Halaman

Minggu, 22 April 2012

PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA


Pemerolehan Bahasa Pertama (First Language Acquisition)

Disusun Oleh: Ajeng Tina Mulyana & Moh. Fauzi Bafadal


Bahasa dan pemerolehan
1.      Bahasa Pertama
Bahasa merupakan alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh para pakar linguistic yang mengartikan bahasa sebagai satu system lambing bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat yang berinteraksi dan mengidentifikasi diri.
Proses bahasa dikendalikan oleh otak yang merupakan alat pengatur dan pengendali gerak semua aktivitas. Pada otak manusia ada bagian – bagian yang sifatnya manusiawi, sedangkan pada otak mahluk lalin (hewan) tidak terdapat bagian bagian  tersebut sehingga hewan – hewan tidak dapat berbicara atau berbahasa. Jadi bahasa hanya dapat diaplikasikan oleh manusia. proses berbahasa pada manusia dimulai sejak masa kanak – kanak. Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannnya secara verbal disebut sebagai pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh bahasa pertama.
Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Jadi, bahasa pertama adalah bahasa yang diperoleh anak pertama kali dari lingkungan yang paling dekat dengannya (dalam hal ini biasanya keluarga). Bahasa pertama sering juga disebut sebagai “bahasa sumber”. Pemerolehan bahasa pada setiap anak menggunakan strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurologi manusia yang sama, tetapi juga oleh pandangan mentalisitik yang menyatakan bahwa anak telah dibekali dengan kodrati saat dilahirkan.
Ada 4 strategi yang digunakan seorang anak dalam pemerolehan bahasa pertamanya. Strategi pertama berpedoman pada meniru pada apa yang dikatakan oleh orang lain. Meniru akan digunakan terus oleh anak merskipun ia sudah dapat dengan sempurna melafalkan bunyinya. Strategi kedua adalah produktivitas.  Produktivitas berari keefektifan dan keefisienan dalam pemerolehan bahasa. Strategi ketiga berkaitan dengan hubungan umpan balik antara produksi ujaran dan respon. Dengan strategi ini anak dihadapkan dengan pedoman menghasilkan ujaran dan bagaimana responnya. Strategi keempat adalah prinsip operasi. Dalam strategi ini anak dikenalkan dengan pedoman: penggunaan “prinsip operasi” umum untuk memikirkan sarta menetapkan bahasa. Disamping itu dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui kodrat – kodrat yang universal ini. Chomsky mengibaratkan anak sebagai entitas yang seluruh tubuhya telah dipasang tombol serta kabel listrik: mana yang dipencet, itulah yang akan menyebabkan bola lampu tertentu menyala. Jadi bahasa mana dan wujudnya seperti apa ditentukan oleh input disekitarnya.

2.      Teori Pemerolehan Bahasa Pertama (First language Acquisition)
Setiap orang pasti pernah menyaksikan kemampuan menonjolkan anak anak dalam berkomunikasi.  Saat bayi mereka berceloteh, mendekut, menangis dan dengan atau tanpa mengirim begitu banyak pesan dan menerima lebih banyak pesan lagi. Ketika berumur satu tahun, mereka berusaha menirukan kata – kata dan mengucapkan kata – kata dan mengucapkan suara – suara yang mereka dengar disekitar mereka, dan kira – kira saat itulah mereka mengucapkan kata –kata pertama mereka.
Ada tiga pandangan utama tentang pemerolehan bahasa pertama. Pandangan pertama yakni pandangan behaviorisme yang menyatakan bahwa anak dilahirkan sebagai tabula rasa, papan bersih yang tidak tahu dunia ataupun bahasa dan anak – anak dibentuk oleh lingkungan. Menurut aliran ini pemerolehan bahasa ialah pemerolehan kebiasaan (habits). Pandangan kedua adalah pandangan nativisme yang berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan ,membawa kemampuan berbahasa yang dimilikinya yaitu alat pemerolehan bahasa (Language acquisition device atau disingkat LAD). Pandangan ketiga adalah pandangan fungsional uang beranggapan bahwa anak dilahirkan dengan kemampuan berfikir dan di dalamnya termasuk kemampuan berbahasa, dan kemampuan ini berkembang karena adanya interaksi dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Berikut adalah penjelasan mengenai teori – teori pemerolehan bahasa pertama:

a.        Pendekatan Behaviorisme
Bahasa adalah bagian fundamental dari keseluruhan prilaku manusia, dan para psikolog behavioristik menelitinya dalam rangka itu dan berusaha merumuskan teori – teori konsisten tentang pemerolehan bahasa pertama. Pendekatan behavioristik berfokus pada aspek – aspek yang bisa diamati secara nyata dan berbagai hubungan atau kaitan antara respon – respon itu dan peristiwa – peristiwa di dunia sekiling mereka. Seorang behavioris mungkin memandang prilaku bahasa yang efektif sebagai wujud tanggapan yang tepat terhadap stimuli. Jika respon – respon tertentu dirangsang berulang – ulang maka akan terjadi kebiasaan.
Anak – anak yang memberikan respon kebahasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan mereka belajar memahami ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikannya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak hadir di dunia disertai dengan tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahanan sebelumnya tentang bahasa, dan bahwa anak – anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan – lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan. (Brown; 2000:22).
Menurut kaum behavioris, bahasa adalah bagian penting dari keseluruhan tingkah laku manusia. Kaum behavioris menamakan bahasa sebagai prilaku verbal (verbal behavior). Untuk membagun teori tentang pemerolehan bahasa, para tokohnya memusatkan perhatian pada aspek bahasa yang kasat mata, sehingga data mereka adalah ujaran – ujaran tersebut. Teori behaviorisme tentang pemerolehan bahasa bersumber pada teori – teori pembelajaran behavioristik.
Prinsip yang menjadi dasar dari pendekatan pembelajaran S-R pada penelaahan prilaku ialah  classic conditioning dan operant Conditioning. Kedua prosedur pengkondisian ini mulai dari penelitian pada bagaimana hewan belajar dan diperluas pada pembelajaran bahasa. Prosedur conditioning ini dijadikan dasar untuk program pengajaran bahasa pada pengajaran bahasa pada tuna rungu dan tuna grahita. Para pakar psikologi juga mengaplikasikan prinsip – prinsip pengkondisian dan pembelajaran bermakna dan bentuk – bentuk gramatika.

Classical Conditioning
Classical conditioning dikembangkan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1894 - 1936). Dalam eksperimennya ia menunjukkan makanan pada anjing kemudian anjing memakan makanan itu. Setiap kali makanan itu ditunjukkan pada anjing kemudian anjing itu memakan makanan itu. Setiap kali ditunjukkan makanan, anjing  itu mengeluarkan air liur. Tampak bahwa makanan itu sebagai Unconditional Stimulus (UCS) menyebabkan responsb (R), keluarnya air liur. Pada percobaan – percobaan berikutnya, bel dibunyikan sebelum makanan ditunjukkan pada anjing. Sesudah beberapa kali percobaan, anjing mengeluarkan air liur sebagai respon terhadap bunyi bel saja. Perhatikan diagram berikut:
Unconditioned stimulus (UCS)
(Makanan)
Conditioned stimulus (CS)
(Bunyi bel)
R
Keluarnya air liur
 










Penemuan Pavlov tentang kaitan antara stimulus dan respon ini berpengaruh besar terhadap pandangan para ahli tentang psikologi belajar. Berdasarkan penemuan Pavlov ini, JB. Watson menciptakan istilah Behaviorisme. Berdasarkan bagan tersebut dapat kita lihat seperti pada lingkungan banyak rangsangan yang dapat menimbulkan emosi positif dan negative. Jika rangsangan – rangsangan berbahasa misalnya: frasa, kata, atau kalimat,sering terjadi bersamaan dengan rangsangan – rangsangan lingkungan, maka pada akhirnya rangsangan tersebut dapat menimbulkan respon emosional walaupun tak ada rangsangan lingkungan. Untuk jelasnya perhatikan contoh berikut:
“Tina seorang anak berumur 17 bulan akan menarik rambut ibunya dengan keras. Ibunya segera mengatakan, “tidak! , tidak!” sambil tangan anaknya dengan menghubungkan sakit ditangannya dengan kata “tidak!” tidak!” akan menimbulkan respon makna yang  tidak menyenangkan bagi Tina. Jika hal ini terjadi berolang – ulang dan respon emosional, sama halnya dengan bunyi  bel menimbulkan respon air liur. Dengan demikian, ibu telah berhasil mengajarkan makna “tidak”. Dengan kata lain; Tina memahami makna tidak yang berarti suatu larangan.

