Halaman

Kamis, 07 Maret 2013

KLAUSA DALAM BAHASA INDONESIA DAN ARAB



Kata linguistik berasal dari bahasa latin lingua yang bermakna bahasa, dan dalam bahasa Prancis berpadanan dengan kata langue,langage, dalam bahasa Italia berpadanan dengan kata lingua dan dalam bahasa Spanyol berpadanan dengan kata lengua. Kata linguistik dalam bahas Inggris ditulis linguistics yang dalam bahasa Prancis ditulis linguistique karena dalam bahasa Inggris beberapa nama ilmu pengetahuan selalu ditulis dalam bentuk jamak, misalnya mathematics, phonetics, physics, politics.
Dalam bahasa Arab, linguistik disebut ilmu lughah. Pada mulanya kata ilmu lughah tidak digunakan dengan makna linguistik atau kajian bahasa. Kata ilmu lughah pertama kali digunakan oleh Ibnu Khaldun dalam karyanya “ Al-Muqaddimah” dan dimaksudkan sebagai ilmu ma’ajim atau lexicology.
Menurut Pringgodigdo dan Hasan Sadily, 1977 : (633-634) menjelaskan linguistik adalah “ Penelaahan bahasa secara ilmu pengetahuan. Tujuan utama ialah mempelajari suatu bahasa secara deskriptif. Mempelajari bahasa berdasarkan sejarah atau ilmu perbandingan bahasa berarti mempelajari hubungan suatu bahasa dengan bahasa yang lain.” Dan pengertian yang selaras juga dikemukakan oleh Kridalaksana (1993) dalam kamus linguistik, didefinisikan sebagai ilmu tentang bahasa atau penyelidikan bahasa secara ilmiah.
Ada empat tataran dalam kebahasaan (linguistik), yaitu fonologi (makhrajul huruf), morfologi (ilmu sharaf), sintaksis (ilmu nahwu), dan semantic. Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa (Abdul Chaer :2007). Morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari dan menganalisis perubahan kata dalam bahasa. sedangkan sintaksis adalah bidang linguistik yang mempelajari dan menganalisis hubungan kata dengan kata lain, atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran. Dan yang terakhir adalah semantik yang merupakan bidang linguistik yang mempelajari dan menganalisis makan kata.
Sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti ‘dengan’ dan kata tattein yang berarti ‘menempatkan’. Jadi, secara etimologis istilah itu berarti; Menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Sintaksis sering disebut sebagai tataran kebahasaan terbesar. Menurut Ramlan (1976), Sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang mengkaji struktur frase dan kalimat. Hal ini selaras dengan yang dikemukakan Bloch dan Trager ( dalam Tarigan, 1986) bahwa sintaksis adalah analisis mengenai konstuksi-konstruksi yang hanya mengikut sertakan bentuk-bentuk bebas.
Dalam pembahasan sintaksis yang biasa dibicarakan adalah (1) Struktur sintaksis yang mencakup masalah fungsi, kategori dan peran sintaksis, serta alat-alat yang digunakan dalam membangun struktur itu. (2) Satuan-satuan sintaksis yang berupa kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Dan (3) hal-hal lain yang berkenaan dengan sintaksis yang berupa modus, aspek dan sebagainya (Abdul Chaer : 2007)
Dalam makalah ini, akan dijelaskan mengenai klausa yang merupakan salah satu tataran dalam sintaksis, dalam bahasa Indonesia dan Arab yang Insya Allah akan dipaparkan secara terperinci dengan jelas beserta contoh-contohnya yang tentu dalam bahasa Indonesia dan Arab.

1. Pengertian Klausa
A. Dalam Bahasa Indonesia
Klausa merupakan tataran didalam sintaksis yang berada di atas tataran frase dan di bawah tataran kalimat. Dalam berbagai karya linguistik mungkin ada perbedaan konsep karena pengunaan teori analisis yang berbeda. Sebagaimana para ahli saling berbeda dalam mendefinisikan klausa. Di dalam makalah ini kami akan mencoba menghadirkan beberapa pengertian klausa menurut para ahli, sebagai penambah wawasan kita:
• badudu
klausa adalah sebuah kalimat yang merupakan bagian daripada kalimat yang lebih besar
• Prof. Drs. M. Ramlan
klausa adalah satuan gramatik yang terdiri dari P (predika), baik disertai oleh S (subjek), O (objek), Pel(aku), dan ket(erangan) ataupun tidak.
• Jos Daniel Parere
Klausa adalah sebuah kalimat yang memenuhi salah satu pola dasar kalimat inti dengan dua atau lebih unsur pusat.
• Kridalaksana
Klausa adalah satuan gramatik berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat.
• Tarigan
Klausa adalah kelompok kata yang hanya mengandung satu predikat (p).

