan pernyataan tentang ….
d.  Meringkas
-    Tuliskan pernyataan penting yang termasuk …
-    Ringkaslah dengan tepat isi …
e.  Menyimpulkan
-    Susunlah beberapa kesimpulan yang berasal dari data ….
-    Tulislah sebuah pernyataan yang dapat menjelaskan peristiwa berikut ….
f.   Berpendapat (inferring)
-    Berdasarkan …, apa yang akan terjadi bila
-    Apa reaksi A terhadap …
g.  Mengelompokkan
-    Kelompokkan hal berikut berdasarkan ….
-    Apakah hal berikut memiliki …
h.  Menciptakan
-    Tuliskan beberapa cara sesuai dengan ide Anda tentang ….
-    Lengkapilah cerita … tentang apa yang akan terjadi bila ….
i.   Menerapkan
-    Selesaikan hal berikut dengan menggunakan kaidah ….
-    Tuliskan … dengan menggunakan pedoman….
j.   Analisis
-    Manakah penulisan yang salah pada paragraf ….
-    Daftar dan beri alasan singkat tentang ciri utama ….
k.      Sintesis
-    Tuliskan satu rencana untuk pembuktian …
-    Tuliskan sebuah laporan …
l.   Evaluasi
-    Apakah kelebihan dan kelemahan ….
-    Berdasarkan kriteria …, tuliskanlah evaluasi tentang…
Kaidah-kaidah dalam penulisan soal
Dalam penulisan soal pada instrumen non-tes, penulis butir soal harus memperhatikan ketentuan/kaidah penulisannya. Kaidahnya adalah seperti berikut ini.
 1.   Materi
a.  Pernyataan harus sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi.
b.  Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap: aspek kognisi, afeksi atau konasinya dan pernyataan positif atau negatifnya).
 2.   Konstruksi
a.  Pernyataan dirumuskan dengan singkat (tidak melebihi 20 kata) dan jelas.
b.  Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
c.  Kalimatnya bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda.
d.  Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu.
e.  Kalimatnya bebas dari pernyataan yang faktual atau dapat diinterpretasikan sebagai fakta.
f.   Kalimatnya bebas dari pernyataan yang dapat diinterpretasikan lebih dari satu cara.
g.  Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mungkin disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden.
h.  Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan secara lengkap.
i.   Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak pasti seperti semua, selalu, kadang-­kadang, tidak satupun, tidak pernah.
j.   Jangan banyak mempergunakan kata hanya, sekedar, semata-mata. Gunakanlah seperlunya.
 3.   Bahasa/Budaya
a.  Bahasa soal harus komunikatif dan sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik atau responden.
b.  Soal harus menggunakan bahasa Indonesia baku.
c.  Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.
dari berbagai sumber