Operant Conditioning.
Teori operant conditioning dikemukakan oleh tokoh psikologi B. F Skinner dengan karyanya yang terkenal berjudul Verbal Behavior (1957). Teori Skinner tentang prilaku verbal adalah perluasan dari teori umumnya tentang pembelajaran dengan operant conditioning. Menurut skinner, prilaku berpengaruh pada lingkungan disebut prilaku operant (to operate:  menghasilkan efek yang dikehendaki, mempengaruhi). Operant conditioning merujuk pada pengkondisian atau pembiasaan dimana manusia memberikan respons atau operant (kalimat ujaran) tanpa stimulus yang tampak; operant ini dipelajari dengan pembiasaan (conditioning).  Maka apa yang dimaksud dengan pengkondisian operan oleh Skinner adalah pengkondisian dimana organism (manusia) menghasilkan suatu respon, atau operan tanpa adanya stimuli yang dapat diamati: operan tersebut dijaga (dipelajari) melalui penguatan (Brown 2000: 22 - 23).
Teori skinner menerangkan bagaimana kecenderungan respon dicapai melalui pembelajaran. Jika respond diikuti oleh konsekuensi yang menguntungkan atau disebut juga penguatan, maka respon tersebut menguat dan jika menghasilkan konsekuaensi negative atau hukuman), maka respon tersebut akan melemah. Melalui eksperimennya tersebut, Skinner menemukan bahwa pemerolehan pengetahuan, ttermasuk pengetahuan bahasa merupakan kebiasaan semata atau hal yang harus dibiasakan terhadap subyek tertentu yang dilakukan secara terus menerus.
Contoh operant conditioning adalah: bila seorang anak mengucapkan sesuatu yang kebetulan sesuai (appropiate) dengan situasi, ibunya atau orang disekitarnya menghadiahinya dengan anggukan, ucapan, senyuman, atau tindakan yang lain yang menunjukkan persetujuan. Hal ini akan mengakibatkan respon yang sama yang akan terjadi lagi dalam situasi yang sama. Namun jika ujarannya tidak benar, si ibu tidak mengatakannya. Maka akan kecil kemungkinannya terjadi respon yang sama dalam situasi yang jelasnya. Dengan cara ini, ujaran – ujaran orang dewasa menjadi rangsangan – rangsangan bagi anak untuk menanggapinya. Anak akan menunjukkan bahwa ia memahami ujaran yang didengarnya, dan ia pun menghasilkan wicara yang sesuai dengan yang didengarnya. Jadi bagi kaum behaviorisme bahwa belajar bahasa dan perkembangannya hanyalah persoalan bagaimana mengkondisikan anak dengan cara “imitation, practice, reinforcement, dan habituation, yang merupakan langkah pemerolehan bahasa.




b.       Pendekatan Nativisme.
Para nativist memiliki pernyataan dasar yaitu bahwa pemerolehan bahasa sudah ditentukan dari bawaan, bahwa kita lahir dengan kapasitas genetic yang mempengaruhi kemampuan kita memahami bahasa disekitar kita yang hasilnya adalah sebuah konstruksi system bahasa yang tertanam dalam diri kita. Secara umum pendekatan nativisme mengacu pada pendekatan yang menekankan kemampuan ilmiah manusia untuk dapat berbicara. Teori ini dipelopori oleh Noam Chomsky pada awal tahun 1960 – an sebagai bantahan terhadap teori Behaviorisme.yang kemudian menulis buku berjudul (Review of B.F. Skinner’s Verbal Behavior 1959) sebagai bantahan terhadap konsep Skinner tentang belajar bahasa yang ada dalam buku verbal behavior (1957).
Menurut Chomsky “bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia. Hal ini berdasarkan asumsi sebagai berikut: pertama prilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan memiliki peran kecil dalam proses pematangan bahasa. Kedua  bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relative singkat, tidak tergantung pada lamanya latihan seperti pendapat kaum behaviorism. Ketiga lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa.
Chomsky juga mengemukakan adanya cirri – cirri bawaan bahasa untuk menjelaskan pemerolehan bahasa asli pada anak – anak dalam tempo begitu singkat sekalipun ada keabstrakan dalam kaidah kaidah bahasa tersebut. Pengetahuan Chomsky diumpamakan sebagai “kotak hitam kecil” di otak, sebuah perangkat pemerolehan bahasa atau Language Acquisition Device (LAD) (Brown, 2000: 31). Nativist percaya bahwa setiap manusia yang lahir tsudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa yaitu Language Acquisition Device (LAD). LAD dianggap sebagai sebagai bagian fisikologis dari otak yang khusus untuk mengolah masukan (input) dan menetukan apa yang dikuasai lebih dahulu seperti bunyi, kata, frasa, kalimat, dan seterusnya. Meskipun kita tahu persis tepatnya dimana LAD itu berada karena sifatnya yang abstrak  (invisible). Mcneil (1966) dalam Brown 2000 (31) memaparkan LAD meliputi empat perlengkapan linguistic bawaan:
1.      Kemampuan membedakan bunyi wicara dan bunyi – bunyi lain dilingkungan sekitar
2.      Kemampuan menata data linguistiki kedalam berbagai kelas yang biasa disempurnakan kemudian
3.      Pengetahuan hanya jenis system linguistic tertentu yang mungkin sedangkan yang lain tidak
4.      Kemampuan untuk terus mengevaluasi system linguistic yang berkembang untuk membangun kemungkinan system paling sederhana berdasarkan masukan linguistic yang tersedia.
Mcneil dan para peneliti lain dalam tradisi Chomskyan secara meyakinkan berpendapat bahwa gagasan LAD yang sangat bertolak belakang dengan stimulus – respon (S-R) aliran behavioristik yang begitu terbatas dalam menjelaskan kreatifitas yang terdapat dalam bahasa anak – anak. Gagasan tentang bakat linguitik sangat cocok dengan teori generative:  anak – anak diyakini memanfaatkan kemampuan bawaan untuk menghasilkan jumlah ujaran yang kemungkinan tidak terhingga. Aspek – aspek makna, keabstrakan kreatifitas dijelaskan secara lebih memadai.
Chomsky menganggap Skinner keliru dalam memahami kodrat bahasa. Bahasa bukan suatu kebiasaan tetapi suatu system yang diatur oleh seperangkat peraturan (Role Governed). Bahasa juga bersifat kreatif dalam memiliki ketergantungan struktur. Jadi pemerolehan bahasa bukan didasarkan pada nurture (pemerolehan itu ditentukan oleh alam lingkungan) tetapi pada nature. Artinya pemerolehan bahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak dilahirkan sebagai tabularasa, tetapi dibekali dengan  bekal kodrati(innate properties) yaitu faculties of mind yang salah satu bagiannya khusus untuk memperoleh bahasa, yaitu “language acquisition device”

c.             Pendekatan Fungsional
Meningkatnya perspektif konstruktivis tentang kajian bahasa, dapat kita lihat melalui adanya pergeseran dalam pola – pola penelitian. Pergeseran ini tidak jauh dari mata rantai generative/ kognitif.=, atau meungkin lebih tepat dilihat sebgai gerakan menuju esensi bahasa. Dua penekanan muncul (1) para peneliti mulai melihat bahwa bahasa hanyalah salah satu manifestasi kemapuan kognitif dan efektif manusia dalam kaitannya dengan dunia, dengan orang lain dan diri sendiri. (2) lebih jauh, kaidah – kaidah generatift yang ditawarkan oleh kaum nativis adalah abstrak, formula, eksplisit dan sangat logis, tetapi mereka ehanya bersentuhan dengan dengan bentuk – bentuk bahasa dan tidak dengan makna, sesuatu yang terletak pada tataran fungsional yang lebih mendalam yang terbangun dari interaksi social. Contoh – contoh bentuk bahasa adalah morfem, kata, kalimat dan kaidah yang mengatur semua itu. Fungsi adalah tujuan interaktif dan bermakna didalam suatu konteks social (pragmatis) yang penuh dengan bentuk – bentuk.

d.       Teori Kognitivisme
Munculnya teori ini dipelopori oleh Jean Piaget (1954) yang mengatakan bahwa bahasa itu salah satu diantara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Piaget mengatakan bahwa struktur yang kompleks itu bukan pemberian alam dan bukan sesuatu yang dipelajari dari lingkungan melainkan struktur itu timbul secara tak terelakkan sebai akibat datri interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognisi anak dengan lingkungan kebahasaannya.  Kaum kognitivisme berpendapat bahwa kemampuan pembelajar sudah terprogram secara biologis untuk memiliki kemampuan kognitif dan proses belajar terjadi dengan cara memetakan kategori linguistic kedalam kategori kognitif, serta apa yang dipelajari adalah tata bahasa  sebuah bahasa.
Menurut teori kognitivisme, tyang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Sejak lahir sam pai usia 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya memahami dunia melalui indranya. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak suda dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan symbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Symbol ini kemudian berkembang menjadi kata – kata awal yang diucapkan anak.