Pada pengertian-pengertian klausa yang dikemukakan para ahli diatas, kita bisa membandingkan antara satu pengertian dengan pengertian lainnya. Badudu mengatakan bahwa kalau klausa dilepaskan dari kalimat, maka bagian yang dipisahkan masih nampak sebagai kalimat. Antara pengertian yang dikemukakan Ramlan dengan Parere memiliki titik perbedaan. Pada definisi yang dikemukakan Ramlan jabatan predikat sebagai unsur kalimat sangat menentukan, sedangkan menurut Parere, kalimat yang dianggap klausa haruslah memenuhi salah satu dasar pola kalimat inti. Dengan demikian, satuan melompat bukanlah klausa menurut Parere tapi, menurut Ramlan merupakan sebuah klausa.
Pengertian-pengertian yang dikemukakan para ahli memang sedikit berbeda namun, kita masih dapat menarik benang merah dari definisi-definisi diatas, yaitu klausa adalah satuan gramatik yang bersifar predikatif. Berikut kami sediakan contoh :
• Nenek mandi
Contoh diatas merupakan sebuah kluasa sebab bersifat predikatif. Namun, akan timbul kembali pertanyaan, kalau begitu apa perbedaan klausa dengan kalimat? Abdul Chaer dalam bukunya yang berjudul linguistic umum menjelaskan, bahwa sebuah konstruksi disebut kalimat kalau kepada konstruksi itu diberikan intonasi final atau intonasi kalimat (Abdul Chaer : 2007).

B. Dalam Bahasa Arab
Dalam bahasa Arab istilah klausa kurang dikenal oleh para pengkaji sintaksis bahasa Arab. Hal tersebut terjadi karena di dalam buku-buku induk ilmu nahwu sendiri tidak ada istilah khusus mengenai klausa. Di dalam buku-buku nahwu terdapat tiga istilah kunci yaitu: kalimah, jumlah, dan kalam. Jumlah dan kalam adalah istilah dalam bahasa Arab yang lazim disepadankan dengan kalimat dalam bahasa Indonesia, sedangkan kalimah lazim disepadankan dengan kata.
Namun demikian, Al-Ghalayaini (1984) dalam bukunya yang berjudul jami’ ad-durus al-lugah arabiyah membedakan istilah jumlah dengan kalam. Menurutnya jumlah- disebut juga dengan murakkab isnady- adalah konstuksi yang terdiri dari S (musnad ilaih) dan P (musnad). sedangkan kalam adalah konstruksi yang terdiri atas S dan P, mengandung makna yang utuh, dan dapat berdiri sendiri. Dari definisi yang dikemukakan Al-Ghalayani tersebut dapat diartikan bahwa jumlah memang terdiri dari S dan P, tetapi tidak harus mengandung makna yang utuh dan tidak harus dapat berdiri sendiri. Dengan demikian, definisi jumlah yang dikemukakan Al-Ghalayaini dapat disepadankan dengan klausa. Sedangkan, kalam dipadankan dengan kalimat.
Definisi yang mengatakan bahwa jumlah adalah konstruksi yang terdiri dari S dan P, tanpa mempersyaratkan keutuhan makna, dapat diterima. Kesimpulan ini didukung oleh adanya istilah atau konsep jumlah shartiyah dan khabar jumlah. Contoh:
• Jumlah shartiyah
 انّ تحترم الناس
Ø يحترموك
Khabar jumlah
 محمد يسافر ابوه الي مكة
Ø
ada contoh pertama, kalimat يحترموك merupakan sebuah klausa yang konstruksinya tidak dapat berdiri sendiri, sebab menjadi Jawab Syarti. Dan Pada contoh kalimat kedua, يسافر ابوه الي مكة merupakan sebuah klausa yang konstruksinya tidak dapat berdiri sendiri, sebab menjadi khabar dari محمد .

2. Jenis-Jenis Klausa dan Contohnya
Pada pembahasan sebelumnya, Al-Ghalayaini mengindikasikan klausa dengan jumlah atau murakkab isnady, dengan demikian jenis klausa dalam bahasa arab ada lima, jika kita melihat dari pembagian murakkab isnady, yaitu; susunan mubtada’ dan khabar, fi’il dan fail, isim kana (كان) dan khabar-nya, isim inna (انّ) dan khabar-nya, dan fi’il majhul dan naib-nya.
namun demikian, kami akan mencoba menyepadankan antara jenis-jenis klausa bahasa Indonesia dengan bahasa Arab.
Abdul Chaer dalam bukunya linguistik umum, membagi klausa menjadi dua yaitu:
A. Berdasarkan struktur
Pembagian klausa berdasarkan struktur terbagi kembali menjadi dua yaitu:
I. Klausa bebas
Adalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap, sekurang kurangnya mempunyai S dan P; dan karena itu mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Contoh : konstruksi Nenekku masih cantik dan جاء الحقّ kedua contoh ini jika diberi intonasi akhir maka akan menjadi kalimat mayor.

II. Klausa terikat
Adalah klausa yang memiliki struktur tidak lengkap. Unsur yang ada dalam klausa ini mungkin hanya subjek saja, mungkin hanya objek saja, atau juga hanya berupa keterangan saja. Oleh karena itu, klausa terikat tidak mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Contoh: konstruksi tadi pagi yang bisa menjadi kalimat jawaban untuk kalimat tanya: kapan nenek membaca komik?; تفلح اذن yang merupakan jawaban pada orang yang berkata ساجتهد.

B. Berdasarkan katergori unsur segmental yang menjadi predikatnya.
I. Klausa verbal
Adalah klausa yang predikatnya berkategori verba; misalnya, klausa الدرس يكتب احمد, dan ahmad mandi.
II. Klausa nominal
Adalah klausa yang predikatnya berupa nomina atau prase nominal, misalnya انا طالب dan kakeknya petani di desa itu
III. Klausa ajektifal
Adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektifa, baik berupa kata maupun frase. Misalnya : زيد جميل, dan gedung itu sudah tua sekali
IV. Klausa adverbial
Adalah klausa yang predikatnya berupa adverbia. Misalnya, klausa bandelnya teramat sangat.
V. Klausa proposisional
Adalah klausa yang predikatnya berupa preposisi. Umpamanya, انا من المكتبة, dan nenek di kamar mandi.
VI. Klausa numeral
Adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numeralia. Misalnya, النثر له خمسة انواع, gajinya lima juta sebulan; anaknya dua belas orang; dan taksinya delapan buah.

Jika kita perhatikan contoh-contoh diatas yang berbahasa arab maka, padanan susunan fi’il fail dan fi’il majhul beserta naib-nya berpadanan dengan klausa verbal, dan susunan mubtada’ khabar berpadanan dengan klausa nominal, ajektifal, preposisional, dan numeral. Sedangkan susunan isim inna dan khabar-nya, dan susunan isim kanna dan khabar-nya padanannya sama dengan padanan mubtada’ khabar, mengingat susunan isim inna dan khabar-nya, dan isim khanna dan khabar-nya pada mulanya adalah susunan mubtada’ khabar, Hanya disana terjadi perubahan I’rab.
Untuk sekedar menambah informasi, bahwasanya Ramlan membagi klausa menjadi tiga jenis, dan yang ketiga ini, ia menggolongkannya pada klausa berdasarkan ada-tidaknya kata negative yang secara gramatik menegatifkan predikat. Jadi, Ramlan membaginya menjadi:
• Klausa Positif
Adalah klausa yang tidak memiliki kata-kata negative yang secara gramatik menegatifkan atau mengingkarkan P. contoh: محمد جميل, dan wajahnya cantik.
• Klausa Negative
Adalah klausa yang memiliki kata-kata negative yang secara gramatik menegatifkan P. contoh: الكاذب محبوبا ليس, dan wajahnya tidak cantik.

3. Perbandingan antara Klausa Bahasa Indonesia dengan Bahasa Arab
Al-Ghalayaini mengindikasikan klausa dengan jumlah, yaitu konstruksi yang terdiri dari musnad ilah (subjek) dan musnad (predikat) yang belum mengandung makna utuh. Definisi tersebut sejalan dengan definisi klausa dalam bahasa Indonesia. Jadi, dilihat dari segi makna, istilah klausa dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Arab adalah sama. Walaupun istilah klausa sendiri tidak di kenal oleh para pengkaji bahasa Arab.
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal istilah subjek (S) dan predikat (P), dalam bahsasa arab kedua istilah ini dikenal dengan musnad dan musnad ilaih. Musnad ilaih berpadanan dengan subjek (S) sedangkan, musnad berpadanan dengan predikat (P).
Diposkan oleh sastraindra di 05.10
http://good-ndra.blogspot.com/2010/08/klausa-dalam-bahasa-indonesia-dan-arab.html