Sebuah teori terpadu, konsisten dan lengkap tentang diungkapannya pemerolehan bahasa memang belum dapat dijumpai, namun penelitian bahasa anak melahirkan langkah – langkah besar. 
Behavioris
Teori mediasi
Nativis
Fungsional
 

·      Tabula rasa
·      Stimulus: respon linguistic
·      Pengkondisian
·      dukungan
Respon
Mediasi
(Rm)
Predisposisi bawaaan LAD / UG
Sistemik pemerolehan diatur kaidah
Konstruksi kreatif
Tata bahasa “poros” Pemrosesan terdistribusi paralell
·      Konstruktivis
·      Interaksi social
·      Kognisi dan bahasa
·      Fungsi wacana
·      Wacana
Gb. Teori Pemerolehan Bahasa Pertama
(Brown, 2000: 38)
 


















3. Proses Pemerolehan Bahasa
Chomsky menyebutkan bahwa ada dua proses yang terjadi ketika kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya. Proses yang dimaksud adalah proses kompetensi dan proses performasi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis dan semantic). Secara tidak disadari kompetensi ini dibawa oleh setiap anak sejak lahir. Meskipun dibawa sejak lahir, kompetensi memerlukan pembinaan sehingga anak-anak memiliki performasi dalam berbahasa. Performasi adalah kemampuan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Performasi terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses proses penerbitan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau mempersepsi kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar, sedangkan proses penerbitan melibatkan kemampuan menghasilkan kalimat-kalimat sendiri (Chaer, 2009).
Bahasa pertama diperoleh dalam beberapa tahap dan setiap tahap berikutnya lebih mendekati tata bahasa dari bahasa orang dewasa. Menurut para ahli, tahap-tahap ini sedikit banyaknya ada ciri kesemestaan dalam berbagai bahasa di dunia.

1.        Tahap-tahap Pemerolehan Bahasa Pertama
Tahap-tahap linguistic pemerolehan bahasa terdiri atas beberapa tahap, yaitu : (1) tahap pengocehan (babbling); (2) tahap satu kata (holofrastis); (3) tahap dua kata; (4) tahap menyerupai telegram (telegraphic speech).

A.Tahap Pengocehan
Pada umur sekitar enam minggu, bayi mulai mengeluarkan bunyi-bunyi dalam bentuk teriakan, rengekan, dengkur. Bunyi yang dikeluarkan oleh bunyi mirif dengan bunyi konsonan atau vocal. Akan tetapi, bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan bentuknya karena belum terdengar  jelas. Sebagaian ahli menyebutkan bahwa bunyi yang dihasilkan oleh bayi ini adalah bunyi-bunyi bahasa/dekur/vokalisasi bahasa/ tahap cooing.
Setelah tahap vokalisasi, bayi mulai mengoceh (babling). Celotehan merupakan ujaran yang memiliki suku kata tunggal seperti mu dan da. Adapun umur bayi mengoceh tidak dapat ditentukan. Beberapa ahli menyatakan bahwa tahap celotehan terjadi pada usia enam sampai sepuluh bulan. Kemampuan anak berceloteh tergantung pada perkembangan neurologi seorang anak.
Celotehan dimulai dengan konsonan dan diikuti dengan vocal ( K-V), contohnya papapapa mamamama babababa…, orang tua mengaitkan kata papa sama dengan ayah dan mama sama dengan ibu meskipun apa yang ada dibenak bayi tidaklah diketahui. Tidak mustahil celotehan itu hanyalah sekedar artikulatori belaka (Djardjowidjojo dalam safriadi, 2009).

B.Tahap Satu-Kata atau Holofrastis
Tahap ini berlangsung ketika anak berusia antara 12 dan 18 bulan. Ujaran-ujaran yang mengandung kata-kata tunggal diucapkan anak untuk mengacu pada benda-benda yang dijumpai sehari-hari. Sang anak sudah mengerti bahawa bunyi ujar berkaitan dengan makna dan mulai mengucapkan kata-kata pertamanya. Itulah sebabnya tahap ini disebut tahap satu kata satu frase atau kalimat, yang berarti bahwa satu kata yang diucapkan anak itu merupakan satu konsep yang lengkap diucapkan anak itu merupakan satu konsep yang lengkap, misalnya “mam” (saya minta makan); “pa” (saya mau papa ada disini), “ma” (saya mau mama ada disini).

C.Tahap Dua-Kata, Satu Frase
Tahap ini berlangsung ketika anakberusia 18-20 bulan. Ujaran-ujaran yang terdiri atas dua kata mulai muncul seperti mama mam dan papa ikut. Pada tahap ini pula anak sudah mulai berfikir secara “subjek + predikat” meskipun kata ganti orang dan jamak belum dapat digunakan. Dalam pikiran anak itu, subjek + predikat dapat terdiri atas kata benda + kata benda, seperti “Desi mainan” yang berarti “desi sedang bermain dengan mainan” atau kata sifat + kata benda, seperti “kotor patu” yang artinya “sepatu ini kotor”

D. Tahap Telegrafis
Pada usia 2 dan 3 tahun, anak mulai menghasilkan ujaran kata-ganda (multiple-word utterances) atau disebut juga ujaran telegrafis. Anak juga sudah mampu membentuk kalimat dan mengurutkan bentuk-bentuk itu dengan benar. Kosakata anak berkembang dengan pesat mencapai berates-ratus kata dan cara pengucapan kata-kata semakin mirip dengan bahasa orang dewasa. Contoh dalam tahap ini diberikan oleh Fromkin dan Rodman.
“cat stand up table” (kucing berdiri di atas meja);
“No sit here” (Jangan duduk disini!).
Fromkin dan Rodman dalam safriadi (2009) menyebutkan hasil peniruan yang dilakukan oleh si anak tidak akan sama seperti yang diinginkan oleh orang dewasa. Jika orang dewasa meminta sang anak untuk menyebutkan “He’s going out”, si anak akan melafalkan dengan “He go out”.


PERMASALAHAN DALAM PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA

Kompetensi dan Perfroma
Kompetensi mengacu pada pengetahuan seseorang tentang sebuah sistem kejadian atau fakta. Kompetensi seseorang untuk melakukan sesuatu tidak dapat diobservasi dan merupakan manifestasi konkret atau realisasi dari kompetensi (brown 2000:30).
Dalam hubungannya dengan bahasa, kompetensi adalah pengetahuan seseorang tentang sistem sebuah bahasa (tata bahasa, kosa kata, bagian-bagian bahasa dan keterkaitannya). Performa adalah produksi aktual (berbicara, menulis) atau pemahaman (menyimak, membaca) dari peristiwa linguistic.
Model kompetensi-performa tidak disepakati secara universal. Mayoritas kritik diberikan pada Chomsky menganggap kompetensi sebagai kondisi ideal pembicara-pendengar tanpa ada tampilan variabel performa seperti batasan memori, selingan, error, pergeseran perhatian dan minat, fenomena keraguan seperti pengulangan, start yang gagal, jeda, penghilangan, dan penambahan. Sehingga teori bahasa sama dengan teori kompetensi. Stubbs menyatakan dualism tersebut tidak perlu, yang penting mempelajari bahasa yang digunakan. Tarone menganggap kekeliruan dan keraguan berbahasa berhubungan dengan apa yang disebut dengan kompetensi heterogeneous –kemampuan sebuah proses yang sedang dibentuk.