Rabu, 27 Februari 2013

MUBTADA DARI MUDHOF ILAIHI

MUBTADA DARI MUDOF ILAIH
Dalam bahasa Arab ada dua macam jumlah atau kalimat (dalam bahasa Indonesia), yaitu ; jumlah ismiyah (kalimat nominal) dan jumlah fi’liyah (kalimat verbal). Jumlah ismiyah adalah jumlah yang disusun dari dua unsur, yaitu ; مبتدأ Mubtada (pokok kalimat) dan khobar (keterangan). Sedangkan jumlah fi’liyah adalah jumlah yang disusun dari dua unsur, yaitu ; fi’il (kata kerja) dan fa’il (pelaku/subjek).
Pada bagian ini akan dibahas tentang مبتدأ mubtada dari مضاف اليه mudoh ilaih. Sebelumnya kita bahas terlebih dahulu “apa itu مبتدأ mubtada” dan “apa itu مضاف اليه mudoh ilaih”.
1. مبتدأ Mubtada. مبتدأ Mubtada adalah salah satu unsur dalam suatu jumlah ismiyah yang berfungsi sebagai pokok kalimat dan letaknya wajib/selalu di awal jumlah. Mubtada dibentuk dari isim (kata benda) yang benda tersebut sifatnya harus ma’rifah (tentu/jelas). Isim ma’rifah diantaranya ; dhomir, isim alam, isim isyaroh, isim yang diberi alif dan lam didepanya dan susunan Idofah.
Contoh :
البيت كبير
Rumah itu besar = albaitu (mubtada) kabiirun (khobar)
انا تلميذ
Saya seorang pelajar = ana (mubtada) tilmiidzun (khobar)
2. Idofah. Dalam bahasa Indonesia disebut juga kata majemuk. Adalah suatu ungkapan yang terdiri dari dua kata yang kedua-duanya adalah isim (kata benda), yang pertama disebut مضاف mudof, yang kedua disebut مضاف اليه mudof ilaih dan memiliki satu pengertian (arti).
a. مضافMudof adalah isim yang disandarkan kepada isim sesudahnya/didepannya, yang sifatnya menjadi ma’rifah atau tertentu/khusus karena hubungan ini, sifatnya ma’rifah. Artinya harokatnya bertanwin dan pada waktu diidofahkan maka tanwinnya harus dibuang, jika bentuknya mufrod. Dan jika mustanna atau jamak mudzakar salim maka ن (nun) nya harus dibuang.
b. مضاف اليه Mudof ilaih adalah isim yang terletak sesudah مضاف mudof, yang letaknya wajib majrur atau berbaris kasroh dengan bunyi (i) atau (in).
Contoh :
مسجد المدرسة
Masjid sekolah = masjidul (mudof) madrosati (mudof ilaih)
سورة الفاتحة
Surat alfatihah = suuratul (mudof) faatihati (mudof ilaih)
3. مبتدأ Mubtada dari مضاف اليه mudof ilaih adalah مضافmudof/ مضاف اليه mudof ilaih yang berkedudukan/berfungsi sebagai pokok kalimat pada jumlah ismiyah.
Contoh :
سيارة الأستاذ جميلة
Mobil guru itu bagus = Sayyaaratul ustaadzi (mubtada mudof ilah) jamiilatun (khobar)
كتاب علي جديد
Buku Ali baru = Kitaabu Aliyin (mubtada mudof ilah) jadiidun (khobar)
كتاب فاطمة جديدة
Buku Fatimah baru = Kitaabu Fatimata (mubtada mudof ilah) jadiidatun (khobar)
مسطرة أستاذ جديدة
Penggaris guru baru = Mistharatu ustaadin (mubtada mudof ilah) jadiidatun (khobar)
دراجة استاذ في الفناء
Sepeda guru di halaman = Darraajatu ustadzin (mubtada mudof ilah) fil finaa i (khobar)

A SHORT SPEECH (2)

Assalamualaikum wr.wb  and  best wishes to us all
    First of all, I want to say thank to the  Almagthy God who has given us  a good health and a good chance so we join in this nice place.
    Secondly, I want to say thank to  The partisipant for giving me a chance to stand here, for diliver my speech about education.
My beloved Brothers and Sisters
  Education is the best progress tool to achieve the best kwality of life. By Education, we can get a knowladge. If  we have a good education, we will be eazy  to get a job.
Meanwhile, Education also can give ahead for human’s ability of thinking which makes us able to distribute our capabelity to give  and guide a teaching and learning to society who have a few knowladge. So they can prepare their life better.
Futher, Education can control our attitude, intelectual and our action.
   On the other hand, Education can make us strong people. If we are achieving  our life, we will not be disporeted  because we can be able to trifine our view of life.
My Beloved Brothers and sisters.
   We know education is very important for us.Education can make us to get a good skill which gives us capabelity to imajinate and develope our ideas  which is in our mine.
There are three education room, they are  :
A.    Educated family
B.    school education
C.    school education
 My Beloved Brothers and Sisters
Education is trying to realized to  recheck our capabelity which can bring us to get a life good.
 So, We are not desperate to  try and try to achieve our dreanm of future and we don’t be lazy studing and learning.
I’m sure, we will not be poor of knowladge, we maynot allow our selves become stupid people but,  w must have spirit, struggle, and always pray to God to ge education well. Althought we must go up and go down to get it. Because it is process.
Well, that’s all my speech. if I have mistake, forgive me pleace, because no one is infallible and no body is perfec in the world.
Thank for the your attention and wasalamualaikum wr. wb.
   

A SHORT SPEECH

Assalamualaikum wr wb.
and good afternoon
The Honourable mothers and fathers who are present in this place
      first of all I would like say thank to the Almighty God who has given us a good healt so we can join in this nice place.
      The second time, do not forget I said thank to the our Prophet Muhammad Saw had brought us from the realm of darkness into the lightness
In addition, I would like say thank to the audience for allowing me to deliver my speech with the theme of keeping the environment clean
well, my beloved brothers and sisters
     Keeping the environment clean is a way and the actions we can do to be able to obtain the beauty and the beauty of the environment, other than that if we always keep the environment around us, our environment will be maintained and healthy so that we can all farthest from various diseases.
A healthy environment would be more fun and comfortable to live in the neighborhood of a dirty  filled with garbage strewn everywhere.
My beloved brothers and Sisters
     We have seen so many benefits that can be obtained if we keep the environment clean, therefore we as a society that cares about the environment, let us together to preserve the environment around us to look comfortable and cool in the view
and always a pleasant environment.
My beloved Brothers and Sisters
    So what can I say, if there are sentences that are less pleasing to you, I apologize, because there is no ivory that is not going to crack and there would be no human beings make mistakes.
thank you for your attention and wasalamualaikum wr wb.

BELAJAR KALIMAT MAJEMUK

A. Kalimat Tunggal
   Kalimat Tunggal adalah kalimat yang hanya mengandung satu pola kalimat 
yang mempunyai satu subjek dan satu predikat yang diperluas dengan berbagai keterangan.
Contoh Kalimat Tunggal :
 ==> Rina Menari di Taman Rumahnya
==> Menangis aku di tengah gelapnya malam ==> Harga BBM anjlok. B. Kalimat Majemuk
 Kalimat Majemuk adalah kalimat yang memiliki klausa lebih dari satu. Setiap kalimat mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan melihat kata penghubung yang digunakan.

Kalimat majemuk terdiri atas :

1. Kalimat Majemuk Setara ( Koordinatif )
  Yaitu kalimat gabung yang hubungan antar pola-pola kalimat di dalamnya sederajat atau seharkat.
Ciri-ciri :
  1. .Kedudukan pola-pola kalimat, sama derajatnya.
  2. Penggabungannya disertai perubahan intonasi.
  3. Berkata tugas/penghubung, pembeda sifat kesetaraan.
  4. Pola umum uraian jabatan kata : S-P+S-P
Jenis majemuk Setara
1. Setara Sejalan (kata hubungnya dan, serta, lagi pula dll)
2. Setara memilih
3. Setara berlawanan
4. Setara menguatkan (bahkan)
5. Setara sebab akibat

2 Kalimat Majemuk Rapatan
  Yaitu Gabungan beberapa kalimat tunggal yang bagian subjek atau predikatnya yang sama, maka bagian yang sama hanya disebutkan sekali saja, atau kalimat majemuk setara yang bagian-bagiannya dirapatkan, yang mana kata-kata atau frase-frase dalam kalimat itu menduduki fungsi yang sama.