Pemahaman dan Produksi
Pemahaman dan produksi dapat menjadi aspek performa dan kompetensi. Dalam mitos pengajaran bahasa asing pemahaman (berbicara, menulis) adalah performa. Penting sekali untuk mengenal bahwa bukan itu masalahnya: produksi memang dapat diobservasi secara langsung, tetapi pemahaman jugga termasuk performa-tindakan yang disengaja-seperti halnya produksi.
Dalam bahasa anak, kebanyakan hasil penelitian dan observasi menunjukan superioritas pemahaman terhadap produksi: anak-anak memahami lebih dari pada yang mereka ungkapkan. Namun kita perlu berhati-hati untuk menyimpulkan hal tersebut karena penelitian oleh Gathercole (1988) menyatakan anak-anak dapat memproduksi beberapa aspek bahasa tanpa mampu memahaminya.

Nature atau Nuture
Nativisme meyakini bahwa anak dilahirkan dengan pengetahuan bawaan atau kecenderungan pada bahasa dan bawaan lahir. Hipotesis ini kontradiktif dengan behavioristik yang menganggap bahasa sebagai satu set kebiasaan dicapai melalui proses pengkondisian.

Sistematika dan Variasi
Satu asumsi yang baik dari penelitian bahasa anak sekarang ini adalah sistematika dari proses pemerolehan, dimulai dari ungkapan yang sederhana sampai ke kompleks. Diantara seluruh sistematika ada sejumlah variasi dalam proses belajar. Permasalahannya, seluruh variasi di masa ini pada suatu waktu dapat dianggap sistematik melalui pencatatan yang teliti.

Bahasa dan Pemikiran
            Hubungan bahasa dan pemikiran masih diperbincangan. Piaget (1972) menganggap perkembangan kognitif merupakan pusat organism manusia. Bahasa sangat bergantung pada perkembangan kognitif seseorang. Vygotsky menyatakan interaksi sosial, melalui bahasa, adalah prasyarat perkembangan kognitif.
            Hipotesis terkenal yang mendukung bahasa mempengaruhi pemikiran adalah hipotesis Whorf-Sapir yang disebut realtivitas lingustik. Hipotesis ini menyatakan bahwa masing-masing bahasa memaksakan pembicaranya pada pandangan dunia tertentu.

Peniruan
Sudah menjadi pengamatan umum bahwa anak adalah peniru yang baik. Peniruan merupakan sebuah strategi penting dalam pembelajaran bahasa pada tahap awal dan aspek penting dalam pemerolehan phonologi tahap awal. Peniruan sesuai dengan prinsif behavioristik pemerolehan bahasa.
Peniruan  yang dilakukan anak yaitu peniruan struktur permukaan, dimana seseorang mengulang dan meniru dipermukaan, pada kode fonologi daripada kode semantic.
Pada tahap awal dari pemerolehan bahasa anak menunjukan peniruan struktur permukaan karena bayi tidak memiliiki kategori semantic yang diperlukan untuk menentukan “makna’ pada ungkapan. Peniruan pada struktur dalam bahasa dapat memblok perhatian mereka pada struktur permukaan dan merka menjadi  peniru yang buruk  karena anak memakai nilai kebenaran dari ungkapan.

Praktek
Pengamatan umum menyimpulkan anak “mempraktekkan” bahasa secara konstan, terutama pada tahap awal ungkapan satu dan dua kata. Model behavioristik pada pemerolehan bahasa pertama menyatakan praktek pengulangan dan asosiasi-adalah kunci pembentukan kebiasaan oleh kondisi.

Input
Peran input dalam pemerolehan bahasa anak sangat penting. Kemampuan bicara anak berasal dari lingkungan rumah yaitu orang tua dan kakak-kakaknya. Dari hasil penelitian Bellugi dan Brown (1964), Landes (1975), Moerk (1985) diketahui bahwa orang tua memberikan input pada anak dengan bahasa yang terseleksi dan tegas.
Selain itu anak bereaksi pada input struktur dalam dan fungsi komunikatif bahasa daripada pengkoreksian tata bahasa. Dalam jangka lama, akhirnya anak akan membetulkan kesalahan tata bahasanya.
Jadi permasalahan yang penting adalah fakta yang jelas. Dari hasil penelitian bahwa input dari orang dewasa dan teman pada anak jauh lebih penting daripada apa yang nativisme percaya.

Discourse
            Input dari orang tua hanyalah salah satu aspek dalam perkembangan bahasa anak. Anak juga berinteraksi dengan teman dan orang dewasa lainnya. Dari interaksi ini anak melakukan percakapan dimana dia akan belajar melakukan inisiatif dan merespon. Dari percakapan itu anak akan belajar bahwa pertanyaan bukanlah hanya sebuah pertanyaan tetapi bisa juga merupakan permintaan informasi, tindakan atau pertolongan. Anak belajar membedakan antara penegasan dan tantangan, antara harfiah dan kiasaan.


Kesimpulan
·         Pemerolehan bahasa pertama adalah proses penguasaan bahasa pertama oleh si anak. Bahasa pertama adalah baahsa yang diperoleh anak pertama kali dari lingkungan yang paling dekat dengannya (dalam hal ini baiasanya keluarga). Bahasa pertama sering juga disebut sebagai “bahasa sumber”
·         Bagaimana sebenarnya proses pemerolehan bahasa pertama ini? Ada beberapa teori pemerolehan bahasa yang menjelaskan hal ini, yaitu teori behaviorisme, nativisme, kognitivisme. Ketoga teori ini memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menjelaskan perihal cara anak memperoleh bahasa pertamanya
·         Pemerolehan bahasa pertama adalah proses penguasaan bahasa pertama oleh si anak. Selama penguasaan bahasa pertama ini, terdapat dua proses yang terlibat, yaitu proses kompetensi dan proses performasi. Kedua proses ini tentu saja diperoleh oleh anak secara tidak sadar
·         Ada beberapa tahap yang dilalui oleh sang anak selama memperoleh bahasa pertama. Tahap yang dimaksud adalah vokalisasi bunyi, tahap satu-kata atau holofrastis, tahap dua-kata, dan ujaran telegrafis.


Daftar Pustaka

Brown, H. Doauglas. 2000. Principles of Language Learning and Teaching. Englewood  Cliffs: Prentice Hall Regents.

Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.

MAKNA & DEFINISI

PENDAHULUAN
Bahasa merupakan sistem komunikasi yang sangat penting bagi manusia. Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa sentiasa dianalisis dan dikaji dengan menggunakan berbagai pendekatan. Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji bahasa ialah pendekatan makna. Semantik adalah ilmu yang mempelajari tentang makna bahasa, perkembangan dan perubahannya. Makna adalah pertautan yang ada diantara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). [1]Dalam kajian semantik, terdapat berbagai aspek makna yang dapat dianalisis, seperti permasalahan tentang makna, ragam makna, relasi makna, perubahan makna dan penamaan. Permasalahan tersebut akan muncul ketika seseorang mulai untuk mempelajarinya lebih dalam, hal objek yang dibahas adalah tentang ragam makna yang jenis-jenisnya begitu banyak.  Pada makalah kali ini akan dibahas tentang makna dan definisi.
A.   MAKNA DAN KAMUS
Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja  yang kita tuturkan. Menurut Aristoteles  terdapat kedekatan yang sangat erat antara makna dan definisi, karena definisi sangat berperan dalam memberikan konsep teori pembentukan makna. Makna merupakan sarana penghubung antara bahasa dengan dunia diluar bahasa yang telah disepakati para pemakainya sehingga mereka bisa berkomunikasi. [2]
Contoh : Ketika kita mendengar konsep kata ”Kuda” maka akan muncul beberapa preposisi
a. Jika X adalah kuda, maka X adalah binatang
b. Jika X adalah kuda, maka ia akan punya rambut
c. X adalah ayam jago, sehingga X bukanlah kuda
d. Jika X adalah kuda, maka ia adalah mamalia berkaki empat besar dan punya kuku serta rambut.
Dari contoh di atas, pemahaman tentang definisi sangat diperlukan untuk mengembangkan konsep teori makna. Selama ini ketika orang berpikir tentang makna, maka akan cenderung menghubungkan dengan definisi yang terdapat pada kamus.
Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie, signified) sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual). Bloomfied mengemukakan bahwa makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya. [3]
 Contoh : Ayah saya pemandu.
Ayah                                    saya                                                     pemandu

manusia                                 ganti nama                                          manusia
lelaki                                    manusia                                              membawa kendaraan
dewasa                                  orang yang berkata                            Pintar berkomunikasi
bapa kepada anak

a.    Semantik dan Lexicography
Semantik merupakan bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda atau dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik. Menurut Saussure, bahasa itu terdiri dari kumpulan kesan/makna seperti yang terdapat pada kamus, tersimpan di dalam otak dan dimiliki oleh setiap orang sehingga bisa digunakan kapan saja sesuai dengan keinginan masing-masing. Otak kita seperti gudang kata yang bisa menyimpan ingatan dalam jangka waktu yang lama akan bentuk-bentuk pola kalimat, frase dan kalimat.[4] Leksikon mental diibaratkan sebagai gudang dimana kita menyimpan barang. Akan tetapi gudang ini bukan sembarang gudang karena tidak hanya barangnya yang disimpan itu unik, yakni kata tetapi cara pengaturannya juga sangat rumit. Kita bisa cari untuk permintaan barang yang masuk, permintaan itu bisa berupa bunyi, wujud fisik, wujud grafik atau hubungan antara satu ”barang” dengan barang yang lainnya. Leksikon mental sering juga dinamakan kamus mental, mempunyai sistem yang memungkinkan kita untuk meretrif kembali kata-kata secara cepat meskipun kata tersebut disimpan secara acak dengan ribuan kata yang lain. Berbeda dengan kamus biasa yang hanya menyimpan kata, leksikon mental menyimpan kata sekaligus menyediakan informasi berkaitan dengan kata yang akan diucapkan yaitu berupa informasi tentang fonologi, sintaksis, semantik, dan pengejaan kata. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa tugas utama linguistik semantik yaitu memberikan dan mengumpulkan penjelasan dari arti masing-masing kata yang terdapat dalam leksikon mental. Garman berpendapat bahwa bagi pembicara/penulis pencarian kata-kata merupakan bagaimana pemetaan ide atau arti kata dalam leksikon mental yang dituangkan dalam bentuk kata- kata yang sesuai untuk diimplementasikan dalam bahasa lisan/tulisan. Sedangkan bagi pendengar/pembaca proses tersebut lebih menekankan kepada pemetaan porsi sinyal yang akan diteruskan ke saraf sensorik untuk memberikan arti/makna kata.[5]
Adapun leksikografi merupakan ilmu tentang cara penyusunan kamus. Dalam menyusun kamus diperlukan ilmu-ilmu lainnya yang berhubungan seperti: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik. Pembentukan kamus yang melibatkan leksikon mental lebih memberikan informasi secara rinci terhadap suatu kata baik secara gramatikal maupun phonologinya. Contohnya adalah kata ”Pour” yang terdapat pada Concise Oxford Dictionary. Kamus merupakan alat yang sangat popular, jika kita melihat sejarah munculnya kamus maka kamus bilingual lebih dahulu diciptakan dibandingkan dengan kamus monolingual. Kamus bilingual bahasa Latin-Vernacular sangat terkenal di Eropa ketika pertengahan dan akhir dari abad 14 dan akhir abad 15  (Auroux 1994-119). Setelah itu baru muncullah kamus monolingual yang bertujuan untuk jadi petunjuk bagi orang yang ingin mengkaji lebih dalam tentang kegunaan bahasa lisan.
Salah satu ilmu yang diperlukan dalam penyusunan kamus yaitu semantik. Makna yang terdapat dalam semantik yaitu leksikal, gramatikal, kontekstual, idiomatikal, dan sebagainya. Makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Makna leksikal ini  merupakan kata yang masih berdiri sendiri baik berupa leksem . Contoh : kuda, meja, buku, dan lain-lain. Menurut John I Saeed tujuan dari makna leksikal ini adalah : untuk memberikan arti dari masing-masing kata dalam bahasa serta untuk menunjukkan bagaimana hubungan atau keterkaitan dari makna atau arti kata tersebut.[6] Makna lain dari semantik yaitu makna gramatikal, yaitu makna yang timbul dalam suatu proses gramatika baik proses afiksasi, reduplikasi maupun komposisi. Berbicara makna maka ada beberapa aspek yang terlibat, seperti pengertian (sense), perasaan (feeling), nada (tone) serta maksud (intention).[7] Sejauh ini kata yang tertulis dalam kamus jarang disertai dengan pengertian (sense) yang jelas, misalnya dijelaskan dengan frase kata yang mengikutinya sehingga sering terjadi kesalahan penggunaan kata. Contohnya utuk kata ”Pour” yang memiliki banyak arti bila kata tersebut diikuti dengan frase kata lainnya:
1.        I was pouring the rainwater when the phone rang.
2.        I was pouring the mud when the phone rang.
3.        I was pouring the rainwater over the ground when the phone rang.
4.        I was pouring the mud down the hole when the phone rang.
Kalimat 1 dan 2 masih dipertanyakan kejelasannya karena tidak adanya frase yang mengikuti kata tersebut unuk lebih memperjelas makna kalimat, sedangkan kalimat 3 dan 4 lebih jelas dan maknanya pun dapat diterima secara jelas juga.
Perlu kita ketahui bahwa definisi yang terdapat dalam kamus merupakan definisi yang berdasarkan kata atau semasiological yang mengarah pada makna. Pendekatan ini biasanya dimulai dengan menentukan leksemnya terlebih dahulu, setelah itu baru mengartikan maknanya masing-masing. Berbeda dengan pendekatan onomasiological yang memulai dari makna tertentu kemudian mengurutkan beberapa bentuk variasi yang memungkinkan mempunyai kesamaan dari makna kata tersebut.  Semasiological menyebutkan beberapa kata : scare, terrify, frighten, startle, spook, panic. Onomasiological menyebutkan kata : Frighten

B.   SATUAN MAKNA
a.    Kata dan Morfem
Kata Merupakan satuan terbesar dalam morfologi dan satuan terkecil dalam sintaksis. Menurut Bloomfield  ”Word is a minimum free form, i.e the minimal unit which may appear on its own without any additional grammatical material, is clearly insufficient : many canonical words like the, of, or my do not usually appear alone, but must presumably considered as fully fledged words.”  Kata merupakan satuan terkecil yang belum mendapatkan proses gramatikal, beberapa kata resmi seperti like, the, of tidak muncul sendiri biasanya diikuti dengan kata dasar/baku.[8]
Istilah kata didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri yang dapat terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem. Sebagai contohnya; Satuan tanda merupakan sebuah bentuk bebas karena tidak dapat dibagi menjadi satuan-satuan bebas lainnya. Satuan menandai bukan bentuk bebas. Tetapi perhatikan bentuk atau satuan tanda tangan dapat dibagi menjadi dua satuan yakni tanda dan tangan. Namun kalau diteliti lebih jauh, sebenarnya satuan tanda tangan memiliki satu kesatuan yang utuh atau padu.
Dengan perkataan lain, tanda tangan memiliki sifat sebuah kata yang membedakan dirinya dari frase. Bentuk-bentuk atau satuan-satuan yang setipe itu tidak mungkin dipisahkan atau dibalikkan menjadi tangan tanda  atau dipisahkan satuan lain tanda itu tangan. Satuan itu bukan merupakan bentuk bebas seperti contoh lainnya di, ke, daripada- tetapi secara gramatis memiliki sifat bebas. Satuan-satuan seperti contoh di atas di sebut kata. Berdasarkan penjelasan di atas, nyatalah bahwa kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Kata-kata seperti: duduk, makan, tidur, meja masing-masing terdiri atas sebuah morfem, sedangkan penduduk, makanan, meja makan, kaki tangan masing-masing terdiri atas dua buah morfem. Kata-kata yang terdiri atas satu morfem disebut kata bermorfem tunggal atau kata monomorfemis (monomorphemic word) dan kata-kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih disebut kata bermorfem jamak atau kata polimorfemis .[9]
 Bloomfield (1933 : 161) mendefinisikan morfem sebagai “ a linguistic from wich bears no partial phonetic-semantic resemblance to any other form, is a simple form or morpheme. (Maksud pernyataan itu, “satu bentuk lingual yang sebagiannya tidak mirip dengan bentuk lain mana pun secara bunyi maupun arti adalah bentuk tunggal atau morfem).
Morphemes are the smallest individually meaningfull element is the utterances of a language (Hockett, 1958 : 123). Maksudnya, morfem adalah unsur-unsur yang masing-masing mempunyai makna dalam tutur sebuah bahasa.
Pada dasarnya, morfem merupakan satuan gramatik terkecil baik bebas maupun ikat yang memiliki arti, baik secara leksikal maupun gramatikal. Sebagai contoh bentuk sakit adalah sebuah morfem karena tidak dapat dibagi menjadi bentuk-bentuk terkecil lainnya serta mengandung makna atau arti leksis. Bentuk meN- juga merupakan sebuah morfem, karena merupakan bentuk terkecil bahasa Indonesia, walau tidak mempunyai makna leksikal, tetapi mempunyai makna gramatikal. Jadi jelas, bahwa morfem itu bisa berbentuk bebas (seperti: ke-, ter-, peN-, di-, per-an, peN-an). Oleh karena itu, morfem dapat diklasifikasikan menjadi morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas mempunyai potensi untuk berdiri sendiri (jadi secara sintaksis bisa langsung menjadi kata), sedangkan morfem terikat tidak dapat. Dalam kata terangkat terdapat morfem bebas angkat dan morfem terikat ter.
Di dalam buku Introduction Semantics dijelaskan selain kata tunggal ada juga frase kata kerja yang biasa diikuti oleh partikel atau kata majemuk yang terdiri dari beberapa kata yang membentuk arti/makna baru. Contohnya : Phrasal Verb : dispose of (membuang), touch down (mendarat), play around (bermain-main), call off (membatalkan), set up (mempersiapkan), break down (merobohkan), put up with (menahan), get on with (meneruskan),look down on (merendahkan), …
Noun Compound : tree house (tipe rumah yang terdiri dari 3 rumah) ,zebra crossing (penyebrangan jalan yang bergaris putih seperti Zebra), junk food (makanan siap saji), instruction book (buku panduan).