3 Kalimat Majemuk Bertingkat ( Subordinatif )
     Yaitu kalimat luas yang mana perluasannya membentuk klausa
bawahan (anak kalimat).
4 Kalimat Majemuk Campuran 
     Yaitu kalimat gabungan dari kalimat majemuk setara, kalimat majemuk rapatan dan kalimat majemuk bertingkat yang disatukan menjadi satu kalimat yang utuh

JUMLAH ISMIYAH DAN JUMLAH FI'LIYAH

1. JUMLAH ISMIYAH
Adalah jumlah (kalimat) yang diawali dengan kalimah isim (kata benda).
Susunan kalimatnya terdiri dari mubtada’ dan khobar.
Mubtada’ adalah subyek pada jumlah ismiyah dan terletak diawal jumlah.
Sifat dari mubtada' adalah
a.Harus berupa isim ma'rifat.
b.I’robnya rofa’.
Khobar adalah predikat pada jumlah ismiyah dan berfungsi untuk menerangkan keadaan mubtada' serta bisa berupa kata ataupun kalimat ( sebagai anak kalimat). I'robnya khobar juga rofa'.
Mubtada’ dan Khobar harus sama dalam halbilangan dan jenisnya. Apabila mubtada’nyaisim mudzakar (laki-laki), khobarnya harus isim mudzakar. Begitu pula apabila mubtada’ berupa isim mufrod (kata tunggal), khobarnya juga harus isim mufrod.
Contoh :
زَيْدٌُ أُسْتاَذٌُ ( Zaid adalah seorang guru)
ا لرَّجُلاَنِ أُسْتاَذاَنِ ( dua orang orang laki-laki itu adalah 2 guru)
زَيْدٌُ بَيْتُهُ كَبِيْرٌُ ( Zaid rumahnya besar)
Keterangan :
Kata yang berwarna merah adalah mubtada’ sedangkan yang berwarna hitam adalah khobar.
Pada contoh 1 dan contoh 2 dapat kita lihatkesesuaian anara mubtada’ dan khobar dalam hal bilangannya. Sedangkan pada contoh 3 khobarnya adalah berupa jumlah/kalimat.
Jumlah ismiyah bisa berbentuk kalimat nominal apabila khobarnya berupa kalimah isim (kata benda)
Contoh : زَيْدٌُ طاَلِبٌُ (Zaid adalah seorang pelajar)
Jumlah ismiyah bisa berbentuk kalimat verbal apabila khobarnya berupa kalimah fi'il (kata kerja)
Contoh : زَيْدٌُ جاَءَ الَي الْمَدْرَسَةِ (Zaid telah datang ke sekolah)
Keterangan
Pada kalimat pertama dapat kita lihat bahwa khobarnya berupa kalimah isim yaitu طاَلِبٌُ sehingga terbentuk kalimat nominal sedangkan pada kalimat ke-dua khobarnya berupa kalimah fi'il yaitu جاَءَ َ sehingga terbentuk kalimat verbal.


2. JUMLAH FI’LIYAH
Adalah jumlah yang diawali dengan kalimahfi’il.
Terdiri dari fi’il (kata kerja) dan fa’il (pelaku).
Fa’il/subyek adalah isim yang terletak setelah fi’il ma’lum ( Kata kerja aktif) dan berfungsi sebagai pelaku kata kerja tersebut.
Apabila fa’il berbentuk muannast ( feminin) maka fi’il juga harus muannast. Begitu juga apabila berbentuk mudzakar.
Namun apabila fa’il berbentuk mutsanna (ganda) ataupun jamak (banyak) maka fi’il harus tetap mufrod (tunggal).
Contoh :
قَرَأَ مُحَمَّدٌُ (Muhammad telah membaca)
قَرَأَتْ هِنْدٌُ (Zaid sedang membaca)
يَقْرَأُ زَيْدٌُ (Hindun telah membaca)
يَقْرَأُ الطَّالِبُوْنَ ( Para siswa sedang membaca)
Keterangan : kata yang berwarna merah adalah fi’il sedangkan yang berwarna putih adalah fa'il.
Pada contoh 1 dan 2 dapat kita lihat kesesuaian antara fi’il dan fa’il dalam jenisnya yaitu mudzakar dan muannast. Sedangkan pada contoh 3 dan 4 dapat kita lihat bahwa berapapun bilangan failnya fi’il harus tetap mufrod.