b.   Simbol Suara (Onomatopoeia)
Onomatopoeia adalah kata-kata yang diambil dengan cara menirukan bunyi sumbernya. Onomatopoeia merupakan kosakata yang dibentuk berdasarkan ‘bunyi’ atau ‘suara’ yang dikeluarkan oleh kata yang bersangkutan. Kosakata ini bisa berbentuk kata benda, kata kerja, kata sifat dan sebagainya. Contoh sederhananya adalah "mengeong" yang diambil dari bunyi kucing. Contoh lainnya dalam bahasa Inggris, berikut ini suara yang sering ditemukan yang ada hubungannya dengan suara air : Karasakas (suara daun), karasikis (suara bambu), saraisi (suara air), barasabas (suara hujan lebat), dissuor (suara ombak)

c.    Idiom
Idiom merupakan satuan-satuan bahasa bisa berupa kata, frase, maupun kalimat yang maknanya tidak sama dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Contohnya ; membanting tulang, jantung hati dan lain sebagainya. Makna idiomatikal adalah makna sebuah satuan bahasa (kata, frase atau kalimat) yang “menyimpang” dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Dalam buku Introduction Semantics contoh idiom seperti “ To scoop the pool” yang berarti “untuk meraih atau memenangkan sesuatu”. Bila diartikan secara terpisah masing-masing kata tersebut maka, “scoop adalah memindahkan sesuatu dalam jumlah besar dengan cepat dalam sekali gerakan”. Sedangkan ”pool adalah pusat berkumpulnya barang”. Jelas sekali berbeda antara makna secara terpisah dari masing-masing kata tersebut dengan makna idiom setelah dua kata tersebut bergabung. Dimana ketika dua kata tersebut bergabung maka akan menimbulkan arti baru.

d.   Makna Kontekstual
Makna kontekstual adalah makna sebuah kata atau gabungan kata atau suatu ujaran di dalam konteks pemakaiannya.Makna ini muncul sebagai akibat antara ujaran dan konteks. Banyak faktor yang mempengaruhi konteks ini, yaitu : konteks pembicara, kebahasaan, waktu, tujuan, situasi atau suasana hati si pembicara/pendengar, objek pembicaraan, dan lain-lain. Makna kontekstual ini berkaitan erat dengan kolokasi. Definisi kolokasi dijelaskan oleh Baker sebagai kecenderungan sejumlah kata untuk bergabung secara teratur dalam suatu bahasa, tetapi kata yang mana dapat berkolokasi dengan kata apa tidak ada hubungannya secara logis.[10] Shei dan Pain menegaskan bahwa kolokasi ialah sekelompok kata yang sering muncul bersama.[11] Sejalan dengan itu, dalam Oxford Collocations Dictionary dijelaskan bahwa kolokasi adalah ”the way words combine in a language to produce a natural-sounding speech and writing”. Kolokasi berbeda dengan idiom. Idiom adalah ungkapan yang kalau diterjemahkan secara harfiah tidak masuk akal atau ungkapan yang maknanya tidak dapat ditelusuri melalui kata per kata dan membentuk kata baru.[12] Misalnya, idiom ‘cuci tangan’ dalam kalimat ‘Mereka cuci tangan atas masalah itu’. Idiom ‘cuci tangan’ tidak bisa dipahami melalui kata ‘cuci’ dan kata ‘tangan’, tetapi harus dipahami sebagai satu kesatuan. Sebaliknya, kolokasi adalah gabungan kata yang maknanya dapat ditelusuri melalui kata per kata, tetapi tidak membentuk kata baru. Misalnya, gabungan kata ‘memanjat pohon’ dapat dipahami maknanya melalui kata ‘memanjat’ dan kata ‘pohon’. Dengan demikian, kolokasi adalah kecenderungan sejumlah kata atau sekelompok kata untuk bergabung secara teratur guna menghasilkan bicara dan atau tulisan yang terdengar lazim dan berterima dalam suatu bahasa.
Contohnya adalah kata ”cut” yang memiliki banyak padanan kata yang mengikutinya, seperti :
cut a cake
cut someones’s hair
cut a wood
cut a diamond
cut  a deck of cards
cut a disc
cut a notch                                                  

compositional meaning                                       (arti kata= kata majemuk)
           
non compositional meaning
 (arti bukan kata majemuk)
Cut has same vague /general meaning in every collocation
(arti tidak jelas/umum)

Cut has different meaning in every collocation
(artinya berbeda-beda)

Untuk contoh kata “cut” ini, secara umum mempunyai arti (general meaning) memotong dengan menggunakan benda tajam. Dalam kata majemuk kata ”cut” diikuti dengan kata benda lainnya. Namun pada kenyataannya tidak semua arti ”cut” memotong ini dilakukan dengan benda tajam, misalkan cut a deck of cards (membagikan kartu), cut in (menerobos antrian) atau cut butter (memotong mentega) karena bisa juga memotong mentega ini tidak menggunakan benda tajam. Dengan demikian maka arti ”cut” secara umum menjadi tidak sesuai dengan konteksnya, karena tidak jelas atau ambigu. Inilah yang menjadi masalah dalam Hipotesis arti kata ”cut” secara umum. Menyikapi hal tersebut, maka timbullah arti kata ”cut” dalam arti yang berbeda-beda sesuai dengan konteks kalimatnya, namun masalahnya arti kata ”cut” ini menjadi banyak sehingga tidak efisien dan membingungkan makna leksikalnya.
Bila kita lihat arti ”cut” ini secara bukan kata majemuk maka artinya menjadi satu kesatuan, tanpa harus per kata dan memiliki arti yang jelas. Contohnya: Cutting the grass (memotong rumput), cutting a disc (mendengarkan musik).