KALIMAT MAJEMUK

Pembeda antara kalimat tunggal dan kalimat majemuk adalah jumlah klausa yang ada di dalam kalimat. Sebuah kalimat dikatakan kalimat tunggal jika dalam kalimat tersebut hanya terdapat sebuah klausa. Sedangkan yang dimaksud dengan kalimat majemuk yaitu kalimat yang terdiri atas lebih dari satu klausa.
Contoh kalimat tunggal
• Ibu memasak nasi
• Kami menonton film horor

Kalimat mejemuk jika dilihat dari sifat hubungan antar klausa di dalam kalimat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu kalimat majemuk koordinatif (kalimat majemuk setara), kalimat majemuk subordinatif (kalimat majemuk bertingkat), dan kalimat majemuk kompleks.

A. Kalimat Majemuk Koordinatif (kalimat majemuk setara)
Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, yang setara, atau yang sederajat. Sebagai penghubung antar klausa dalam kalimat majemuk koordinatif digunakan konjungsi koordinatif, yaitu dan, atau, tetapi, dan lalu. Namun demikian tidak menutup kemungkinan konjungsi dalam kalimat jenis ini tidak digunakan.
Contoh : Dia datang dan duduk di sebelah saya.
Saya sudah makan banyak, tetapi masih saja lapar.
Saya duduk, ayah berdiri, dan adik berlari-lari.
Dia datang, lalu menyuruh kami makan.

Ada tiga macam hubungan semantis dalam kalimat majemuk setara.
1. Hubungan 'penjumlahan'
Hubungan yang menyatakan penjumlahan atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa, atau proses. Hubungan penjumlahan ini ditandai dengan kata penghubung dan, serta, baik. . . maupun.
Contoh:
Ia baik hati dan suka menolong teman yang mengalami kesusahan.

2. Hubungan 'perlawanan'
Hubungan yang menyatakan bahwa yang dinyatakan dalam klausa pertama berlawanan dengan yang dinyatakan dalam klausa kedua. Klausa pertama berlawanan atau tidak sama dengan yang dinyatakan dalam klausa kedua. Hubungan perlawanan ini ditandai kata penghubung tetapi, melainkan.
• Adikku belum bersekolah, tetapi dia sudah pandai membaca.

3. Hubungan 'pemilihan'
Hubungan yang menyatakan pilihan di antara dua kemungkinan atau lebih yang dinyatakan oleh klausa-klausa yang dihubungkan. Hubungan pemilihan ini ditandai kata penghubung atau.
• Aku yang datang ke rumahmu atau kamu yang datang ke rumahku?

B. Kalimat Majemuk Subordinatif (kalimat majemuk bertingkat)
Kalimat majemuk subordinatif yaitu kalimat majemuk yang hubungan antara klausa-klausanya tidak setara atau tidak sederajat. Maksud ketidaksetaraan ini yaitu klausa-kalusa yang ada dalam kalimat ini menduduki posisi yang berbeda yaitu ada yang bertindak sebagai klausa atasan dan ada yang sebagai klausa bawahan. Penghubung atau konjungsi nyang digunakan dalam hubungan kalimat majemuk jenis ini yaitu kalau, ketika, meskipun, dan karena. Seperti dalam jenis koordinatif, dalam jenis ini pun terkadang konjungsi tidak selalu digunakan.
Contoh : Kalau ayah pergi, ibu juga akan pergi.
Nenek membaca majalah ketika kakek pergi ke pasar.
Karena banyak yang tidak berangkat, kuliah diliburkan.
Meskipun ada larangan merokok, kakek tetap merokok.

Pembentukan kalimat majemuk subordinatif memiliki dua sudut yang bertentangan. Pertama dipandang sebagai hasil proses menggabungkan dua buah klausa atau lebih, di mana klausa yang satu dianggap sebagai klausa atasan atau klausa utama (kadang disebut induk kalimat), sedangkan yang lain disebut klausa bawahan (anak kalimat).
Contoh : Nenek membaca majalah ketika kakek pergi ke pasar.
Dari kalimat tersebut, klausa “ Nenek membaca majalah ” berstatus sebagai klausa atasan, sedangkan klausa “ Kakek pergi ke pasar “ berkedudukan sebagai klausa bawahan.
Pandangan kedua, konstruksi kalimat subordinatif dianggap sebagai hasil proses perluasan terhadap salah satu unsur klausanya.
Contoh : Nenek membaca majalah tadi siang.
Kalimat tunggal tersebut kemudian diubah menjadi kalimat majemuk
Nenek membaca majalah ketika kakek pergi ke pasar.