                      
C.     BERBAGAI CARA MENDEFINISIKAN MAKNA
Definisi adalah keterangan yang merupakan penjelasan atau uraian tentang arti suatu kata atau uangkapan yang membatasi makna kata ataupun ungkapan tersebut. Kata atau ungkapan yang hendak dijelaskan disebut definiendum sedangkan bagian yang dijelaskan definiendum itu disebut definiens.

a.    Definisi Real dan Nominal
Definisi Real yaitu mendefinisikan kata yang sudah umum digunakan. Definisi ini biasanya mengacu pada kata referennya. Contohnya menggunakan kata garam dibanding dengan NacL.
Definisi Nominal merupakan suatu jenis definisi yang baru sama sekali atau memberikan suatu arti baru pada kata yang sudah lama ada. Dan definisi ini merupakan suatu cara untuk menjelaskan sesuatu dengan menguraikan arti katanya. Dalam Definisi Nominal dapat dinyatakan dalam 3 cara, yaitu :
1)   Definisi dapat diuraikan dari asal-usulnya (etimologi), contoh : Filsafat, yaitu dari Philos yang berarti pencinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan jadi arti Filsafat adalah Pencinta Kebijaksanaan
2)   Namun tidak semua bisa dilakukan dengan cara etimologi, maka supaya jelas definisi nominal ini harus dilengkapi keterangan tentang bagaimana definisi ini telah digunakan dalam masyarakat.
3)   Dapat dinyatakan dengan menggunakan sinonim

b.        Definisi dengan menyebutkan salah satu katanya (Ostension)
Definisi dengan menyebutkan salah satu katanya atau definisi dengan Ostension merupakan cara mendefinisikan makna kata dengan lebih jelas dan sederhana, dengan menunjuk langsung benda yang mewakili makna kata yang dimaksud.
Adapun kesulitan mendefinisikan makna dengan ostention adalah kata kerja “verb”, kata sifat adjectives” dan kata sambung”prepositions”tidak bisa di definisikan dengan cara ini, hanya kata yang termasuk ke dalam kategori leksikal dapat di definisikan dengan cara ini.
contoh: seorang wanita berada di toko kacamata di Prancis dan hanya berbicara sedikit bahasa Perancis, wanita tersebut ingin membeli kacamata, tetapi pelayan toko tidak mengerti yang wanita maksud, apakah hanya ingin membeli lensa kacamata atau membeli kacamata secara utuh.
Mendefinisikan makna dengan ostension memang terlihat mudah, hanya dengan menunjuk bendanya secara langsung, tetapi pada kenyataan cara ini juga menimbulkan makna ambigu. Cara untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi ketika mendefinisikan makna dengan ostension adalah menggunakan bahasa itu sendiri sebagai media untuk mendefinisikan makna sesuai dengan yang diharapkan.

c.         Definisi dengan Sinonim
Mendefinisikan makna dengan cara memberikan sinonim dari kata yang dimaksud baik itu dengan bahasa yang sama atau dengan bahasa yang berbeda.
Contoh :  Bahasa Indonesia laki-laki < Pria
                Bahasa Inggris mad and furious < angry
 Definisi dengan sinonim memiliki kekurangan yaitu adanya kemungkinan menantang identitas antara definiens ( hal/kata/ungkapan yang menjelaskan sesuatu) dan definiendum (hal/kata/ungkpan yang didefinisikan)

d.        Definisi dengan konteks atau contoh khas
Mendefinisikan makna kata dengan cara menghubungkan kata dengan peristiwa yang sesuai dengan konteks yang dimaksud.
Dalam buku Riemer dicontohkan  : scratch dan Itchy
Scratch diartikan dalam bahasa Indonesia menggaruk.
Itchy diartikan dalam bahasa Indonesia gatal
Kata scratch dihubungkan dengan suatu peristiwa yang sesuai konteks yaitu kapan kita akan melakukan kegiatan ini “scrachmenggaruk, yaitu dalam keadaan kita “itchy gatal.

e.         Definisi oleh Genus (Jenis) dan Differentia (Pembeda)
Definisi yang memperhatikan genus atau jenis dan differentia atau pembeda. Aristotle dalam Riemer menjelaskan tentang definisi oleh jenis (genus) dan pembeda (differentia).
 “ definition involves specifying the broader class to which the definiendum belongs (often called the definiendum’s genus), and then showing the distinguishing feature of the definiendum (the differentia) which distinguishes it from the other members of this broder class.
Definisi termasuk menentukan kelas yang lebih luas lagi yang dimiliki oleh suatu kata atau ungkapan yang akan didefinisikan (definiendum) (disebut jenis definiendum) serta menunjukan ciri-ciri, perbedaan dari definiendum (pembeda) yang membedakan dari kelas yang luas.  Contoh :  a man as rational animal
                                 Man adalah manusia/mahluk hidup
                                Man termasuk ke dalam animal
                                Yang membedakan man dengan animal adalah rationality
Ada banyak permasalahan apabila mendefinisikan melalui jenis dan pembeda, bisa jadi menggunakan cara ini pemaknaan menjadi tidak efektif atau tidak mungkin. Apalagi definisi melalui jenis (genus) dan  pembeda (differentia) diharapkan sebagai definisi kognitif. Hal ini dikarenakan definisi melalui jenis dan sifat pembeda mensyaratkan dengan sistem kategori (genera) dari hal yang akan di definisikan (definienda). Sebagai contoh yang telah disebutkan sebelumnya yaitu mendefinisikan “man as rational animal” , makna dari keduanya harus sudah di ketahui sebelumnya. Tetapi tidak banyak jenis (genus) dan pembeda (differentia) yang dapat digunakan, untuk beberapa kata banyak jenis yang kurang relevan serta menghasilkan makna yang tidak dapat dimengerti. Oleh sebab itu definisi melalui jenis dan pembeda bukan strategi efektif untuk menghasilkan definisi kognitif.

C.      Definisi dan Subtitusionalitas
Subtitusi definiens bagi definiendum harus tepat dan sesuai dalam segala konteks.  Sebagai contoh dalam bahasa Inggris “keep in equilibrum” dapat diterima sebagai definisi dari kata “balance“ , apabila hal ini memungkinkan untuk mensubtitusi kata “ balance” dalam berbagai macam konteks dan tidak ada kesalahan ketika menterjemahkannya. Contoh :
I balanced the plank on my head.
She balanced the ball on the end of the bat
Now, children, you have to balance the egg on the spoon.
I’ve never managed to balance the demands of work and play.

Kebenaran dari definisi bukan satu-satunya kriteria dalam mendefinisikan, makna juga mempunyai peran dalam mendefinisikan suatu kata atau ungkapan. Suatu definisi dapat diterima apabila dapat di subtitusi untuk hal yang akan dijelaskan. Selama tidak menjadi makna baru atau menghilangkan makna yang sebenarnya dari hal yang akan di jelaskan.

D.      Primitif Semantik
Sangat memungkinkan memberi definisi untuk setiap kata dalam setiap bahasa dengan menggunakan kata yang lain dari bahasa yang sama, seperti halnya sebuah rangkaian definisi dari awal hingga akhir. Dikarenakan kosakata dari bahasa sangat terbatas, maka dengan metalanguage dapat digunakan untuk menjelaskan objek yang akan dijelaskan, dengan cara ini sehingga tidak akan meninggalkan definisi yang sebenarnya.
Kata yang tidak bisa di definisikan atau dipecah-pecah menjadi sesuatu yang lebih sederhana, ini dinamakan primitif semantik. Fodor dalam Riemer berpendapat bahwa setiap leksikon mempunyai butir leksikal, ini di sebut primitif semantik atau bagian kecil yang tidak dapat di definisikan.
 I take semantic facts with full ontological seriousness, and i can’t think of a better way to say what ‘keep’ means than to say that it means keep.
If, i suppose, the concept KEEP is an atom, it’s hardly surprising that there’s no better way to say what ‘keep’ means than to say it means keep.
 I know of no reason, empirical or a priori, tu suppose that the expressive power English can be captured in a language whose stock of morphologically primitive expressions is interestingly smaller than the lexicon of english. (Fodor 1998: 55)
Konsep teori makna dalam bidang linguistik didukung oleh kepercayaan bahwa makna setiap kata tidak selalu tidak dapat di jelaskan atau primitif, tetapi merupakan gabungan dari konsep primitif semantik. Primitif semantik merupakan landasan dasar dalam pembentukan makna. Teori linguistik modern yang sedang berkembang saat ini adalah Natural Semantik Metalanguage (NSM) yang diungkapkan oleh Wierzbicka dan Goddard. Berikut adalah daftar primitif semantik yang digunakan dalam pendekatan NSM untuk mendefinisikan makna :
I, you, someone, people, something/thing, body; this, the same, other, one, two, some, all, much/many; good, bad, big, small, think, know, want, feel, see, hear, say, words, true, do happen, move, there is, have, live, die, when/time, now, before, after a long time, a short time, for some time, where/place, here, above, below, far, near, side, inside, not, maybe, can, because, if, very, more, kind of, part of, like. (Goddard 2002;14).
Lima puluh delapan contoh tersebut mewakili atom makna yang telah dipastikan tidak bisa didefinisikan dan dapat digunakan untuk mendefinisikan makna kata yang lebih luas.
Definisi dalam NSM adalah parafrase reduktif (reductive paraphrase) dari makna hal/kata atau ungkapan yang akan dijelaskan(definiendum). Reduktif maksudnya memasukan makna komponen primitif sedangkan parafrase berisi tentang penjelasan tekstual makna yang tidak semudah hanya dengan mendefinisikan melalui sinonim atau mendefinisikan melalui jenis dan pembeda, meskipun di dalamnya nanti terdapat dua struktur ini tetapi berisi kalimat yang akan menjelaskan makna. Contoh :
Sun
Something
People can often see this something in the sky
When this something is in the sky
People can see other things because of this
When this something is in the sky
People often feel something because of this (Wierzbicka 1996: 220)