Dari contoh tersebut terlihat frasa tadi siang yang merupakan bagian dari klausa “Nenek membaca majalah tadi siang” diluaskan (dideskripsikan) menjadi “ ketika kakek pergi ke pasar”. Dalam pandangan yang kedua ini dinyatakan bahwa setiap unsur kalimat dapat diperluas untuk dijadikan anak kalimat. Dari pandangan ini muncullah istilah anak kalimat pengganti subjek, anak kalimat pengganti predikat, anak kalimat pengganti objek, dan anak kalimat pengganti keterangan.

• Penghubung kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat memperlihatkan berbagai jenis hubungan semantis antara klausa yang membentuknya. Untuk memperlihatkan hubungan antar klausa yang terdapat dalam kalimat maemuk bertingkat dibutuhkan kata penghubung atau konjungsi.

Berikut ini beberapa konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat besrta hubungan antarklausa yang diciptakan.
1. Hubungan 'waktu'
Kata penghubung yang digunakan adalah sejak, semenjak, sedari, ketika, sebelum, sesudah, hingga, sementara, seraya, tatkala, selama, selagi, serta, sambil, seusai, sesudah, setelah, sehabis, sampai, hingga.
• Sejak anak-anak, saya sudah terbiasa hidup sederhana.
2. Hubungan 'syarat'
Kata penghubung yang digunakan adalah seandainya, andaikata, bilamana, jika.
• Jika Anda mau mendengarkannya, saya akan bercerita.
• Pembangunan balai desa ini akan berjalan lancar andaikata seluruh warga mau berpartisipasi.
3. Hubungan 'tujuan'
Kata penghubung yang digunakan adalah agar, agar supaya, supaya, dan biar.
• Saya mengerjakan tugas itu sampai malam agar besok pagi dapat mengumpulkannya.
4. Hubungan 'konsesif'
Kata penghubung yang digunakan adalah walaupun, meskipun, kendatipun, sungguhpun.
• Walaupun hatinya sedih, ibu itu tidak mau menangis di hadapan anakanaknya.
5. Hubungan 'perbandingan'
Kata penghubung yang digunakan adalah seperti, ibarat, bagaikan, laksana, alih-alih.
• Bu Tati menyayangi kemenakannya seperti beliau menyayangi anakanaknya.
6. Hubungan 'penyebaban'
Kata penghubung yang digunakan adalah sebab, karena.
• Rencana penyelenggaraan pentas seni di sekolah saya ditunda karena para pengisi acara belum siap.
7. Hubungan 'akibat'
Kata penghubung yang digunakan adalah sehingga, sampai, maka.
• Pada saat ini harga buku memang sangat mahal sehingga kami tidak sanggup membelinya.
8. Hubungan 'cara'
Kata penghubung yang digunakan adalah dengan.
• Ia merangkai bunga-bunga itu dengan penuh konsentrasi.
9. Hubungan 'sangkalan'
Kata penghubung yang digunakan adalah seolah-olah, seakan-akan.
• Anak itu diam saja seolah-olah dia tidak melakukannya.
10. Hubungan 'kenyataan'
Kata penghubung yang digunakan adalah padahal, sedangkan.
• Dia pura-pura tidak tahu, padahal dia tahu banyak hal.
11. Hubungan 'hasil'
Kata penghubung yang digunakan adalah makanya.
• Wajah Tono cemberut, makanya saya takut untuk mendekatinya.
12. Hubungan 'penjelasan'
Kata penghubung yang digunakan adalah bahwa.
• Ia tidak tahu bahwa ayahnya seorang karyawan teladan.

C. Kalimat Majemuk Kompleks (kalimat majemuk campuran)
Kalimat majemuk kompleks adalah kalimat majemuk yang terdiri atas tiga klausa atau lebih, di mana ada klausa yang dihubungkan secara koordinatif dan ada pula yang dihubungkan secara subordinatif. Dengan kata lain kalimat ini merupakan percampuran antara kalimat majemuk koordinatif dengan kalimat majemuk subordinatif atau biasa juga disebut dengan istilah kalimat majemuk campuran.
Contoh :
• Nenek membaca majalah ketika kakek pergi ke pasar dan tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.
• Karena ayah sedang kesulitan, kakek mengambil uang di tabungan dan memberikannya kepada ayah.

Demikian sedikit pembahasan dan contoh tentang KALIMAT TUNGGAL DAN KALIMAT MAJEMUK, semoga memberi pencerahan bagi kita semua
 http://galanx-ragalofo.blogspot.com/2012/04/kalimat-tunggal-dan-kalimat-majemuk.html