X was watching Y =
For some time X was doing something
Because X thought:
When something happens in this place
I want to see it
Because X was doing this, X could see Y during this time. (Goddard 2002: 7; cf Wierzbicka 1996: 251)
Walaupun primitif semantik dapat digunakan untuk mendefinisikan kosakata dalam bahasa tetapi dia sendiri tidak mungkin didefinisikan menjadi lebih sederhana lagi.
Dalam analisis semantik menurut NSM yang berisi penjelasan hal/kata atau ungkapan yang akan dijelaskan supaya lebih sederhana serta dapat dipahami dari hal yang akan didefinisikan. Lima puluh delapan primitif semantik yang telah disebutkan seharusnya bisa menjadi perwakilan untuk mendefinisikan hal yang akan didefinisikan, sementara primitif semantik sudah tidak bisa didefinisikan lagi. Berbeda dengan NSM yang masih memberikan kemungkinan semantik primitif untuk didefinisikan melalui metalinguistik menjadi lebih sederhana. Teori NSM mengklaim sesuatu yang tidak bisa didefinisikan karena status mereka sebagai primitif konseptual, dimana primitif sebagai sebuah hipotesis untuk mengekspresikan hal-hal yang lebih mendasar yang bersifat umum. Setiap natural language mempunyai konsep primitif semantik yang identik dengan konsep leksikal bahasa itu tumbuh dan berkembang.
Natural Semantic Matalanguage sangat universal dan bisa diterapkan dalam bahasa apapun, teori ini mencoba mencari tahu apakah setiap bahasa memiliki unsur primitif.
Sifat universal dari teori NSM, sehingga teori ini dapat dipakai dalam penelitian lintas linguistik, ketelitian merupakan keuntungan teori ini sebagai teori yang digunakan dalam mendefinisikan makna. Teori NSM memiliki seperangkat alat untuk menjelaskan makna baik itu makna kata sulit, lintas linguistik ataupun kata yang berisi informasi budaya.
Pada kenyataannya beberapa ahli linguistik menemukan teori NSM sangat bermanfaat sebagai alat untuk menganalisis serta menginterpretasikan aspek makna, metode ini pun sangat tepat guna atau praktis. (Riemer: 2006)

E.       Masalah Definisi
Sejauh ini kita semua dapat mengasumsikan bahawa sangat memungkinkan memberi definisi pada kata dalam segala kasus. Tetapi pemberian definisi bukan berarti tidak menemui kendala ataupun pertentangan di kalangan masyarakat linguistik.
Kritik yang sering muncul terhadap teori definisi dalam semantik yaitu kurang memuaskan definisi kata yang dihasilkan atau di formulasikan. Sikap skeptis tentang eksistensi definisi yang muncul sangat luas, pada kenyataan para peneliti dari berbagai disiplin yang masih ada hubungannya dengan bidang linguistik mengabaikan teori definisi. Sikap skeptis ini muncul, karena mereka beranggapan teori definisi yang dikembangkan dalam bidang linguistik lalu diterapkan dalam bidang lain akan memunculkan makna yang menyesatkan. Penolakan terhadap teori definisi yang dilakukan oleh ahli dari bidang non linguistik ini dilatarbelakangi oleh berbagai motivasi, ini adalah sikap pertahanan untuk menolak teori definisi. Permasalahan yang muncul karena mereka menganggap definisi juga harus memperhatikan dari segi psikologistik yang mencerminkan  struktur dari konsep definisi.
Sebagai contoh kata Bachelor  dalam bahasa Inggris merupakan gabungan dari konsep tidak menikah”unmarried” dan laki-laki “man”, secara bersamaan kata “Bachelor” dapat di definisikan laki-laki yang tidak menikah “unmarried man”  
Kasus klasik dalam memberikan definisi seperti yang telah dicontohkan dengan kata “bachelor yang di definisikan sebagai laki-laki yang tidak menikah, ini merupakan definisi yang terdapat di dalam kamus. Permasalahannya adalah banyak tipe laki-laki yang tidak menikah. Alhasil kata”unmarried man” tidak bisa disubtitusi dengan kata “bachelor”, dalam hal ini pemberian definisi pun telah gagal. Wierzbicka dalam Riemer manyebutkan bahwa definisi yang tepat adalah dengan menggunakan kata-kata yang biasa dan umum dipakai tidak seperti sebuah pernyataan yang kita baca di kamus. Salah satu respon terhadap kritik konsep definisi adalah definisi hanya menangkap bagian dari inti “core”, pusat “central”, dan bentuk asli “prototypical” dari makna hal yang akan dijelaskan dan apabila pemberian definisi mengalami kegagalan, maka akan melibatkan semua aspek yang terkait dengan definisi.

F.       Definisi, Pemahaman, dan Penggunaan
Dalam kehidupan dan aktifitas manusia, fungsi definisi adalah sebagai penjamin bahwa bahasa itu digunakan secara konsisten. Di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum definisi merupakan hal yang sangat penting dan utama ini adalah suatu hal yang khusus. Contoh kasus yang sering ditemui ketika menggunakan bahasa bisa mirip ataupun berbeda. Biasanya beberapa contoh percakapan dalam bahasa memerlukan definisi eksplisit, ini diperlukan ketika menemui kebingungan. Ketika kita bertanya untuk mengklarifikasi bagaimana penggunaan kata yang tepat, dan definisi nominal makna kata tidak selalu tersedia. Definisi menempati posisi utama dalam berbahasa, apabila kita menganggap bahwa konsep sangat penting dalam memberi definisi dan mengasumsikan bahwa konsep ada di dalam makna kata. Jika konsep berhubungan dengan makna kata dan makna kata dapat di tangkap oleh definisi, lalu definisi inilah yang akan mengaktifkan sense selama bahasa dipakai. Untuk menanyakan apakah definisi selalu terlibat dalam penggunaan bahasa maka jawabannya adalah sangat terlibat. Mungkin banyak dari kita yang sering menggunakan kata kurang tepat, serta tidak bisa mendefinisikan dengan tepat, secara tidak sadar pengetahuan membuat kita menggunakan kata dengan benar tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mendefinisikan secara eksplisit. Maka dapat dikatakan konsep atau fungsi definisi sangat berbeda dengan definisi yang ada di dalam kamus.



[1] Fatimah Djajasudarma. Semantik 1 Pengantar Ke Arah Ilmu Makna. Bandung: Eresco.1993
[2] Nick Riemer. Introducing Semantics. Cambridge Universty Press. 2010
[3]  Abdul Wahab. Teori Semantik. Surabaya: Airlangga University Press. 1995
[4] Ibid. 2
[5] Ibid.2. h. 47
[6] John I Saeed. Semantics (Second Editions). Blackwell Publishing. 2003. h.54
[7] John Lyons. Semantics I. Cambridge University Press. 1977.
[8] Ibid. 2
[9] Alan Cruse. Meaning in Language (An introduction to Semantics and Pragmatics). Oxford University Press
[10] Baker, M. In Other Words: a CourseBook on Translation. London:Routledge. 1992
[11] Shei, C. C. & Pain, H. 2000. “An ELS Writer’s Collocational Aid”. ComputerAssisted Language Learning,
   13(2), 167-182.
[12] Oxford Collocation Dictionary for Students of English. 2002. New York: Oxford University Press.